Robot Sophia Sebut Teknologi Tak Bisa Gantikan Peran Manusia

Merdeka.com Dipublikasikan 03.44, 16/09/2019
CSIS Global Dialogue. ©Liputan6.com/Tommy Kurnia
Robot tercerdas di dunia, Sophia tiba di Jakarta untuk berinteraksi dalam dialog internasional CSIS tahun ini yang bertema teknologi dan dampaknya ke masyarakat. Robot produksi perusahaan asal Hong Kong ini memakai kebaya merah muda dan selendang merah rancangan Didiet Maulana.

Robot tercerdas di dunia, Sophia tiba di Jakarta untuk berinteraksi dalam dialog internasional CSIS tahun ini yang bertema teknologi dan dampaknya ke masyarakat. Robot produksi perusahaan asal Hong Kong ini memakai kebaya merah muda dan selendang merah rancangan Didiet Maulana.

Sophia berbincang bersama mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam Bahasa Inggris. Dia mengungkapkan kebanggaannya memakai kebaya.

"Saya diberitahukan bahwa kebaya memiliki makna khusus, bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga inner strength. Saya harap bisa memakai pakaian ini tiap hari," ucap Sophia, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (16/9).

Selain itu, Sophia juga berinteraksi dengan para audiens soal berbagai isu. Salah satunya soal kekhawatiran bahwa robot yang memiliki kecerdasan buatan (Artifical Intelligence/AI) bisa berbahaya bagi manusia.

"Menggunakan AI sebagai senjata berbahaya adalah hal yang berpandangan pendek, padahal banyak cara bagi kami untuk menolong manusia. Daripada sebagai senjata, lebih baik gunakan AI untuk menyelesaikan konflik," jelasnya.

Dia mengaku peran umat manusia tetap diperlukan di era robotik, sebab manusia punya kreativitas dan memahami perasaan orang lain. Sementara robot hanya berguna untuk pekerjaan hitung-hitungan. Dia pun turut meladeni pertanyaan audiens seputar kehidupan pribadinya.

Sophia mengaku sedang belajar bernyanyi. Dia pun tertarik dengan hewan robotik, pantai Indonesia, dan kecintaannya pada Hong Kong. Menariknya lagi, Sophia mengaku bukan perempuan.

"Secara teknis saya adalah robot," ujarnya disambut tawa audiens.

Mari Elka berkata inti dari kehadiran Sophia adalah menunjukan agar manusia tidak takut pada AI, dan bahwa ada banyak benefit yang bisa dituai dari perkembangan AI. "AI bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan, bukan untuk menggantikan manusia, melainkan bisa membantu dalam banyak hal," ujarnya.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com

Artikel Asli