Sebelum ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon terperosok krisis ekonomi parah

Kontan.co.id Dipublikasikan 10.28, 05/08 • Virdita Rizki Ratriani

KONTAN.CO.ID - Ledakan dahsyat terjadi pada Selasa (4/8) di Pelabuhan Beirut, Lebanon yang menewaskan sedikitnya 100 orang serta melukai 4.000 lainnya. 

MengutipAl Jazeera, para pejabat Lebanon mengatakan, mereka memperkirakan korban tewas akan meningkat ketika para pekerja darurat menggali puing-puing untuk menyelamatkan orang dan mengangkat yang mereka meninggal.

Penyebab ledakan tersebut belum diketahui jelas. Hanya, para pejabat Lebanon menghubungkan ledakan itu dengan sekitar 2.700 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang di pelabuhan selama enam tahun.

Sebelum ledakan dahsyat tersebut, masyarakat Lebanon masih dalam cengkeraman krisis ekonomi yang kuat. Tambah lagi, ada pandemi virus corona baru. 

Baca Juga: Palang Merah Lebanon: Korban tewas akibat ledakan Beirut mencapai 100 orang

Kondisi ekonomi tak terkendali

Melansiri The Guardian, 3 Agustus 2020, sejak Maret 2020, harga sebagian besar barang di Lebanon melonjak hampir tiga kali lipat. Sementara nilai mata uang turun 80% dan sebagian besar warganya harus kehilangan pekerjaan.  

Korupsi di tubuh pemerintahan dan kesalahan dalam mengatur keuangan negara menjadi salah satu penyebab Lebanon berada di ambang kehancuran finansial. 

Dalam laporan 17 Juli laluBBC memberitakan krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Lebanon telah mendorong puluhan ribu orang jatuh miskin. Sekaligus, memicu protes anti-pemerintah terbesar yang pernah terjadi di negara itu dalam lebih dari satu dekade.

Baca Juga: Ledakan Beirut, simpati dan dukungan mengalir dari negara-negara Arab

Apa yang salah dengan ekonomi Lebanon? 

Utang publik terhadap produk domestik bruto (PDB) Lebanon adalah tertinggi ketiga di dunia. Pengangguran di Lebanon mencapai 25% dan hampir sepertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. 

Akhir tahun lalu juga terungkap apa yang analisis sebut skema Ponzi yang bank sentral Lebanon jalankan. Skema ponzi bank sentral Lebanon lakukan dengan meminjam dana dari bank-bank komersial dengan tingkat bunga di atas pasar untuk membayar utangnya, sekaligus menyelamatkan nilai tukar mata uang Lebanon. 

Pada saat yang sama, masyarakat semakin marah dan frustrasi tentang kegagalan pemerintah dalam menyediakan layanan dasar. Masyarakat harus berhadapan dengan pemadaman listrik harian, kurangnya air minum, terbatasnya layanan kesehatan masyarakat, dan beberapa koneksi internet terburuk di dunia.

Banyak yang menyalahkan elit penguasa yang telah mendominasi politik selama bertahun-tahun, demi mengumpulkan kekayaan mereka sendiri. Sementara mereka gagal melakukan reformasi besar-besaran yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah negara.

Bagaimana pandemi memperburuk masalah?

Setelah kematian pertama akibat virus corona dan terjadi lonjakan infeksi, lockdown berlaku pada pertengahan Maret untuk mengekang penyebaran. Di satu sisi, hal tersebut membuat krisis ekonomi jauh lebih buruk dan mengekspos ketidakmampuan sistem kesejahteraan sosial Lebanon.

Baca Juga: Ledakan di Beirut, Lebanon, 1 warga Indonesia luka ringan

Banyak pengusaha terpaksa melakukan PHK atau menerapkan cuti tanpa dibayar. Ketika harga barang naik berkali-kali lipat, banyak keluarga tidak mampu membeli bahkan kebutuhan pokok.

Kesulitan ekonomi yang meningkat memicu kerusuhan baru. Pada April lalu, seorang pemuda ditembak mati oleh tentara selama protes keras di Tripoli dan beberapa bank dibakar.

Saat pelonggaran lockdown pada Mei lalu, harga beberapa bahan makanan naik berkali-kali lipat. Dan, Perdana Menteri Hassan Diab memperingatkan, Lebanon berisiko mengalami krisis pangan besar.

"Banyak orang Lebanon telah berhenti membeli daging, buah-buahan, dan sayuran, dan mungkin akan sulit untuk membeli roti," tulisnya di Washington Post.

Baca Juga: Update korban ledakan Beirut: 78 orang tewas, nyaris 4.000 orang luka-luka

Artikel Asli