Sawan pada Bayi, Hanya Mitos atau Ada Penjelasan Medisnya?

SehatQ Dipublikasikan 08.34, 04/06 • Dina Rahmawati
Sawan pada Bayi, Hanya Mitos atau Ada Penjelasan Medisnya?
Penyebab sawan pada bayi adalah kolik yang mengakibatkan si Kecil memangis tanpa henti lebih dari tiga jam

“Jangan membawa bayi melayat, nanti bisa kena sawan. “ Mungkin Anda pernah mendengar larangan tersebut. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa sawan pada bayi terjadi akibat diganggu makhluk halus atau karena sang ibu melanggar mitos yang berlaku.

Ketika terkena sawan, bayi akan sangat rewel, menangis tanpa henti, bahkan tak mau diberi susu. Hal ini tentu saja bisa membuat orangtua merasa khawatir dan kebingungan untuk menenangkannya.

Sawan pada bayi: mitos atau fakta?

Meski kerap dikaitkan dengan mitos, namun faktanya sawan pada bayi memiliki penjelasan medis. Sawan adalah suatu kondisi di mana bayi mengalami perubahan perilaku yang tak seperti biasanya atau mendadak sakit tanpa alasan yang jelas. Bayi yang terkena sawan dapat ditandai dengan:

  • Menangis secara berlebihan terutama di sore atau malam hari
  • Tangisan sangat keras lebih dari biasanya
  • Nampak kesakitan dan tak nyaman
  • Gumoh
  • Mengepalkan jari-jari
  • Menarik kaki
  • Wajah memerah
  • Melengkungkan punggung
  • Kejang disertai demam

Sawan pada bayi dapat terjadi pada bulan-bulan awal kelahirannya. Namun, secara signifikan akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia. Meski begitu, sebagian bayi mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama, bahkan hingga anak-anak. 

Penyebab sawan pada bayi

Menurut mitos, sawan terjadi karena sang ibu mengonsumsi kambing saat menyusui atau bayi dibawa menghadiri acara pernikahan maupun pemakaman sehingga “ketempelan” makhluk halus. Padahal sawan pada bayi dapat dipicu oleh kondisi berikut:

  • Kolik

Kolik adalah suatu kondisi di mana bayi tak henti-henti menangis lebih dari tiga jam selama kurang lebih tiga hari berturut-turut meski ia sehat dan kenyang. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi mengalami sawan.

Terdapat beberapa kemungkinan penyebab kolik pada bayi, antara lain sistem pencernaan yang belum sempurna sehingga rentan bermasalah, sensitivitas terhadap cahaya atau kebisingan, terlalu banyak stimulasi, perubahan bakteri normal sistem pencernaan, intoleransi laktosa, hormon yang menyebabkan sakit perut atau suasana hati rewel, dan sistem saraf yang masih belum berkembang sempurna.

  • Kejang demam

Kejang demam terjadi karena adanya gangguan aktivitas listrik otak yang dipicu oleh demam. Ketika si Kecil demam tinggi hingga 41 derajat Celcius, Anda harus waspada. Otak bayi yang belum sempurna bisa bereaksi terhadap perubahan suhu tubuh yang mendadak. Hal ini bisa menyebabkan si Kecil terkena kejang demam. Namun berbeda dengan kolik, tubuh bayi dapat menjadi kaku, mata mendelik, lidah tergigit, bahkan mulutnya berbusa. 

Cara mengatasi sawan pada bayi

Ketika bayi mengalami sawan, mungkin Anda akan kebingungan harus melakukan apa. Cara mengatasi sawan pada bayi harus dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika bayi mengalami sawan karena kolik, Anda hanya perlu menenangkannya dengan menyusui, mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk atau berbaring, mengusap atau mengelusnya, memberi dot, melakukan skin-to-skin, membedong bayi, atau membawanya berjalan-jalan.

Sementara jika sawan terjadi karena kejang demam, Anda harus bersikap lebih sigap karena kondisi ini bisa berbahaya. Adapun yang harus Anda lakukan, yaitu:

  • Baringkan bayi dengan aman di atas lantai. Pastikan jika tak ada benda keras maupun tajam di sekitarnya
  • Longgarkan apapun yang ketat yang dipakai oleh bayi, misal bukalah kancing baju bayi berkerah tinggi yang bisa mencekiknya
  • Posisikan tubuh bayi miring untuk mencegahnya tersedak air liur yang dapat menghalangi masuknya oksigen ke dalam tubuh
  • Jangan memberi makanan atau minuman apa pun 
  • Segera cari bantuan darurat medis agar si Kecil mendapat penanganan dengan cepat

Penting untuk selalu memerhatikan kondisi bayi, jangan sampai Anda abai sehingga bisa membahayakannya. Jadi, jangan ragu untuk menghubungi dokter bila merasa khawatir terhadap kondisi si Kecil.

Artikel Asli