Selamat Berpulang Mas Djaduk...

Kompas.com Dipublikasikan 22.16, 13/11/2019 • Rachmawati
KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA
Para pelayat saat mendoakan Almarhum Djaduk Ferianto di rumah duka Kembaran, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Rabu (13/11/2019)

KOMPAS.com - Waktu menunjukkan jam 24.00 WIB. Djaduk Ferianto pulang ke rumah usah memimpin rapat untuk pagelaran Ngayogjazz 2019 yang dijadwalkan akan digelar pada Sabtu, 16 November 2019 nanti.

Tiba di rumah, Djaduk langsung beristirahat. Tidak lama kemudian dia terbangun dan merasa kesakitan. Saat itu ia merasa kesemutan dan bicaranya sudah tidak jelas.

Djaduk mendapatkan serangan jantung. Pihak keluaga segera memanggil dokter dari RS JIH untuk memeriksa.

Dokter yang memeriksa memastikan bahwa Djaduk meninggal dunia.

Rabu (13/11/2019) sekitar pukul 02.30 WIB, seniman kelahiran Yogyakarya itu meninggal di pangkuan istrinya d usia 55 tahun.

Baca juga: Butet Kartaredjasa: Djaduk Meninggal Dunia di Pangkuan Istri

 

Di makamkan dekat pusara sang ayah

Sekitar pukup 10.48 WIB, peti jenazah Djaduk Ferianto diusung dari dalam rumah duka. Dengan menggunakan ambulans, jenazah Djaduk dibawa ke Padepokan Seni Bagong Kuusdiardja untuk disemayamkan.

Di padepokan tersebut, dilaksanakan misa requiem yang dipimpin oleh Romo Gregorius Budi Subanar, SJ.

Sekitar pukul 15.51 WIB, ambulans yang membawa peti mati Djaduk tiba di makam keluarga Sembungan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Baca juga: Djaduk Ferianto Dimakamkan di Dekat Pusara Bagong Kussudiardja

Makam keluarga tersebut tak jauh dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

Prosesi pemakaman inisiator gelaran Ngayogjazz selesai sekitar pukul 17.30 WIB.

"Atas nama keluarga, saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas kesediaan dan waktunya bersama-sama disini, mengantar Bapak pulang," ujar putra nomor tiga almarhum Djaduk Ferianto, Gallus Presiden Dewagana usai upacara pemakaman, Rabu (13/11/2019).

Baca juga: Cerita Keluarga tentang Djaduk Ferianto yang Suka Guyon dan Mem-bully

 

Seniman sejati

Djaduk lahir dari keluarga seniman di Yogyakarta pada 19 Juli 1964 silam.

Ayahnya Bagong Kussudiarja adalah seorang koreografer dan pelukis senior. Ia memiliki padepokan seni yang digunakan sebagai pusat latihan tari.

Djaduk adalah adik bungsu dari Butet Kartaredjasa.

Pada tahun 1972, pria jebolan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta itu mendirikan kelompok musik anak-anak Rheze dan grup musik Wathathitha di Taman Madya Taman Siswa.

Grup yang dibentuk Djaduk, Wathathitha keluar sebagai Juara I Lomba Musik Humor Tingkat Nasional pada tahun 1978.

Baca juga: INFOGRAFIK: Selamat Jalan Mas Djaduk…

Dilansir dari pemberitaan Kompas.com, Rabu (13/11/2019)), Djaduk membentuk Orkes Keroncong Sinten Remen yang dilebur dari dua grup keroncong binaan Djaduk.

Selain Sinten Remen, Djaduk juga membina grup musuk Kua Etnika.

Selama ini Djaduk dikenal sangat piawai mengolah musik kolaborasi  antara tradisonal dan modern. Ia juga membuat lagu rohani di album Dia Sumber Gembiraku.

Baca juga: Mengenang Seniman Musik Djaduk Ferianto…

 

Menggagas Ngayogjazz

Djaduk bersama rekan-rekan seniman di Yogyakarta menggagas festival musik Ngayogjazz. Acara musik tersebut digelar di desa-desa.

Kepada Jodhi Yudono, penulis di Catatan Kaki Jodhi Yudono diKompas.com, Kamis (24/10/2013), Djaduk smepat menggambarkan arti dari menghadirkan musik jazz di desa.

"Sekarang saya menjadi penggagas sebuah event dan punya beberapa ruang di festival seperti Ngayogjazz, Jazz Gunung, kemudian ada yang berskala dunia dan punya jaringan ke internasional, tetapi semua saya meyakini basik saya adalah tradisi."

Baca juga: Mendiang Djaduk Ferianto, Menjawab Tantangan Zaman dengan Ngayogjazz

"Kami melihat potensi yang luar biasa di tradisi itu, hanya memang persoalan yang muncul adalah tarik-ulur. Kami mempercayai tradisi kan selalu berkembang, jadi kami sangat membuka diri pada tradisi, karena kami juga tidak mau terkungkung dalam tradisi," kata Djaduk kepada Jodhi Yudono, kala itu.

"Kami akhirnya bergaul dengan tradisi-tradisi lain untuk menjawab suatu tantangan. Kami harus mengembangkan tradisi itu, yang tidak ada harus kita bangun yang baru, yang sudah tidak zamannya kita buang."

Baca juga: Djaduk Ferianto Meninggal, Keluarga Keraton Datang Melayat

 

"Djaduk orang baik"

Di mata keluarga, Djaduk adalah sosok yang baik dan perhatian pada keluarga.

"Djaduk itu orangnya baik," kakak Kandung Djaduk Ferianto Otok Bima Sidharta saat ditemui dirumah duka Kembaran, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Rabu (13/11/2019)

Otok bercerita bahwa adik bungsunya adalah pribadi yang serius saat mengerjakan apapun. Namun Djaduk juga sosok yang humoris dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Menurutnya, Djaduk memilih berkecimpung di kesenian walaupun sang ayah tidak pernah memaksa anaknya mengikuti jejaknya.

Baca juga: Menteri hingga Gubernur Kirim Karangan Bunga untuk Keluarga Djaduk Ferianto

Dari tujuh bersaudara, ada empat anak Bagong Kussudiardjo yang berkecimpung di dunia kesenian.

"Yang menjadi seniman ada tiga orang, sebenarnya empat, tetapi satu sudah meninggal. Ada Mba Ita seniman tari, saya karawitan, Butet seni monolog dan segala macam seni, kemudian Djaduk seni musik," tegasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Butet Kartaredjasa. Ia mengatakan kakaknya sangat serius menggarap Ngayogjazz 2019.

Ia mengatakan, pada acara yang digelar 3 hari lagi itu, Djaduk sudah meminta penggagas Ngayogjazz untuk naik ke panggung mendampingi Menko Polhukam Mahfud MD membuka acara tersebut.

Baca juga: Cerita Butet Saat Djaduk Temukan Melodi untuk Dimainkan di Afrika Selatan

"Dia memang dikenal pekerja keras, penuh disiplin, menyiapkan segala sesuatunya secara perfeksionis," ucapnya.

"Sehingga saya bisa memahami dari setiap persiapan-persiapan yang dilakukan itu menyedot energy, menyedot konsentrasi yang berlebih dari dosisnya. Dan itulah Djaduk," tambahnya.

Butet berharap, Ngayogjazz bisa terus dilanjutkan walaupun Djaduk telah meninggal

Gelaran Ngayogjazz 2019 rencananya digelar pada Sabtu (16/11/2019) di Padukuhan Kwagon, Desa Sidorejo Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman.

"Yang pasti mudah-mudahan Ngayogjazz bisa terus diwujudkan, dilaksanakan tanggal 16 November ini sebagai monumen terakhirnya Djaduk," ujarnya.

*Baca juga: Djaduk Ferianto Meninggal, Glenn Fredly Sedih dan Merasa Kehilangan *

 

Rencana tampil di Afrika Selatan

Djaduk dijadwalkan akan tampil di Cape Town, Afrika Selatan, pada akhir Maret 2020. Rencananya ia akan berkolaborasi dengan dengan vokalis dan musik perkusi dari Johannesburg dan Cape Town.

Bahkan Djaduk dan kakanya, Butet sempat pergi ke Table Mountain, Afrika Selatan.

Kala itu, Djaduk bercerita pada kakaknya bahwa ia sudah menemukan melodi yang akan dimainkan di Cape Town Jazz.

Djaduk melaporkan kepada saya kalau dia sudah menemukan melodi yang akan dimainkan untuk satu komposisi, kolaborasi dengan para pemusik dari Afrika itu. Dia lalu bersiul-siul dan direkam melodi itu," katanya.

Baca juga: Belajar dari Wafatnya Djaduk Ferianto, Ini 15 Cara Mudah Jaga Jantung Tetap Sehat

Setelah Djaduk meninggal, Butet izin kepada istri Djaduk untuk membuka ponselnya agar bisa mencari melodi tersebut.

Ia berharap musisi Kua Etnika binaan Djaduk bisa memuwujudkan komposisi yang ditemukan Djaduk di puncak gunung.

"Mudah-mudahan kawan-kawan Kuaetnika yang sudah biasa bekerja sama dengan Djaduk bisa mewujudkan komposisi melodinya yang sudah ditemukan di puncak gunung yang sangat tinggi itu," tutur Butet sambil menahan tangis.

Selamat berpulang Mas Djaduk…

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Wijaya Kusuma, Dandy Bayu Bramasta, Kurnia Sari Aziza | Editor: Khairina, Kurnia Sari Aziza, Sari Hardiyanto, Michael Hangga Wismabrata, Aprillia Ika, Farid Assifa)

Editor: Rachmawati

Artikel Asli