Selamat Jalan, Dokter Andhika

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 06.55, 03/08 • Joko Sadewo
Israr Itah
Israr Itah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Israr Itah*

Benarlah adanya, kita baru tersentuh sesuatu yang pernah bersinggungan dengan hati, pikiran, atau pengalaman hidup kita. Begitu pula yang terjadi pada saya Senin (3/8) pagi ini. Saya tak bisa menahan air mata kesedihan sesaat setelah menelepon abang saya di Medan. Abang saya mengonfirmasi kebenaran foto yang baru saya lihat dalam satu unggahan Twitter pagi ini. Dokter Andhika yang meninggal di Medan akibat terpapar Covid-19 adalah dokter yang membantu pengobatan ayah saya sebelum meninggal.

Dokter Andhika meninggal pada Sabtu (1/8) setelah berjuang melawan Covid-19 selama dua pekan. Saya hanya mengetahui sekilas kabar ini karena sedang libur. Biasanya saat libur, saya agak menjaga jarak dari berita dari media ataupun media sosial. Sebab, setiap hari kerja saya bersinggungan dengan segala macam berita.

Bukan tak ada empati juga saat mengetahui sang dokter yang beroperasi di daerah asal saya meninggal. Sudah terlalu banyak dokter menemui Sang Pencipta akibat Covid-19. Perasaan sedih yang menyelinap di hati dan bertahan beberapa saat ketika mendengar petugas kesehatan meninggal pada awal-awal pandemi, perlahan makin berkurang kalau tidak boleh dibilang hilang.

Namun, pagi ini, saya tak kuasa membendung air mata mengalir. Ada perasaan sedih luar biasa mengetahui dokter yang meninggal adalah sosok yang pernah saya kenal dan selalu saya ingat kebaikannya.

Andhika Kesuma Putra nama lengkapnya. Ia dokter spesialis paru lulusan Universitas Sumatera Utara asal Riau. Di Medan, dia termasuk dokter beken. Bicaranya ceplas ceplos. Terkadang ketus. Tapi dia tipikal dokter yang memberikan solusi dan ringat tangan. Bagi yang baru mengenal mungkin mangkel atau baper. Tapi tambahlah waktu berkomunikasi dengannya, kita akan merasakan bahwa dokter Andhika orang yang straight to the point dan solutif.

Dokter Andhika menjadi sosok penting dalam keluarga kami pada akhir 2017. Saat itu, ayah saya yang sudah kepayahan berjalan dan bergerak karena nafasnya tak lancar menyerah. Ia menelepon saya untuk pulang ke Binjai. Ayah ingin saya menemaninya di rumah sakit. Selama ini, beliau selalu menolak dirawat. Makanya, ketika ada permintaan seperti itu, sudah pasti kondisinya memang sudah berat dan saya mesti pulang. Setelah mendapatkan izin dari atasan di kantor, saya pulang untuk membantu mengurus beliau.

Ketika itu ayah saya dirawat di salah rumah sakit di Binjai, sekitar 20 km dari Kota Medan. Ayah hanya diberikan selang oksigen dan sejumlah obat penahan sakit. Tindakan medis menurut saya sangat lamban karena harus menunggu pemeriksaan dokter penyakit dalam yang jadwalnya terbatas. Saat bertemu dokter, nyaris tak ada solusi. Sang dokter hanya berbicara sebentar meminta ayah dan kami menunggu perkembangan kondisi, yang entah apa maksudnya. Padahal setiap hari kondisi ayah semakin memburuk. Kami akhirnya memutuskan untuk membawanya ke Medan agar mendapatkan perawatan yang lebih baik. Tapi sejumlah rumah sakit yang kami tuju penuh.

Abang saya yang tertua kebetulan punya banyak kenalan dokter. Ketika itu, ia masih menjadi salah satu manajer di perusahaan farmasi besar. Dari banyak kenalannya, abang mengontak dokter Andhika. Selain lumayan dekat karena urusan kerjaan, abang tampaknya paham dokter Andhika pasti akan mengulurkan tangan membantu kami.

Benar saja, dokter Andhika mengontak manajemen salah satu rumah sakit tempatnya bekerja. Ia meminta disediakan kamar untuk perawatan ayah saya. Dokter Andhika sendiri yang akan menangani ayah. Kami sempat ditahan rumah sakit di Binjai, tapi setelah saya beradu argumen dan sedikit memaksa, kami diizinkan membawa ayah keluar. Itu pun dengan sedikit drama, berjam-jam menunggu ambulans siap untuk membawa kami ke Medan.

Sampai di rumah sakit rekomendasi dokter Andhika, kami diterima dengan sangat baik. Ayah diterima di UGD dan langsung dirontgen. Dalam 24 jam, kami mengetahui kalau ada cairan di paru-paru ayah. Itulah yang menjadi penyebab beliau susah bernafas.

Dokter Andhika bergerak cepat, hanya selang sehari, ia mengoperasi ayah. Ia membuat lubang di dekat dada untuk mengalirkan cairan dan ditampung ke dalam kantung. Bila sudah penuh, kantung diganti.

Kondisi ayah langsung mengalami kemajuan. Esoknya, ayah sudah bisa bergerak lebih leluasa dan bicara lebih bebas tanpa terengah-engah. Kondisinya yang membaik membuat ayah ingin pulang. Beliau memaksa. Kami anak-anaknya berusaha keras menahan, tapi hanya tahan beberapa hari. Setelah berkonsultasi, dokter Andhika memberikan izin pulang, tapi dengan syarat harus cepat kembali jika kondisinya kembali memburuk.

Dalam fase perawatan itu, saya beberapa kali berbicara dengan dokter Andhika bersama abang saya. Wajahnya datar saja saat menjawab pertanyaan kami atau memberikan keterangan seputar penyakit ayah. Ia mencurigai ayah terkena kanker paru. Dokter Andhika menyarankan cairan dari paru-paru ayah diperiksa di lab yang lebih baik. Ia juga tak gengsi untuk memberikan rekomendasi agar ayah dirawat oleh kolega sekaligus seniornya. Menurut dokter Andhika, seniornya ini mungkin bisa memberikan gambaran lain dan dapat membantu lebih baik darinya.

Hasil lab ternyata negatif. Ayah tak menderita kanker. Namun fungsi parunya hanya tinggal 20 persen dan terus menurun. Pengurasan cairan dari paru-parunya sudah tak banyak menolong. Ayah akhirnya berpulang pada November 2017 setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit yang direkomendasikan dokter Andhika.

Kenangan ini berkelebat saat menyaksikan foto dokter Andhika yang kini sudah menyusul ayah. "Dia bilang seperti bercanda ingin syahid membantu pasien Covid-19. Di rumah sakit tempat praktiknya kebetulan salah satu yang paling banyak merawat pasien Covid-19. Grup WA kami juga kaget mendengar kabar ini," kata abang di ujung telepon.

Dokter Andhika memilih jalan terbaiknya menemui Sang Pencipta seperti prinsip hidupnya selama ini, menolong orang semampu yang ia bisa. Selamat jalan, dokter Andhika! Amal baik Anda, Insya Allah akan mendapatkan balasan sepadan.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

Artikel Asli