Rumah Sakit di Beirut Kewalahan Tangani Korban Ledakan

Medcom.id Dipublikasikan 04.47, 05/08 • https://www.medcom.id
Kondisi salah satu ruas jalan di Beirut, Lebanon, usai terjadinya ledakan di area pelabuhan, Selasa 4 Agustus 2020. (Foto: STR/AFP/Getty)

Beirut: Hampir semua rumah sakit di wilayah ibu kota Lebanon kewalahan menangani gelombang korban luka dari ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada Selasa 4 Agustus. Ledakan yang berasal dari gudang bahan kimia itu menewaskan 78 orang dan melukai 4.000 lainnya.

"Rumah sakit sudah hampir tidak bisa (menerima pasien baru)," kata Leila Molana-Allen, koresponden kantor berita France 24 kepada media BBC, Rabu 5 Agustus 2020.

Ia juga merupakan salah satu korban luka, yang sudah menerima perawatan di salah satu rumah sakit di Beirut. Molana-Allen mengatakan, rumah sakit tempatnya dirawat sempat menerima 300 pasien hanya dalam kurun waktu beberapa jam.

"Tenaga medis kehabisan beberapa jenis antibiotik. Semua orang di sini mengalami luka akibat terkena serpihan kaca dan lainnya," sebut Molana-Allen.

Sebelum terjadinya ledakan, sejumlah rumah sakit di Beirut dan wilayah lainnya di Lebanon sudah kerepotan menangani pasien virus korona (covid-19).

Molana-Allen menggambarkan kepanikan warga usai terjadinya ledakan. Awalnya, banyak warga Beirut mengira ledakan ini merupakan sebuah serangan yang dilancarkan pihak tertentu.

Namun selang beberapa waktu, warga Beirut menyadari ledakan ini berasal dari timbunan bahan kimia amonium nitrat di sebuah gudang di Pelabuhan Beirut.

"Saat orang-orang menyadari adanya keteledoran pemerintah, mereka marah besar. Tingkat kemarahannya tak terbayangkan, dan menyebar dari satu warga ke warga lain," tutur Molana-Allen.

Sebelumnya, Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan bahwa ledakan di Beirut berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di area pelabuhan selama enam tahun.

 

Sementara Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengatakan, akan ada pihak yang harus bertanggung jawab atas ledakan mematikan yang terjadi di sebuah "gudang berbahaya" di Pelabuhan Beirut.

Artikel Asli