Saingi Elon Musk, Amazon Siapkan Rp 147 Triliun untuk Internet Luar Angkasa

Suara.com Dipublikasikan 05.00, 04/08 • Dythia Novianty
Stasiun luar angkasa. [Shutterstock]
Stasiun luar angkasa. [Shutterstock]

Suara.com - Amazon tidak segan mengeluarkan dana senilai 10 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 147 triliun agar bisa bersaing dengan bos SpaceX, Elon Musk, dalam pengadaan internet berbasis satelit luar angkasa.

Secara terbuka, Amazon mengatakan bahwa pihaknya siap berkompetisi dengan layanan internet berbasis satelit luar angkasa yang sedang dijajal SpaceX dengan Starlink-nya.

Sebagai langkah awal, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) telah memberi Amazon lampu hijau untuk meluncurkan lebih dari 3.000 satelit ke orbit rendah-Bumi (LEO).

Setibanya di orbit yang telah ditentukan, satelit-satelit ini akan mengirimkan koneksi internet broadband kepada para penggunanya di Bumi.

Melalui Project Kuiper, Amazon berinvestasi senilai 10 miliar dolar AS untuk memastikan SpaceX tidak memonopoli bisnis di sektor ini.

Di luar pendanaan tersebut, Jeff Bezos selaku bos Amazon sudah punya perusahaan layanan komputasi awan (cloud) dan roket swasta yang bakal memuluskan misi ini.

Jika misi ini berhasil, Project Kuiper diharapkan bisa memberikan akses internet yang merata ke seluruh penjuru dunia.

"Masih terlalu banyak tempat di berbagai belahan dunia yang akses internetnya lambat, atau bahkan tidak ada sama sekali. Project Kuiper akan mengubahnya," kata Senior Vice President Amazon, Dave Limp, seperti dikutip dari Metro, Selasa (4/8/2020).

"Investasi 10 miliar dolar AS (Rp 147 triliun) ini akan kami pakai untuk menciptakan lapangan kerja di Kuiper dan membantu pemerintah AS untuk memperkuat infrastruktur broadband," imbuhnya.

CEO Amazon, Jeff Bezos. [AFF/Mandel Ngan]

Meski belum menetukan tenggang waktu untuk misi ini, tetapi Amazon diketahui telah membuka fasilitas penelitian dan pengembangan baru di kawasan Redmond, Washington.

"Kami sedang melakukan penelitian luar biasa untuk menghadirkan broadband cepat dan bisa diandalkan dengan harga yang masuk akal bagi pelanggan," sebut Rajeev Badyal, Wakil Presiden Teknologi untuk Project Kuiper.

"Sistem broadband berbasis LEO seperti Project Kuiper menghadirkan sejumlah besar tantangan, dan kami telah membentuk tim insinyur dan ilmuwan kelas dunia yang berkomitmen untuk mewujudkan visi kami dalam menyediakan internet cepat dan menjaga luar angkasa agar tetap aman," pungkasnya.

Artikel Asli