Saya Berhasil Mudik Naik Pesawat Dengan Bayi Berusia 2,5 Bulan. Ini Tipsnya!

Womantalk.com Diupdate 07.40, 25/06/2019 • Dipublikasikan 07.40, 25/06/2019 • womantalk.com

Mudik dengan pesawat membawa bayi jadi pengalaman baru dan menantang bagi saya. Deg-degan sudah pasti, karena sebelumnya saya selalu bepergian sendiri atau bersama teman atau pasangan. Namun, keinginan untuk menunjukkan kampung halaman saya di Kupang, NTT, membuat saya bertekad berani membawa anak saya yang masih berusia 2,5 bulan naik pesawat dengan durasi penerbangan yang cukup panjang, yakni hampir 3 jam perjalanan.

Memilih maskapai

Karena membawa bayi yang masih sangat kecil adalah pengalaman pertama bagi saya, maka saya tidak mau ambil risiko sembarangan memilih maskapai. Saya pilih maskapai yang punya ruang kaki yang cukup luas, agar saya tidak merasa sempit dan bisa leluasa bergerak saat menggendong maupun menyusui. 

Saya juga memilih penerbangan langsung meski durasinya cukup lama yakni hampir 3 jam perjalanan. Alasannya cukup simpel, saya menghindari transit yang bikin lebih capai karena harus bolak balik ke bandara transit. Untuk waktu penerbangan, saya pilih penerbangan pagi saat anak saya masih tidur. Terbukti cukup efektif, sepanjang perjalanan anak saya tidur hingga sampai di tujuan.

Beberapa maskapai menyediakan bassinet sebagai tempat tidur bayi selama di pesawat. Namun, setahu saya di Indonesia hanya Garuda yang punya fasilitas ini. Jika ingin menggunakan fasilitas ini, mungkin Anda perlu menanyakan pada maskapai jauh hari sebelum keberangkatan.

5 Benda yang Harus Ada di Tas Anda Saat Bepergian dengan Bayi

Kesehatan bayi

Pastikan bayi Anda dalam kondisi sehat. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya periksakan kondisi bayi ke dokter anak. Setelah anak saya dinyatakan dalam kondisi sehat, saya juga meminta dibuatkan surat keterangan laik terbang. Beberapa maskapai akan meminta persyaratan ini, terlebih jika Anda bepergian dengan bayi berusia di bawah 3 bulan.

Oh ya, hindari terbang dengan bayi yang sedang flu. Perbedaan tekanan saat terbang akan sangat menyakitkan telinganya dan ini akan membuatnya tidak nyaman dan menangis sepanjang perjalanan.

Sebelum take off, terlebih dahulu saya menyumpal telinga bayi dengan kapas agar telinganya cukup aman dari kerasnya suara mesin pesawat. Selain itu menjelang take off maupun landing, bayi saya susui. Dengan aktivitas menyusui, membuat bayi melakukan gerakan menelan yang membantu meringankan ketidaknyamanan perubahan tekanan udara, saat lepas landas maupun pendaratan. 

Perlengkapan bayi

Siapkan tas berisi perlengkapan bayi. Saya sendiri menyiapkan tas ransel berisi popok sekali pakai, dua pasang baju ganti, tisu basah, tisu kering, minyak telon, kapas, perlak mini, selimut bayi, dan obatan P3K bayi. Pakaikan jaket dan baju yang cukup hangat untuk melindungi bayi selama di pesawat. Saat masuk pesawat, jangan lupa tutup pengatur pendingin yang ada di atas kepala Anda, agar bayi Anda tidak terpapar udara AC secara langsung.

Membawa Bayi Naik Pesawat Terbang, Perhatikan Hal-Hal Berikut Agar Tidak Mengganggu Penumpang Lain

Saat penerbangan kembali ke Jakarta, tak disangka bayi saya buang air besar ketika masih separuh perjalanan. Mau tidak mau saya harus mengganti popoknya di toilet. Beruntung bayi saya cukup kooperatif dan selama diganti dia tidak menangis malah tersenyum bahagia, karena bisa meregangkan badan.

Bepergian naik pesawat bersama bayi ternyata tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Yang terpenting Anda percaya diri dan percaya pada bayi Anda, niscaya perjalanan Anda dan bayi berjalan lancar.

Jika ada yang ingin ditanyakan tentang terbang bersama bayi, silahkan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar, ya.

cover: CE-WT

Artikel Asli