Risiko Industri Alat Berat Tinggi, Industri Multifinance Hati-hati Menyalurkan Kredit

Kontan.co.id Dipublikasikan 23.48, 09/08 • Annisa Fadila

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Virus Corona (Covid-19) menekan industri pembiayaan atau multifinance alat berat. Risiko yang tingi menyebabkan perusahaan multifinance berhati-hati dalam memberikan pembiayaan.

Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2020, pembiayaan alat berat menurun 12,31% year on year (yoy) menjadi Rp 33,68 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu mencapai Rp 38,41 triliun.

PT Mandiri Tunas Finance (MTF) mencatat, permintaan terhadap pembiayaan alat berat ikut menurun sejalan ekonomi yang lesu. Selain itu risiko kredit ikut meningkat.

Baca Juga: BPJS Kesehatan bukukan laba sepanjang tahun 2019

Penyaluran pembiayaan alat berat MTF sampai Juli 2020 hanya Rp 509 miliar. Nilai itu turun 26,76% dibandingkan dengan akhir tahun lalu sebesar Rp 695 milliar.

Oleh karena itu MTF memilih fokus pada pembiayaan mobil baru dan multiguna. "MTF masih belum berencana agresif dalam pembiayaan alat berat, karena capping cuma 5%," kata Direktur PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo, Minggu (9/8).

Tren pembiayaan alat berat PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI) juga turun signifikan. Meskipun, mereka tetap mendapatkan proyek baru maupun pesanan untuk penggantian.

Baca Juga: Valuasinya Banyak yang Menarik, Ini Daftar Saham LQ45 yang Layak Dilirik

Hingga kini, IMFI belum berencana agresif mengejar pembiayaan. "Strategi bisnis IMFI ke depan akan fokus pada penagihan angsuran debitur, juga melakukan pembiayaan kepada debitur dengan kualitas baik," ungkap CEO PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI) Gunawan Effendi.

Sementara PT Buana Finance Tbk mengaku, permintaan alat berat masih tumbuh. Hanya saja, Sekretaris Perusahaan PT Buana Finance Tbk Ahmad Kaetami tidak menyebutkan besarannya.

Buana Finance yakin, tren pertumbuhan akan berlanjut sampa akhir tahun. Namun dengan catatan, sektor pertambangan kembali menggeliat.

Secara umum, Buana Finance tetap berhati-hati menyalurkan seluruh pembiayaan di tengah ekonomi yang penuh ketidakpastian. Mereka menerapkan analisis kredit yang tepat supaya risiko kian terukur. Proyeksinya pembiayaan baru tumbuh 5% hingga akhir tahun ini.

Artikel Asli