Sekolah Jadi Tempat Berisiko Tularkan Virus Corona Covid-19, Ini Alasannya

Suara.com Dipublikasikan 10.55, 06/08 • Rauhanda Riyantama
Ilustrasi sekolah. (Unsplash/Neonbrand)
Ilustrasi sekolah. (Unsplash/Neonbrand)

Suara.com - Virus corona Covid-19 sangat berisiko menyebar di ruang publik yang tertutup dan ramai hingga sulit menerapkan jarak sosial. Salah satunya sekolah, yang menjadi tempat paling mudah menyebarkan virus corona.

Sebuah laporan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat tentang wabah di sebuah kamp musim panas di Georgia menunjukkan anak-anak (termasuk kasus tanpa gejala) memainkan peran penting dalam penularan virus corona Covid-19.

Klaim tersebut pun bertentangan dengan sejumlah penelitian sebelumnya bahwa anak-anak memiliki risiko lebih kecil untuk menularkan virus corona Covid-19 dibandingkan orang dewasa.

Awal Agustus 2020 ini, 260 karyawan di salah satu distrik sekolah terbesar di Georgia dilarang memasuki sekolah. Sebab, mereka memiliki virus atau telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi.

Pengungkapan itu muncul setelah laporan resmi terkait peristiwa penyebaran virus corona terbesar melibatkan 200 remaja yang menghadiri kamp musim panas YMCA terinfeksi.

Ilustrasi penularan virus corona. [Shutterstock]

Meskipun kamp itu melibatkan sekitar 600 anak muda dengan mengikuti aturan sanitasi dan pemakaian masker. Pejabat kesehatan mengatakan rata-rata anak yang ikut berkemah berusia antara 6 hingga 19 tahun.

Menurut sebuah laporan oleh pejabat kesehatan Georgia dan CDC, seorang anggota staf remaja diidentifikasi terinfeksi virus corona Covid-19 pada akhir Juni 2020 tanpa gejala. Lalu, sebanyak 260 dari 344 peserta dinyatakan positif terinfeksi virus.

Fakta ini sangat berlawan dengan teori sebelumnya mengenai penyebaran penyakit pada anak-anak yang lebih muda. Karena, mereka menghabiskan waktu lebih lama di kamp sehingga meningkatkan risikonya terinfeksi virus.

"Temuan ini menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 menyebar secara efisien pada remaja, menghasilkan tingkat serangan yang tinggi di antara orang-orang di semua kelompok umur. Meskipun ada upaya oleh petugas kamp untuk menerapkan strategi yang paling direkomendasikan demi mencegah penularan," jelas laporan CDC dikutip dari The Guardian.

Laporan itu juga menambahkan infeksi tanpa gejala adalah umum dan berpotensi berkontribusi pada penularan virus yang tak terdeteksi.

Investigasi ini menambah bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak dari segala usia rentan terhadap virus corona Covid-19 dan berperan dalam penularan.

Peristiwa di Georgia itu telah menyoroti betapa pentingnya memahami penyebaran virus corona Covid-19 pada kelompok usia muda. Karena, beberapa bulan terakhir telalu fokus pada populasi usia yang lebih tua dan lebih rentan.

Menurut Harvard William Hanage, ahli epidemiologi mengatakan banyak negara menutup sekolah di awal pandemi virus corona. Tapi, penelitian mengenai penularan virus di antara anak-anak masih sedikit.

"Penelitian rumah tangga biasanya menemukan bahwa anak-anak jarang terinfeksi dan jarang menularkan. Tetapi, semua studi rumah tangga tersebut biasa karena mereka mulai mengidentifikasi seseorang yang terinfeksi dan menguji orang-orang di sekitarnya.

Kini, anak-anak jauh lebih kecil kemungkinannya mengalami kondisi parah meski gejalanya terlihat. Lalu mereka mungkin berpikir orang dewasalah yang menularkan virus itu ke mereka.

"Penutupan sekolah salah stau tindakan yang bisa diambil untuk menerapkan jarak sosial, membatasi kesempatan anak-anak melakukan kontak sosial yang bisa meningkatkan risiko penularan virus corona," jelasnya.

Artikel Asli