Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian I)

Historia.id Diupdate 10.45, 04/07 • Dipublikasikan 10.45, 04/07 • historia.id
Stabschef (kolonel jenderal) Ernst Julius Günther Röhm (kanan) dibidik Hitler dalam operasi “Malam Belati Panjang” (Foto: Bundesarchiv)

BUNUH diri atau dibunuh. Dua opsi getir dari Adolf Hitler itu diterima Ernst Röhm di selnya di Penjara Stadelheim, Munich pada 1 Juli 1934 dari dua opsir Schutzstaffel (SS) Brigadeführer Theodor Eicke dan Obersturmbannführer Michael Lippert. Röhm, mantan stabschef (setara kolonel jenderal) pasukan Sturmabteilung (SA, sayap militer Partai Nazi), lantas diberi sepucuk pistol Browning dengan sebutir peluru.

“Jika saya ingin dibunuh, biar Adolf sendiri yang melakukannya!” kata Röhm menantang kedua opsir itu sembari menepuk dada telanjangnya, dikutip William L. Shirer dalam The Rise and Fall of the Third Reich.

Mendengar itu, Eicke dan Lippert terpaksa menembak sang menteri zonder portfolio di tempat. Melayanglah nyawa mantan tangan kanan Hitler di sore itu, sekira pukul 14.20.

Röhm ditangkap dalam operasi Nacht der langen Messer atau “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934), operasi gerakan pembersihan SA yang dilancarkan Hitler yang baru setahun naik jadi kanselir. Röhm yang penyuka sesama jenis alias gay itu memang bukan jenderal lulusan akademi militer.

Penyingkiran mantan ketua SA itu berbuntut pada “pembersihan” jenderal-jenderal lain yang dianggap anti-Nazi dalam lingkaran rezim. Pembersihan dimulai dari sekadar didinonjobkan hingga dieksekusi. Berikut enam dari selusin jenderal di antaranya:

Kurt von Schleicher

General der Infanterie Kurt Ferdinand Friedrich Hermann von Schleicher, Kanselir Jerman sebelum Hitler (Foto: Bundesarchiv)

Jenderal jebolan Akademi Militer Prussia yang pada era pemerintahan Republik Weimar menjabat Kanselir Jerman ini terpaksa legowo ketika Presiden Paul von Hindenburg melengserkannya untuk digantikan Hitler pada 1933. Tetapi Schleicher masih menjajal peruntungannya untuk masuk kabinet Hitler dengan mencoba memediasi konflik antara Röhm, ketua SA, dengan sejumlah perwira militer. Tetapi bukannya simpati, Hitler malah memasukkannya ke daftar “pembersihan” bersama Röhm.

Menukil John W. Wheeler-Bennett dalam Nemesis of Power: The German Army in Politics, 1918-1945, Hitler punya dua motif untuk menyingkirkannya. Pertama, untuk memutus gangguan para simpatisan Schleicher di kemiliteran Jerman dan kedua, Schleicher sebelumnya sering mengkritik kabinet Hitler.

Alasan Schleicher mengkritik yakni, agar ia bisa masuk ke kabinet. Ia bahkan pernah  dua kali mengirim surat berisi daftar nama-nama yang mestinya masuk kabinet Hitler, melalui perantaraan kolega setianya, Generalmajor Ferdinand von Bredow, kepala Abwehr (Dinas Intelijen Militer Jerman).

Hitler yang terusik pun memerintahkan Direktur Gestapo Obergruppenführer (setara kolonel jenderal) Reinhard Heydrich untuk “membereskannya”. Perintah itu lantas dioper ke bawahannya, Johannes Schmidt.

Saat tengah menerima telepon dari temannya pukul 10.30 usai sarapan di vilanya di Postdam pada 30 Juni 1934, Schleicher membukakan pintu untuk tamunya. Seketika dua timah panas menembus tubuhnya hingga ambruk. Elisabeth istrinya yang histeris dan langsung berlari ke arah Schleicher, turut dieksekusi Schmidt.

Ferdinand von Bredow

Generalmajor Ferdinand von Bredow, kepala Abwehr yang dilenyapkan Hitler (Foto: Bundesarchiv)

Dari sekian perwira dalam pemerintahan Kanselir Schleicher (1932-1933), Generalmajor Von Bredow merupakan yang paling setia dengan menjabat sebagai wakil menteri pertahanan. Bredow pula yang acap jadi pengantar surat Schleicher berisi tawaran reshuffle kabinet Hitler, saat Hitler sudah menggantikan Schleicher.

“Dalam daftar itu, terdapat nama Scheicher sebagai wakil kanselir, Röhm sebagai menteri pertahanan, Gregor Strasser untuk posisi menteri ekonomi, serta Heinrich Brüning menjadi menteri luar negeri,” sambung Wheeler-Bennett.

Namun Hitler justru terusik dengannya. Selain menyingkirkan Schleicher, ia juga mencopot Bredow yang juga menjabat sebagai Kepala Abwehr. Bredow merupakan rival bagi dua antek Hitler, Hermann Goering dan Heinrich Himmler. 

Goering dan Himmler lalu merekayasa laporan bahwa Bredow berkonspirasi dengan Röhm, yang juga musuh Goering-Himmler, untuk menggulingkan pemerintahan Hitler dengan bantuan Duta Besar Prancis untuk Jerman André François-Poncet. Laporan itu dipercaya Hitler yang lantas memasukkan nama Bredow ke daftar musuh politik yang mesti disingkirkan dalam “Malam Belati Panjang”.

Di hari kala Schleicher dibunuh, 30 Juni 1934, Bredow sudah tahu bahwa dia pun bakal jadi target berikutnya. Namun tawaran perlindungan di sebuah kedutaan dari seorang koleganya yang menjadi atase militer ditampiknya.

“Tidak. Lebih baik saya pulang. Mereka telah membunuh atasan saya (Schleicher). Apa yang tersisa buat saya?” tutur Bredow, dikutip Wheeler-Bennett lagi. Ia pun lantas menyusul Schleicher ketika malam 30 Juni 1934 sejumlah pasukan SS menyatroni kediamannya dan menembaknya.

Kurt von Hammerstein-Equord

Kolase Generaloberst Kurt Gebhard Adolf Philipp Freiherr von Hammerstein-Equord (Foto: gdw-berlin.de)

Pembersihan dalam “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934) yang dilancarkan Hitler menyasar sejumlah eks militer yang dihormati di kalangan Reichswehr (Angkatan Bersenjata Jerman, pendahulu Wehrmacht). Panglima komando angkatan darat Generaloberst (kolonel jenderal) Hammerstein-Equord salah satu perwira yang paling lantang memprotesnya. Bersama veteran Marsekal August von Mackensen, Equrd mengirim memo pada 18 Juli 1934 sebagai bentuk protesnya ke Presiden Hindenburg.

Pembangkangan Equord yang paling bikin kesal Hitler adalah ketika sang jenderal sengaja melanggar perintah Hitler, di mana semua perwira aktif dilarang menghadiri pemakaman Schleicher. Sebagai hukumannya, Equord dimutasi ke Grup A AD Jerman, lalu ke Distrik Pertahanan VIII di Silesia. Akibat sikapnya yang anti terhadap antisemit dan kejahatan perang, ia dipecat. Hidupnya tak pernah tenang setelah itu lantaran terus dikuntit agen-agen Gestapo.

Kendati begitu, sejarawan Udo von Alvensleben yang pernah menjenguknya di kediamannya di Distrik Dahlem, Berlin, pada Februari 1943, menulis di dalam Lauter Abschiede: Tagebuch im Krieg (terj. Farewell: Diary in War) bahwa Hammerstein-Equord tak pernah segan mengkritik dan mengecam kebijakan-kebijakan rezim Hitler di masa perang.

“Saya merasa malu selama berdinas di angkatan darat, di mana saya menyaksikan dan dipaksa mentolelir kejahatan-kejahatan perang,” ucapnya dikutip Alvensleben. Sang jenderal akhirnya berpulang pada 24 April 1943 setelah delapan hari mengalami koma yang merupakan klimaks dari penyakit kankernya.

Werner von Blomberg

Generalfeldmarschall Werner Eduard Fritz von Blomberg (kedua dari kanan) (Foto: Bundesarchiv)

Marsekal oportunis ini punya musuh “depan-belakang”. Sebelum Hitler berkuasa, ia merupakan musuh politik Schleicher dan sempat disingkirkan sehingga mencari dukungan Hitler lewat SA di Prusia Timur. Blomberg yang punya banyak koneksi di Reichswehr lalu dimanfaatkan Hitler untuk merayu kalangan militer agar mendesak Presiden Hindenburg melengserkan Schleicher dari kursi kanselir.

Ketika Hitler naik jadi kanselir pada Januari 1933, Blomberg kebagian jabatan menteri pertahanan (menhan). Ia pun “bersih-bersih” di kementeriannya dari para simpatisan Schleicher, termasuk mendepak Kepala Abwehr Jenderal Bredow. Ia juga memecat semua prajurit yang punya darah atau hubungan apapun dengan golongan Yahudi.

Ketika Presiden Hindenburg wafat pada 2 Agustus 1934, Blomberg mengubah kewajiban dalam sumpah prajurit, dari terhadap rakyat dan tanah air menjadi sumpah terhadap Hitler selaku Der Führer (pemimpin). Sejak saat itu pula lambang swastika simbol Nazi disematkan di semua seragam militer Jerman.

Andai saja ia tak keberatan akan keinginan Hitler memulai agresi ke Balkan dan Eropa Timur pada 1938, mungkin nasibnya beruntung. Bersama Menlu Konstantin von Neurath dan Panglima AD Jerman Jenderal Werner von Fritsch, di sebuah konferensi di Berlin, 5 November 1937, Blomberg menyatakan konsekuensi logis jika Jerman melancarkan agresi ketika kekuatan militer Jerman belum mumpuni.

“Blomberg keberatan karena jika agresi ke Eropa Timur dijalankan, dikhawatirkan akan memicu perang berskala besar dengan Prancis, mengingat persekutuan Prancis di kawasan itu. Jika Jerman berperang dengan Prancis, maka Inggris akan ikut campur. Blomberg merasa Hitler harus sedikit lebih sabar menanti dibangunnya kekuatan militer Jerman,” tulis Gerhard Weinberg dalam The Foreign Policy of Hitler’s Germany: Diplomatic Revolution in Europe.

Ketika mendengar kelanjutan penjelasan Blomberg bahwa paling cepat militer Jerman baru akan mumpuni melancarkan perang berskala besar pada 1942, Hitler murka. Kekesalan Hitler ini jadi “amunisi” buat Himmler dan Goering yang sejak lama ingin mendongkel Blomberg. Kedua pentolan SS itu berfriksi dengan Blomberg sejalan dengan saling memata-matai antara Reichswehr dan SS pada 1934-1935.

Kesempatan itu tak disia-siakan Himmler dan Goering. Tak lama setelah Blomberg meminang istri keduanya, Erna Gruhn, duet Himmler-Goering mengorek info di arsip kepolisian dan menemukan fakta bahwa Gruhn punya catatan kriminal panjang namun “dipetieskan” Blomberg. Selain punya catatan kejahatan, Gruhn juga seorang anak haram dari seorang ibu yang pelacur. Himmler-Goering langsung “menggoreng” isu itu hingga sampai ke telinga Hitler.

Isu itu dimainkan tepat waktu, sebelum Blomberg mengikat hubungan besan politis dengan Marsekal Wilhelm Keitel, di mana putri Blomberg, Dorothea, hendak dipersunting Karl-Heinz, putra sulung Keitel. Goering mengancam Blomberg untuk membatalkan pernikahan itu dan jika tidak, dokumen itu akan diedarkan secara luas ke publik.

Hitler yang juga malu setuju usul Goering bahwa Blomberg harus dicopot dari jabatannya dan digantikan Keitel. Karier Blomberg pun habis. Saat Perang Dunia II, Blomberg yang menolak pensiun, dinonjobkan. Blomberg lantas menemui ajalnya di kamar tahanan di tengah-tengah Pengadilan Nuremberg, 13 Maret 1946, akibat kanker usus.

Alexander von Falkenhausen

General der Infanterie Alexander Ernst Alfred Hermann Freiherr von Falkenhausen (Foto: Bundesarchiv)

Ketika terjadi badai politik saat transisi rezim di negerinya, Jenderal (purn) Falkenhausen nyaris tak terpengaruh sedikitpun. Toh ketika Hitler naik jadi kanselir pada 1933, ia sudah pensiun. Ia baru aktif lagi sejak ditugaskan sebagai penasihat militer Chiang Kai-shek di China sebagai bagian dari Kerjasama Sino-Jerman yang dijalankan sejak 1926.

Meski sudah berjasa besar pada militer China, Falkenhausen diusir Chiang sebagai imbas aliansi Jerman-Jepang pada 1937. Sepulangnya ke Jerman, pangkat Falkenhausen diaktifkan kembali untuk ditugaskan sebagai gubernur militer di Belgia. Di sinilah hulu kebencian Falkenhausen pada Hitler bermula.

Sebagai gubernur militer, ia acap beradu argumen dengan para perwira SS yang memperlakukan Yahudi Belgia dengan brutal. Falkenhausen berulangkali mencegah deportasi puluhan ribu Yahudi ke kamp konsentrasi. Otoritasnya baru terbantahkan ketika Kepala RSHA (Kantor Keamanan Jerman-Nazi yang membawahi SS dan Gestapo) Obergruppenführer Reinhard Heydrich turun tangan.

Dari negosiasi antara Falkenhausen dibantu deputi bidang ekonominya Eggert Reeder, sekira 2.200 Yahudi Belgia yang hendak dikirim ke kamp konsentrasi, bisa “dialihkan” menjadi pekerja paksa di utara Prancis untuk membangun Tembok Atlantik. Maka ketika Carl Goerdeler, teman dekatnya yang politikus anti-Nazi, dan Generaldfeldmarschall Erwin von Witzleben mengajaknya ikut berkonspirasi menggulingkan Hitler, Falkenhausen memberi dukungan.

“Dia dengan senang hati menawarkan bantuan perencanaan kudeta terhadap Hitler meski pada akhirnya tak ikut terjun langsung pada aksi kudetanya. Ketika percobaan pembunuhan (Hitler) oleh kelompok Plot 20 Juli (1944) gagal, Falkenhausen turut ditahan Gestapo,” ungkap Samuel W. Mitcham Jr. dalam Retreat to the Reich: The German Defeat in France, 1944.

Dari Belgia, ia dan sejumlah anggota komplotan dikirim ke kamp konsentrasi di Dachau atas perintah Hitler. Beruntung bagi Falkenhausen, jalannya perang sudah mendekati akhir dan pada 5 Mei 1945, Falkenhausen bersama 140 tahanan lainnya dibebaskan pasukan Amerika Serikat.

Hans Oster

Kolase Generalmajor Hans Paul Oster (Foto: Bundesarchiv)

Lima tahun lamanya Wakil Ketua Abwehr Generalmajor Hans Oster terpaksa menyimpan rahasia konspirasi membidik nyawa Hitler hingga akhirnya kandas dan berakhir di tiang gantung. Oster sejatinya sudah punya rencana membunuh Hitler sejak September 1938 ketika masih berpangkat oberstleutnant (letnan kolonel).

Motif kebencian Oster terhadap Hitler setali tiga uang dengan Hammerstein-Equord. Oster mulanya patuh pada rezim baru Hitler. Kemunculan operasi pembersihan “Malam Belati Panjang” yang menewaskan sejumlah perwira militer dan politikus oposisi membuat pendiriannya berubah. Terlebih, dalam operasi itu seniornya, Jenderal Bredow, turut dihabisi Hitler.

Ketika mendengar Hitler mencanangkan invasi ke Cekoslovakia dan Sudetenland (kini masuk wilayah Republik Ceko), kedengkiannya terhadap Hitler makin menjadi-jadi. Ia khawatir jika agresi itu dilancarkan hasilnya bakal getir dan hanya akan ada kehancuran bagi Jerman. Untuk menghentikan rencana Hitler, tiada kata lain buat Oster selain melenyapkan Der Führer.

Menukil Nigel Jones dalam Countdown to Valkyrie: The July Plot to Assassinate Hitler, Oster lebih dulu berkonsultasi dengan senior lain Jenderal Ludwig Beck, yang kelak menjadi atasan Kolonel Claus von Stauffenberg dalam pengeboman markas Hitler pada 20 Juli 1944. Bersama Mayor Helmuth Groscurth, bawahannya di Abwehr, Oster lantas meracik skema pembunuhan Hitler sebelum invasi ke Sudetenland dan Cekoslovakia.

“Rencananya adalah menyerbu Gedung Kekanseliran dengan pasukan pimpinan Mayor Hans-Jürgen von Blumenthal yang direkomendasikan Beck dan membunuh Hitler. Para konspirator juga dibantu diplomat Ernst von Weizsacker dan Kordt bersaudara: Theodor dan Erich,” tulis Jones.

Kordt bersaudara yang dianggap jadi kunci penting gerakan untuk berhubungan dengan pihak Inggris, ternyata juga jadi kelemahan rencana itu lantaran gerakan baru bisa bergulir jika Inggris menentang invasi Jerman ke Cekoslovakia dan Sudetenland. Rencana gerakan pun berubah lantaran Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain malah bernegosiasi damai ketika Cekoslovakia dan Sudetenland diinvasi Hitler.

Rencana gerakan komplotan Oster pun layu sebelum berkembang meski sama sekali tak tercium Gestapo hingga terjadinya pemboman 20 Juli 1944 oleh komplotan Beck yang dilakoni Stauffenberg. Dari catatan harian Laksamana Canaris, salah satu anggota Plot 20 Juli, yang disita Gestapo, terbukalah rahasia Oster itu. Atas perintah Hitler, Oster ditahan dan kemudian dimajukan ke regu tembak pada 8 April 1945 bersamaan dengan eksekusi terhadap Canaris.

(Bersambung)

Artikel Asli