Rumah Untuk Cinta - Part 1: 15 Panggilan Tak Terjawab

Storial.co Dipublikasikan 07.21, 12/08 • Riawani Elyta
15 Panggilan Tak Terjawab

Pagi Minggu yang cerah. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menikmati hari libur dengan me time di rumah.

…………Triing triiing………… Triing triiing …. Triing triiing …..

Lupakan. Abaikan. Ini waktu untuk bersenang-senang. Waktunya menjadi individualis sejati.

…………Triing triiing………… Triing triiing …. Triing triiing …..

Pfuh ! Nggak sabaran banget sih? Tatya mendengus gusar. Sedikit menyesal, kenapa tadi tidak mengubah setting-anponselnya ke flight mode, atau mematikannya sekalian. Jadi tak ada yang berhak mengganggu me time-nya di kamar mandi.

…………Triing triiing………… Triing triiing …. Triing triiing …..

Masa bodo! Tatya bergeming didepan cermin, menatap penuh sukacita pada deretan skincare-nya. Benda-benda itu seakan memanggil-manggilnya untuk segera memulai “ritual”nya. Ok. It’s time to start.

Tatya meraih jar berisi green tea scrub, mengoleskannya ke sekujur tubuh, lalu memijatnya lembut tapi intens. Kemudian, giliran peel-off mask. Cukup dicolek seruas jari dan diratakan pada wajah.

…………Triing triiing………… Triing triiing …. Triing triiing …..

Konsentrasi Tatya pecah. Berantakan. Jatuh berkeping-keping. Tangannya cepat menyambar handuk, menutupi tubuhnya yang masih dipenuhi butiran scrub, lalu keluar kamar mandi dengan setengah berlari.

Untung, Sultan sedang tidak di rumah. Kalau tidak, pastilah keponakannya yang pecicilan itu, (dering norak ponselnya hari ini, Tatya yakin adalah hasil utak-atik Sultan), akan memekik histeris saat melihat tantenya seperti kuntilanak yang kekurangan kain.

…………Triing triiing………… Triing triiing …. Triing triiing …..

Dering menyebalkan itu langsung berhenti, persis ketika Tatya menempelnya di telinga. Tatya melihat layar. Lalu ternganga takjub : 15 panggilan tak terjawabl!

Itu artinya, sang penelpon telah menghubunginya sejak dia masih sibuk membereskan dapur. Sementara sang ponsel berada di kamar tidurnya yang tertutup.

Tatya mengusap layar. Keheranannya kini berganti was was. Semua miss call itu, ternyata hanya berasal dari satu nama. Aprilianty Azhari.

Ada apa gerangan kak April menelponnya sampai belasan kali? Tatya lalu memencet gambar telpon, dan….

Klik! “Assa…”

 “Eh kucing Persia ! Lo baru abis nyekokin Dextro ya sampe budeknya ampun-ampunan? Laen kali kalo mau fly matiin dulu tuh ponsel ….!”

Astagfirullah! Tatya mengusap-usap dadanya saking kagetnya. Mimpi apa mbakyunya semalam?

 “Kok diem? Lo keselek tulang ya?”

Tulang. Keselek. Kucing Persia! Hm. Satu sel di benak Tatya langsung merangkai short term connection. Makian-makian yang berhamburan kali ini, pastilah ada hubungannya dengan gambar kucing Persia yang ia jadikan facebook profile-nya minggu lalu. Dan komentar pertama, dari siapa lagi datangnya kalau bukan dari Aprilia.

Tumben PP lo kucing? Bukannya lo nggak suka kucing? Knp? Kualat sama Bu Selvi?

Bu Selvi adalah pemilik rumah-rumah sewa di Ville Empire yang salah satunya disewa Tatya, sekaligus penyayang kucing kelas berat. Sayangnya, para kesayangan Bu Selvi itu kerap meninggalkan jejak kotoran di setiap halaman rumah sewa. Membuat Tatya kerap mengomel tentang Bu Selvi yang tidak mengajari kucing-kucingnya sopan santun.

Namun, saat ini Tatya tidak sedang memikirkan Bu Selvi. Pikirannya masih tertuju pada Aprilia. Selama ini, biarpun sering nyablak, Aprilia tidak pernah memanggilnya dengan makian yang tidak sopan. Masih untung, cuma kucing Persia.  Tetapi, semanis-manisnya kucing Persia, tetap saja……hewan, bukan?

Itu artinya…. kemungkinannya hanya satu : “Kak April, lagi marah sama Tya ya?” Suara Tatya langsung turun ke level terendah. Juga dengan intonasi semanis mungkin.

“Udah tahu nanya! Nggak sensi banget sih!”

Suara Aprilia masih bertahan di nada tinggi. Tatya spontan menjauhkan ponselnya.

“Apa maksud lo menelanjangi masa lalu gue lewat novel picisan lo itu?”

Tatya tertegun. Jadi ini sumber masalahnya. Sama sekali di luar dugaannya, kalau novelnya yang terbit tiga bulan lalu itu, novel yang langsung cetak ulang saat masih berstatus pre order, menjadi penyebab kemarahan mbakyunya siang ini.

Tetapi, bukankah Aprilia sendiri telah mengijinkan? Dan, Tatya yakin kalau ia telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperhalus setiap sisi, menyingkirkan hal-hal yang tak pantas, menulisnya dengan segenap kemampuan dan ketulusan demi menghasilkan sebuah novel yang bakal disukai pembaca-pembaca setianya. Lantas, sisi mana yang membuat Aprilia jadi emosi begini?

“Kak April, dengar dulu penje….”

Bibir Tatya mendadak kaku. Menyusul kedua pipinya, lalu hidung, dagu, …jidat!

Astagfirullah! Tatya baru ingat. Bukankah tadi ia tengah mengoles peel-off mask sebelum berlari menjawab panggilan Aprilia? Dan menit yang terus berjalan ternyata telah sampai masanya untuk masker beraroma bengkoang itu mengeras di wajahnya.

Tatya langsung menekan end call. Tak peduli bagaimana reaksi mbakyunya di seberang sana. Lalu mengetik sebaris WA memohon excuse.

Sori mbak, wjhku udh retak2! Call me tonight at 12. Bye.

Artikel Asli