Salju Turun di Arab Saudi Tanda Perubahan Iklim

CNN Indonesia Dipublikasikan 23.39, 21/01

Fenomena turun salju di kawasan Tabuk, Arab Saudi, mengejutkan banyak pihak. Kawasan gurun yang identik dengan suhu panas itu seketika menjadi sangat dingin dan diselimuti tumpukan salju.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo menuturkan fenomena salju di kawasan Arab Saudi memang mungkin terjadi.

"Memang konotasinya kan Arab itu daerah panas. Padahal kan sebetulnya Arab secara lintang itu agak ke utara, tidak di ekuator persis. Sehingga sebetulnya Arab bisa saja mengalami musim dingin," jelas Mulyono kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/1).

Kawasan Arab memang identik dengan gurun pasir yang panas. Sehingga menurut Mulyono pemberitaan soal munculnya salju di Arab menimbulkan keheranan.

"Apalagi Tabuk ini mengarah ke Yordania, agak lebih ke utara," ujar Mulyono.

Di sisi lain, Mulyono membenarkan fenomena turun salju di Arab Saudi terkait dengan perubahan iklim hingga pemanasan global. Dia berkata kedua hal itu membuat perubahan cuaca menjadi ekstrim.

Fenomena turun salju di Tabuk sendiri terkait dengan perubahan musim akibat posisi Bumi terhadap Matahari. Saat ini, posisi matahari tengah berada di belahan bumi selatan. Sehinga, Tabuk yang ada di posisi sekitar 27 derajat lintang utara memang memasuki musim dingin.

Perubahan musim ini juga menyebabkan sirkulasi cuaca yang ada di lingkar kutub utara bergerak ke arah selatan.

Dia berkata desakan udara dari kutub utara tersebut berpotensi menimbulkan polar vortex. Ini adalah istilah yang menjelaskan fenomena pertumbuhan awan di lintang tinggi. Pertumbuhan awan di lintang tinggi ini bukan dalam bentuk hujan, tetapi dalam salju.

"Kalau di ekuator atau daerah panas itu ketika butiran air di salju itu turun mestinya dalam bentuk cairan, yaitu air hujan. Tapi karena suhu lingkungan dalam kondisi dingin maka ini bisa dalam bentuk salju," ujarnya.

Lebih lanjut, Mulyono menambahkan Indonesia tidak akan terdampak langsung dari fenomena turun salju di Arab Saudi mengingat jarak yang terbilang jauh dan lintang yang berbeda. Namun, dia menyampaikan perubahan polar vortex akan merambat ke arah timur atau ke kawasan China.

"Ketika terjadi di daerah China akan ada desakan udara dingin ke arah Indonesia bagian barat," ujar Mulyono.

Akibat dari pergerakan itu, dia berkata curah hujan di Indonesia berpotensi mengalami peningkatan. Lebih dari itu, dia menegaskan potensi itu merupakan gambaran sederhana dari sebuah fenomena alam. Sebab, dia berkata ada batasan tertentu dalam memprediksi cuaca.

Artikel Asli