Sebelum Resign

LINE TODAY Dipublikasikan 00.00, 21/09/2019 • Almira Bastari

“Tidak ada yang mengalahkan semangat anak baru,” Cungpret senior.

**

Perkenalkan, namaku Alranita. Aku biasa dipanggil Ra. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di kantor. Pulang ke Indonesia setelah tinggal lama di negara dengan julukan kota terbaik ditempati, Melbourne, adalah proses adaptasi tersendiri. Aku cukup beruntung karena masa nganggurku tidak lama, hanya dua bulan. Itu pun rasanya sudah jengah di rumah meski aku lebih banyak di luar untuk mengikuti tes kerja atau wawancara.

 Aku menarik napas dalam-dalam. Ini juga pertama kali aku bekerja di Indonesia, alias Jakarta lebih tepatnya. Sebelumnya aku pernah bekerja di Melbourne. Kata teman-temanku yang sudah ‘migrasi’ ke Jakarta, suasana bekerja di Jakarta atau Melbourne sama saja (pasti pada bohong biar aku legowo pindah ke Jakarta kan?).

 “Mbak Alranita ini ID card-nya.” Staff HRD bernama Nina masuk ke dalam ruang meeting dan menyerahkan ID Card-ku.

 “Terima kasih.” Aku mengangguk sambil tersenyum.

 Jam baru menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Semangatku masih membara sebagai anak baru.

 “Saya antarkan ke kubikel Mbak Alranita ya.” Mbak Nina kemudian mempersilakanku untuk berdiri.

 Kantor ini tidak terlalu besar. Paling hanya ada empat puluhan pegawai, jadi jarak dari ruang meeting ke kubikelku relatif dekat.

 “Ini ruangan bos kamu.” Mbak Nina berbisik jail.

 Aku melongok sedikit, tampaknya dia sudah di sana. Dia pernah mewawancaraiku ketika aku masuk. Tigran Putra Pramudiwirja. Linkedin-nya nihil! Tahun segini tapi tidak punya Linkedin? Aneh.

 “Ini meja mbak Alranita.” Mbak Nina menunjuk meja yang kosong.

 “Saya tinggal ya.” Mbak Nina pamit dan aku mengangguk.

 Sudah ada Carlo di sebelahku, menyengir ke arahku. Dia adalah seniorku dulu sewaktu kuliah.

 “Gila, masuk juga lo. Gue tahu sih lo emang pintar jadi pasti bisa lolos,” kata Carlo sebelum menyuap satu keripik ke mulutnya.

 “Makan mulu.” Aku mendudukkan tubuh di kursi kubikelku, siap untuk bekerja.

 “Welcome to the jungle. Berkat lo, gue bisa bebas.” Carlo cekikikan.

 Keningku mengernyit, “Bukannya kita satu tim, Lo?”

 Carlo menggeleng, “Per hari ini gue masuk ke tim divisi sebelah.” 

 Belum selesai kebingunganku, Pak Tigran melangkah keluar dari ruangannya dan menghampiri kubikel kami.

 “Selamat hari pertama.” Pak Tigran berujar dengan intonasi datar tanpa senyum dan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.

 Aku tersenyum lebar, “Selamat pagi Pak Tigran. Terima kasih, Pak.”

 “Gimana, betah di sini?” Tanyanya.

 Aku berpikir sepersekian detik. Bukannya baru masuk? Bahakn belum mulai kerja? Bagaimana aku bisa merasa betah atau tidak?

 Aku mengangguk. “Betah kok. Kantornya enak, ke sini juga nggak terlalu macet. Ini mimpi saya bisa gabung di consulting firm. Penginnya berkarier lama di sini.”

 Aku mendengar ada suara batuk Carlo.

 Tigran manggut-manggut, “Saya suka semangat kamu. Dipertahankan. Bangun karier tuh jangan kayak kutu loncat. Baru sebentar kerja, pindah. Kamu harus bertahan mengerjakan sesuatu bertahun-tahun untuk bisa ahli di situ.”

 Wah, Pak Tigran ini tampaknya sangat bijak meski tebakanku, umurnya paling baru tiga puluhan. 

 “Iya, saya bukan tipe kutu loncat. So I guess you found the right person,” kataku antusias.

 Tigran menatapku serius. Tidak ada senyuman. 

 “Oke.” Pak Tigran kemudian berbalik.

 Pak Tigran berjalan menjauhi kami lalu masuk ke ruangannya.

 “Gila, ganteng dan bijak banget ya dia. Umur berapa sih?” Aku bertanya penuh kekaguman. 

 Sontak tawa Carlo meledak. Kenapa?

 “Duh, gue suka deh optimisme anak-anak muda gini. Gemesin!” Carlo memuji, dengan sarkasme?

 “Ih kenapa sih?” Aku jadi penasaran.

 Carlo menatapku geli. “Mau sampai pensiun emang di sini? Pakai ngomong ‘saya bukan kutu loncat’! Hahaha! Kita lihat minggu depan!”

 “Kok lo ngomongnya gitu?” Perasaanku mulai tidak enak.

 Pernah masuk ke hotel yang rasa-rasanya angker? Kira-kira, ini perasaan yang tiba-tiba muncul padaku. Kubikel ini terasa salah.

 Carlo tersenyum simpul. “Nggak apa-apa, gue mau lihat aja nyali lo seberapa.”

 “Lo sendiri kenapa pindah?” Aku bertanya karena khawatir pada diri sendiri.

 “Karena lo sudah datang menyelamatkan gue,” katanya.

 “Dari?” Keningku mengernyit. 

 “Siksaan duniawi.” Carlo terkikik puas.

 Sial!

 “Emang, Pak Tigran, galak?” Tanyaku sedikit takut.

 Carlo menggeleng pasti. “Nggak … Udah santai aja. Omong-omong, gue akan kirim surel lo folder link kerjaan gue yang sekarang jadi milik lo ya. Baca dan pahami. Ingat, baca dan pahami.”

 Carlo kemudian menggeser kursinya kembali ke depan mejanya. Dengan serius dia mulai mengetik. Kuletakkan tasku di meja. Kemudian kubuka laptop, log in, lalu masuk ke kotak masuk surel. Keningku mengernyit. Surel dari Carlo, satu. Surel dari Tigran, sepuluh. Sepuluh banget? Aku bukannya baru duduk? Kulirik Carlo yang bergeming. Aku menarik napas dalam-dalam. Surel dari Tigran beragam, ada kalender rapat yang harus kuhadiri,project timeline, surel dari klien yang diteruskan, surel dari Tigran kepada Carlo yang kemudian diteruskan kepadaku. Waduh! Tanpa kusadari aku menelan ludah.

 Kubuka satu per satu folder dari Carlo. Gilaaaaa, banyak banget dokumennya?!!

 “Lo, pssst!” Kupanggil Carlo.

 “Apa?” Tanyanya.

 “Ini yang mana yang harus gue baca duluan?” Aku meringis.

 Carlo berpikir sebentar. “Yang paling dekat sih yang inovasi produk buat bank itu, tapi yang lain juga nggak kalah penting karena timeline-nya paralel. Bos udah kirim timeline? Lo urutin deh satu-satu, mana yang duluan.”

 Gawat.

 Aku mulai mengurutkan deadline, dan menandakan tiap proyek ada di folder yang mana. Setelah itu aku membaca proyek yang paling pertama harus selesai. Aku sedang membaca profil bank pemilik proyek ketika sebuah telepon masuk. Nama ‘Tigran Putra P’ tertera di layar telepon. Aku mengangkatnya dengan cepat.

 “Ya Pak?”

 “Ke ruangan saya,” perintah Pak Tigran.

 “Baik.” Kemudian kututup telepon dan berdiri.

 “Good luck ya,” kata Carlo tanpa melirikku sedikitpun.

 Kenapa sih?

 Kulangkahkan kaki ke ruangan Pak Tigran, tidak lupa kubawa agenda dan pulpen. Kuketuk pintunya dan masuk setelah Pak Tigran mempersilahkan.

 “Misi Pak.” Aku mengangguk sebagai gesture kesopanan.

 “Nggak usah misi, emang kamu mau nyapu ruangan,” ujarnya datar.

 Hah? Nyinyir amat?! 

 Aku tersenyum canggung, “Maaf, Pak.”

 “Duduk.” Tigran mempersilahkan.

 Aku duduk dengan perasaan khawatir. Hawa ruangan ini tidak enak. Mencekam.

 “Saya tadi kirim timeline ke kamu, itu masih ada yang harus dikoreksi ya. Coba kamu cek lagi sama Carlo sesuai dengan permintaan klien…”

 Waduh, berarti yang tadi kukerjakan agak percuma?

 “Terus tolong dipercantik lagi presentasi untuk besok ke klien. File-nya barusan saya kirim. Saya mau kamu kirim ke saya maksimal jam satu, habis makan siang. Soalnya presentasinya besok pagi jam delapan. Kamu juga datang ke pabrik klien.” Pak Tigran menunjukku dengan pulpen.

 Aku mengangguk. “Baik Pak, di mana?”

 “Cilegon,”

 Cilegon?

 “Gimana?” Aku menahan rasa kagetku.

 “Cilegon. Saya berangkat nanti malam. Terserah kalau kamu, atur sendiri aja. Yang penting kerjaan tidak ada yang terbengkalai,” kata Pak Tigran.

 Berarti aku harus berangkat ke Cilegon? Aku kan belum packing … Berarti aku harus balik ke rumah dulu, bawa pakaian, kemudian berangkat ke Cilegon? Ini bukannya kerja hari pertama ya? 

 “Kok bengong kamu?” Pak Tigran menegur.

 Aku menggeleng-geleng. “Nggak, Pak.” Cuma SYOK!

 “Di sini harus sigap ya. Silakan keluar.” Pak Tigran memberi peringatan.

 Aku mengangguk sambil menelan ludah. Aku masih berpikir bagaimana caranya menyelesaikan semua pada hari ini. Dan proyek di Cilegon ini seingatku bukan proyek bank prioritas tadi, melainkan proyek manufaktur. Jadi, aku harus membaca yang ini dulu untuk merevisi bahannya.

 “Lo, gue harus ke Cilegon malam ini,” kataku pada Carlo.

 “Oh gitu. Ya sudah lo pesan aja mobil, kirim permintaan ke admin. Tapi kayaknya bos ke Cilegon juga deh malam ini. Bareng doi aja,” ujar Carlo.

 “Kok lo nggak kasih tahu gue sih gue harus Cilegon?! Gue kan harus balik rumah dulu jadinya.” Aku protes.

 “Gue pikir dia bakal bawa gue. Mungkin sekalian biar lo kenal klien?” Carlo mengangkat bahu.

 Aku mengangguk. Kuhela napas berat, sementara Carlo malah terkekeh.

 “Kenapa sih?” Aku bertanya, gemas.

 “Belum juga satu jam, udah lelah kayaknya.” Carlo menyindir.

 Kuabaikan Carlo dan mulai membuka surel dari Tigran. Kumulai membaca tentang proyek ini dan menyocokkannya dengan informasi pada materi presentasi. Tanpa terasa jam menunjukkan pukul satu kurang lima menit. Duh, aku sampai lupa makan siang!

Teleponku berbunyi, dari Pak Tigran.

 “Ya Pak?” Aku bertanya.

 “Udah jadi?”

 “Dalam tiga menit saya kirim.” Aku memberikan afirmasi.

 Pak Tigran menutup pembicaraan. Dengan sigap kukirimkan pada Pak Tigran setelah selesai mengedit slide terakhir. Aku kemudian bersandar sambil menghela napas.

 “Kelar?” Tanya Carlo.

 “Kelar dan laper!” Aku mengeluh.

 “Jangan sampai lupa makan kali. Hidup terlalu berharga kalau sampai sakit karena kantor,” pesan Carlo.

 “Ngomong doang lo. Beliin gue makan siang kek, cemilan atau apa gitu.” Aku nyengir. 

 Carlo mencibir, “Duh susah orang Jakarta nih, perhatian aja nggak cukup.”

 Kami tertawa. Namun, tawaku terhenti ketika teleponku berbunyi. Pak Tigran lagi?

 “Ya..”

 “Ruangan saya.” Tigran memotong ucapanku kemudian menutup telepon.

 Aku bergidik ngeri melihat Carlo.

 “Suaranya senang atau?” Carlo bertanya.

 “Emang ada ekspresinya suara dia? Kan datar!” Suaraku berbisik.

 Carlo geleng-geleng. Aku menelan ludah kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Tigran.

 “Ini presentasinya lumayan, tapi saya mau warnanya lebih menarik, sama bagan-bagannya tolong lebih simple,” kata Pak Tigran bahkan sebelum aku duduk.

 “Baik Pak.” Aku menyanggupi padahal masih berdiri di dekat mejanya.

 “Setengah jam. Saya kasih kamu waktu setengah jam,” kata Pak Tigran.

 Mataku nyaris membelalak. Setengah jam?

 “Ngapain kamu ngelihatin saya? Balik ke kubikel, kerja.” Pak Tigran memberikan arahan dengan gerakan kepalanya.

 Aku mengangguk kemudian berjalan cepat ke kubikel.

 “Gimana, Ra?” Tanya Carlo.

 Tidak kugubris pertanyaan Carlo dan langsung mengerjakan apa yang Pak Tigran minta.

Teleponku berbunyi lagi. Kulirik jam tangan, waktuku masih ada lima menit lagi. Apa begini cara kerja Pak Tigran? Dengan selalu meneror karyawannya?

 “I still have five minutes,” kataku padanya bahkan tanpa sapaan terlebih dahulu.

 Tigran terdiam sebentar,“Oh, okay.” 

 Kututup teleponnya kemudian mencoba menyelesaikan dua slide lagi. SELESAI! Terkirim tanpa adanya keterlambatan. Kupencet tombol ‘Enter’ dengan semangat.

 “Nyali lo gede juga ya. Bisalah awet di sini kayaknya.” Carlo menahan tawa.

 “Mainnya serangan mental teror telepon gitu?” Aku melotot.

 “Gimana? Udah mau resign atau mau di sini aja nggak mau pindah-pindah?” Carlo nyinyir tingkat dewa!

 Aku meringis. “Gue bakal di sini, sampai gue jadi anak buah kesayangan Pak Tigran. Setelah itu gue resign. Biar dia greget!”

 Carlo tertawa lagi, kali ini sampai dia harus menutup mulut. “Gue akui mental lo masih lebih kuat dari tembok kantor ini. Kita lihat aja ya seminggu lagi apakah mental lo masih begini atau udah nangis di kubikel. Nih gue bagi kebab cadangan gue.”

 Carlo meletakkan satu bungkus kebab di mejaku.

 “Nggak dari tadi aja lo bagi gue?” Aku meliriknya malas dan melahap kebab itu.

**

Tentang Penulis

Almira Bastari adalah analis keuangan di sebuah perusahaan di Jakarta dan hobi menulis. Hingga kini ia telah menerbitkan dua karya, Melbourne (Wedding) Marathon (2017) dan Resign! (2018) yang berhasil menjadi novel mega best-seller. Saat ini dia tengah menulis novelnya, Ganjil Genap, dan diunggah di sebuah media online.

Cerpen Sebelum Resign ini mengisahkan tentang perjalanan Alranita ketika memulai kerja dan harus berhadapan dengan bos arogan, Tigran. Kisah selengkapnya bisa dinikmati di novel Almira Bastari yang berjudul Resign. Review novel Resign dapat dilihat di goodreads.

Instagram: @almirabastari

Twitter: @ratucungpret