Sentimen Vaksin Covid, IHSG Diprediksi Menguat Pekan Depan

Tempo.co Dipublikasikan 10.27, 12/07 • Ali Akhmad Noor Hidayat
Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini parkir di zona hijau. TEMPO/Tony Hartawan
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan IHSG berpeluang terkonsolidasi menguat sepanjang sepekan ke depan.

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan berpeluang terkonsolidasi menguat sepanjang sepekan ke depan. "IHSG berpeluang konsolidasi menguat setelah kenaikan di awal pekan lalu dengan support di level 4.985 sampai 4.885 dan resistance di level 5.111 sampai 5.150," ujar Hans dalam keterangan tertulis kepada Tempo, Ahad, 12 Juli 2020.

Hans mengatakan pasar pada awal pekan akan masih diwarnai kekhawatiran akan lonjakan kasus covid-19 yang telah mendorong potensi lockdown di beberapa negara. Selain itu ada sentimen negatif dari kasus covid 19 di Indonesia yang masih menunjukan tren naik dan belum memberikan tanda-tanda puncak.

Kemarin, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan adanya penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 1.671 kasus. Dengan demikian, hingga Sabtu, 11 Juli 2020 pukul 12.00 WIB, ada 74.018 kasus Covid-19 di Tanah Air, sejak pertama kali wabah tersebut diumumkan pemerintah.

Di sisi lain, menurut Hans, perkembangan penelitian obat dan vaksin covid 19 memberikan sentimen positif pada pasar keuangan. Ia berujar perkembangan obat remdesivir yang diteliti oleh Gilead Sciences menjadi sentimen positif pasar. Di samping itu, perkembangan vaksin Covid 19, salah satunya dari Moderna yang akan memasuki fase 3, juga menjadi sentimen positif bagi pasar. "Tetapi vaksin harus melewati 4 fase sebelum diproduksi massal," tutur Hans.

Berikutnya, Hans mengatakan lonjakan kasus virus Covid-19 dan perintah Mahkamah Agung untuk membuka catatan keuangan Presiden AS Donald Trump, membuat peluang Trump terpilih kembali menjadi lebih sulit karena berpotensi mengungkap sesuatu yang buruk. Hal tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

Di sisi lain, pasar punya ekspektasi yang tinggi bahwa dana pemulihan virus Covid 19-sebesar 750 miliar euro atau sekitar US$ 851,70 miliar akan disetujui oleh negara-negara anggota Zona Eropa di bulan Juli.

Sentimen lainnya, kata Hans, adalah data perkembangan perseroan di triwulan II 2020. "Memasuki bulan Juli pelaku pasar menanti data laba korporasi untuk Kuartal kedua," tutur dia. Apabila laporan laba tersebut lebih baik dari harapan pelaku pasar, maka akan mendorong pergerakan yang positif. Namun, apabila terjadi sebaliknya, maka akan akan cenderung mendorong pasar saham terkoreksi.

Terakhir, perbaikan data ekonomi Cina akan membawa sentimen baik pada pasar. Kata dia, spekulasi bahwa Negeri Tirai Bambu sedang menggunakan kekuatan internal domestik untuk mendukung ekonomi yang terdampak pandemi virus corona serta sengketa perdagangan dengan AS menjadi sentimen positif di pasar.

Pada Jumat, 10 Juli 2020, IHSG ditutup di zona merah kendati investor asing mencatat aksi beli bersih senilai hampir Rp 100 miliar. Pada perdagangan akhir pekan ini, IHSG ditutup ditutup di level 5.031,26 dengan pelemahan 0,43 persen atau 21,54 poin dari perdagangan sehari sebelumnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatat aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 95,58 miliar, setelah membukukan aksi jual bersih (net sell) pada perdagangan sebelumnya. Aksi beli oleh investor asing pada penghujung pekan ini tercatat sekitar 1,34 miliar lembar saham dengan nilai Rp 1,71 triliun. Adapun, aksi jual oleh investor asing tercatat 1,6 miliar lembar saham senilai Rp 1,62 triliun.

Adapun total nilai transaksi yang terjadi di lantai bursa Jumat lalu mencapai sekitar Rp 6,65 triliun. Sedangkan volume perdagangan tercatat sekitar 8,98 miliar lembar saham.

CAESAR AKBAR | BISNIS

Artikel Asli