Rumah Untuk Cinta - Part 2: Pria Membaca Novel, Aneh?

Storial.co Dipublikasikan 07.22, 12/08 • Riawani Elyta
Pria Membaca Novel, Aneh?

Rasanya cukup aneh menyaksikan pria tenggelam dalam lembaran novel. Benar-benar terisap. Seperti terhipnotis. Sampai tak mau melepaskan hingga paragraph terakhir. Lembar terakhir.

Namun… itulah yang dilakukan pria berkacamata frameless itu. Ferdy.

Dia menarik nafas panjang. Lalu mengeluarkannya dalam satu hembusan keras. Huah! Novel berjudul The Deep Erosion itu tuntas hanya dalam tempo dua jam! Dan ini adalah rekor tercepatnya. Ia bahkan membutuhkan berhari-hari untuk menyelesaikan buku-buku motivasi, how to, dan chicken soup yang selama ini menjadi favoritnya.

Sebenarnya, awalnya ia tidak tertarik, untuk membaca novel dengan sampul bernuansa hitam putih itu. Bagi Ferdy, hidup adalah serangkaian realita. Pertemuan antara masalah, konsekuensi dan solusi. Dan yang dibutuhkan untuk tetap waras, adalah bacaan-bacaan yang memperkaya wawasan, juga menentramkan hati.

Sementara novel, bagi Ferdy hampir tak ada bedanya dengan sinetron bersambung atau opera sabun. Membawa pembacanya berkelana di alam mimpi, menghadirkan sketsa-sketsa kebahagiaan semu, lalu menghentakkan kesadaran dan mendatangkan rasa lelah saat mimpi itu berakhir.

Tetapi, novel yang satu ini justru membuatnya menjilat ludah. Novel yang sesungguhnya bertema klasik, namun seakan memiliki kekuatan untuk menyedotnya masuk ke dalam pusaran cerita, menarik jemarinya untuk terus menyibak lembarannya hingga langsung selesai at one sitting.

“Kak Ferdyyyy, lihat novelku nggaaak?”

Teriakan nyaring Moira, refleks membuat Ferdy melempar novel itu ke laci terbawah meja komputernya. Lalu membalas tak kalah nyaring. “Novel yang mana, Moooi?”

Moira, adiknya yang tubuhnya agak berisi itu, menyembulkan wajahnya dari pintu kamarnya yang bersisian ruang kerja Ferdy. “Yang judulnya The Deep Erosion. Kemaren aku membacanya di meja kerja kakak.”

“Apa? Deep….Deep Erosion? Kaya’nya nggak ada tuh. Yang ada Deep Think and Goal. Kamu mau baca?” ujar Ferdy sambil menarik buku tebal dari atas mejanya.

Moira menggeleng. “Ogah. Buku kakak nggak asyik. Ntar kalau ketemu novel itu kasih aku ya, kak?” 

“Emangnya kenapa? Novel pinjeman? Yang punya udah nagih?” 

“Minjem? Nggak lah ya! Aku beli sendiri lagi, hasil nebok si Prili!” Moira menyebut nama celengan kelincinya sambil membelalakkan matanya yang sipit. Wajah bulatnya jadi terlihat lucu dan menggemaskan. Ferdy sekuatnya menahan tawa. Memahami bahwa Moira pasti ngambek berat kalau ‘kelebihan’nya itu ditertawakan.

“Minggu depan ada acara talkshow dengan penulisnya, kak. Aku mau datang bawa novelnya, mau minta tanda tangan sama penulisnya. Keren ‘kan? Jarang-jarang lho kolektor novel yang juga sekalian ngoleksi tanda tangan penulisnya?” ujar Moira seraya tersenyum sumringah, lalu berputar menuju …..dapur!

Ini memang kebiasaan Moira setiap malam : membongkar isi kulkas dan lemari dapur demi menemukan sesuatu untuk dikunyah. Kalau tidak melakukan itu, malamnya dia akan susah tidur. Insomnia. Gelisah sampai pagi.

Ferdy mengekor kepergian Moira dengan sudut matanya, tanpa sadar bibirnya menarik seulas senyum tipis. Begitu cepat waktu berlalu. Dan Moira sudah bukan gadis kecil lagi. 

Rasanya baru kemarin, peristiwa naas itu terjadi. Peristiwa jatuhnya pesawat komersil yang membawa serta segenap penumpangnya ke alam baka, termasuk papa dan mama. Peristiwa duka yang membekaskan lara di jiwa Moira. Membuat gadis cilik yang baru berusia dua belas tahun ketika itu, terperangkap oleh kemurungan dan kesedihan dalam lintasan waktu yang tak sekejap.

Namun, seperti kata orang bijak, selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Kepergian papa dan mama menjadi babak baru dalam hubungan kakak beradik Ferdy dan Moira. Hubungan itu perlahan bertransformasi dari interaksi Tom and Jerry menjadi simbiosis mutualisme ala Nobita dan Doraemon. Dari yang sebelumnya tidak pernah akur, kini menjadi saling dukung dan saling sayang meski usia mereka terpaut jauh.

Papa dan mama tidak meninggalkan warisan berlimpah. Hanya sebuah rumah sederhana, sejumlah deposito yang dipersiapkan untuk kuliah , dan koleksi buku-buku yang seabreg. Buku-buku yang tak memberi kecukupan materi, namun mencukupi jiwa mereka dengan harta karun yang tak kalah berharga. Tidak salah kalau sejak dini papa dan mama telah menanamkan kebiasaan membaca pada Ferdy dan Moira. Sampai kini pun, mereka berdua mewarisi hobi almarhum papa dan mama yang sangat pencinta buku.

“Kak, mau dibikinin susu coklat nggaaak?”

“Mau dooong.” Jawab Ferdy. Moira muncul tak lama kemudian sambil membawa dua gelas susu coklat hangat, dan meletakkan satu gelasnya di meja Ferdy.

“Terima kasih, Moi. Allah Maha penyayang, sudah memberiku seorang adik yang baik hati.”

Pujian tulus itu membuat pipi putih Moira langsung bersemu merah. Seperti tomat masak. “Kak Ferdy, omongannya udah kaya’ yang di novel-novel.”

“Ah, masa? Biasa ajalah.”

“Biasa sih biasa, tapi jangan sampe gugup gitu dong. Aku ‘kan cuma becanda.”  Tukas Moira kenes, lalu mengangkut susu coklatnya dan beringsut ke kamarnya.

Pfuh! Ferdy menarik nafas lega. Tapi, benarkah tadi ia tampak gugup? Perlahan, jemari Ferdy bergerak ke laci terbawah. Menarik kembali novel yang tadi ia lemparkan ke dalamnya. Sebelah tangannya yang membuka kembali lembar belakang buku, sedikit bergetar. Moira benar, sepertinya ia memang sedikit gugup. Untuk alasan yang ia sendiri tidak memahaminya.

Kedua matanya tertumbuk pada alamat surel yang ada di lembar terakhir, dan… “Kak….” 

 Buk! Novel di tangan Ferdy terlepas, meluncur bebas ke lantai. Kaki Ferdy bertindak cepat, menginjaknya dengan telapak kaki. “Ada apa, Moi?”

Entah kapan, wajah Moira telah kembali nongol dari balik pintu kamarnya.“AC-nya nggak mau dingin, padahal suhunya udah 18’C. Lama nggak diservis, ya?” 

“Oh..i.iya kali. Besok deh kakak panggilin teknisi AC. Kalau panas, kamu tidur di lantai aja….”

“Kak…” 

“Apalagi, sayaang?”

 “Itu, kakinya kok diganjel?” Sepasang mata Moira menatap ke arah bawah meja.

“Oh…ini…eh, kaki kakak pegel. Jadi diganjel.” 

“Pegel?”

 “Iya pegeeel. Udah ah bawel amat! Sana tidur! Udah malem!” 

“Issh, nggak perlu marah-marah keles. Aku ‘kan cuma nanya !” Moira melengos, kembali menutup pintu, kali ini dengan membanting. Brak!

Pfuh! Ferdy menghela nafas sekali lagi, meraih novel itu secepat kilat, lalu melemparnya begitu saja ke dalam tas laptopnya.

Artikel Asli