Secangkir Es Cream Vanilla

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 14/12/2019 • Ikha Miracle
Unsplash
Unsplash

Bukankah ini masih hitungan baru satu bulan?

Aku pikir, lelaki itu masih sibuk merapikan serta memantapkan niatnya kembali. Apakah benar, ia mempercayai Tuhan atas pilihan hati atau sedang memikirkan alasan lainnya untuk bisa lari. Lagi.

Ya. Lelaki itu.

Lelaki yang pertama yang hadir sebagai pacar. Lelaki pertama yang memenuhi semua debar. Dan lekaki pertama yang pergi hanya karena terlanjur berasumsi bahwa semua perempuan terlalu tidak sabar.

Ya. Lelaki itu. Menjadi pertama dalam segalanya bagi hatiku kala itu.

Hari ini, tepat lima tahun lamanya ia hadir kembali. Perpisahan yang akhirnya dengan penerimaan sungguh aku coba sepakati dulu, kini ia memilih kembali ke hatiku. Sayangnya, dia menemukanku yang tidak lagi memiliki hati.

"Apa kabarmu?" Sebuah pesan singkat yang awalnya ku kira hanya dari seorang kenalan biasa. Rupanya, dari kenalan lama yang beberapa tahun belakangan ini telah ku lepas sepenuh rela.

"Baik." Jawabku singkat.

" Bolehkah aku berjumpa?" Ajaknya tiba-tiba

"Ya." Balasku singkat. Aku hanya mengiyakan permintaan bukan karena berharap ada sesuatu yang diinginkan. Bukankah pernah ku katakan, hatiku sedang dalam perbaikan. Jadi, untuk kembali jatuh cinta itu aku pikir belum terlalu kuinginkan.

" Terimakasih." Balasnya lagi.

Aku hanya membaca pesannya tanpa memberi balasan lainnya. Ah, hatiku tidak se sumringah dulu. Rupanya luka membuatmu mati rasa. Dan sungguh aku kehilangan semua debar di dada.

***

Kota payakumbuh sore itu. Seolah menghadirkan sebuah cerita baru. Sebuah caffe yang persis berada dekat sekolah ku dulu. Ya. Waktu begitu cepat berlalu. Bahkan kota kelahiran telah banyak menyajikan hal-hal baru.

Aku memang sedang mudik ke kampung halaman. Pun lelaki itu juga sama. Itulah kenapa waktu pertemuan kembali di kota yang sama. Kota kelahiran kita. Kota tempat segala kenangan masa muda kita.

 "Apa kabarmu?" Tanyanya memecah keheningan yang sedari tadi menemani kita.

Bukankah masih terlalu canggung memulai pembicaraan baru? Lagipula percakapan-percakapan kita telah lama membeku dalam paragraph waktu.

Ah, Setidaknya pertanyaan sebuah kabar dapat meredam sunyi yang sedang kita pelihara. Atau lebih tepatnya aku yang sedang ingin terus memelihara sunyi yang sama.

" Baik. Kabarmu?"

"Aku juga baik."

"Bagaimana kegiatanmu selama beberapa tahun belakangan ini?" "Masih sama."

"Sudah berapa tempat yang kau kunjungi?"

"Belum terlalu banyak."

Suasana di sekitar kita telah mulai berangsur mencair. Ketika aku memulai pembicaraan dengan menanyakan hobimu. Bukankah lelaki sangat suka membicarakan kisah perjalanannya?

Dan aku pikir, tidak ada salahnya bertanya sebuah tempat yang menyenangkan. Siapa tahu, aku akan mengunjunginya. Sendirian. Tentu saja.

Lelaki itu begitu mencintai hobinya. Aku? Mencintainya dengan segala yang digilainya.

Itu dulu, ketika hatiku dipenuhi semua warna-warni cinta.

Saat ini. Sekarang. Aku bahkan lupa bagaimana rasanya aliran debar yang memenuhi hati. "Apa kau masih berkelana? Tanyaku lagi

"Terkadang. Tidak sesering dulu."

"Oh." Jawabku singkat sembari mengulum es cream vanilla.

Ya. Lelaki itu dipenuhi aroma petualangan. Berpetualang ke tempat baru serta menjelajahi alam. Kadang ia berkemah di gunung, kadang dekat sungai. Lelaki itu selalu terlihat hidup karena jiwa yang selalu bebas. Dulu, aku begitu menyukai jiwanya yang seperti itu. Meski tidak pernah kusampaikan langsung

 Bahkan dulu ketika ia mengajakku berpetualang bersama. Lelaki itu mengajakku naik gunung, pengalaman pertama kalinya bagiku. Memang sangat melelahkan namun selalu ada yang layak untuk diperjuangkan, bukan?

Pertama kalinya, Ku hirup udara kebebasan yang begitu alami. Sejak itu, aku semakin menggilainya. Setiap ada waktu jeda, Aku memutuskan pergi meski hanya membawa diriku sendiri bersama.

Menemukan kau sebagai teman perjalanan adalah sebuah anugerah bagiku. Bahkan aku pernah memiliki sebuah harapan, kau akan selamanya menemaniku. Ya. Ketika kita masih dalam genggaman yang sama.

" Kenapa kau masih sendiri?" Tanyamu tiba-tiba yang membuyarkan lamunanku. 

"Karena aku tidak lagi memiliki keinginan.

"Apa kau tidak ingin memiliki sebuah keluarga?" Tanyamu penasaran. 

"Entahlah. Aku tidak lagi menginginkannya."

"Bolehkah aku mendengar alasanmu? Ceritalah kepadaku. Aku akan mendengarkannya.”

“Mendengarkannya?”

“Dan memercayainya.”

"Jika kau telah berulangkali mengalami kepatahan-kepatahan pada hati. Aku pikir kau pasti mengetahui tanpa harus aku beritahu."

"Tidak. Aku ingin mendengar ceritamu." 

"Apa alasanmu ingin mendengar ceritaku? 

"Bolehkah aku kembali?" Pintanya tiba-tiba

"Apa kau serius?

Lelaki itu, seolah-olah telah mempersiapkan segala hal. Dan Hujan beserta dua gelas es cream vanila yang tanpa sengaja ku habiskan sekaligus. Mungkin sebagai pengalihan dari tatapan diam-diam lelaki itu.

 Ah. Aku bahkan tidak merasakan debar ketika cinta kembali mencoba mengetuk. Entahlah, segala muaranya telah lama kering tak bersisa.

"Aku tidak lagi memiliki tempat untuk menempatkanmu kembali di dada. Kau pasti mengetahui bahwa lukaku belum sepenuhnya reda. Masih terasa."

"Ya. Aku mengetahuinya. Meski aku tak mampu mengobatinya. Namun aku ingin meminta kesempatan darimu untuk mengobatinya." Pintanya.

Semesta seakan kembali menjerumuskanku pada perasaan liar yang seharusnya tidak ingin kubiakkan kembali.

Luka kehilangan yang masih berbentuk belum sepenuhnya lega. Ah, aku belum siap dengan perasaan ini. Pikirku.

Dalam dada, aku terus berusaha meredam perasaan ini. Perasaan yang hanya akan menjadi inang. Perasan yang akan menimbulkan kerakusan dalam diri.

" Apa kau telah berhenti berpetualang?"

"Tidak. Aku ingin mengajakmu berpetualang dan menulis kisah baru bersama."

" Kenapa kau memilih kembali padaku? Bukankah dulu kau sendiri yang meminta untuk pergi?"

"Hanya kau satu - satunya jalan pulang yang tampak bagiku."

Ah. Harapan yang kau coba tanam kembali. Berusaha menumbuhkan bibit-bibit keinginan yang sudah lama ku kubur dalam-dalam. Aku tidak berani menerka apapun.

Rasa penasaran, ingin tahu ekspresi apa yang ditampakkannya dari detik satu ke detik berikutnya. Aku menjadi tersadar dan segera memalingkan wajah, menatap ke luar jendela.

Hujan dan dua gelas es cream vanila malam itu menjadi saksi ketika lelaki itu meminta kembali sebuah tempat di hatiku lagi.

Payakumbuh, 12 Juni 19

***

Minggu, 09 Juni 19

Aku tidak lantas mempercayai ingatanku. Perlu beberapa hari dan penyelidikan untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa lelaki itu memang bukan sosok yang telah aku lupakan selamanya.

Minggu sore itu, ketika gerimis samar-samar membawa lelaki itu berdiri kembali di hadapanku. Mengetuk-ngetuk kembali pintu hati yang telah lama tertutup rapat.

Selanjutnya, aku mencari-cari sisa-sisa getaran hatiku saat menatapnya. Apakah masih sebagai cinta? Atau perasaan biasa? Entahlah. Bagaimana aku mengetahuinya jika dadaku saja kosong tak berisi.

***

Batam, 10 Oktober 19

Perempuan itu telah bisa membuka matanya dan mengatakan bahwa dunia telah jauh lebih baik ketimbang terakhir kali ia melihatnya. Ia bangun dari duduknya dan membersihkan debu dari hatinya yang telah tampak usang dan kaku.

Ya.

Perempuan itu telah sepenuhnya mengetahui langit-langit hatinya kini telah dipenuhi warna warni cinta.

Cinta lelaki yang terus berupaya memberi kesembuhan padanya.

Aku pikir, Kali ini termasuk campur tangan semesta. Semesta yang berupaya menghadirkan cinta kembali Di dadanya.

Doakan cintanya menjadi cinta selamanya.