Riset: bonus demografi Indonesia bisa hangus karena gaya hidup buruk pada usia muda

The Conversation Indonesia Dipublikasikan 07.21, 14/08/2020 • Diahhadi Setyonaluri, Researcher at the Lembaga Demografi Faculty of Economics and Business, Universitas Indonesia dan Flora Aninditya, Researcher at Lembaga Demografi, Universitas Indonesia
Usia produktif bisa hilang karena risiko kecelakaan tinggi saat orang tidak pakai helm saat naik motor. Seorang warga mengendarai sepeda motor tanpa helm sambil menggendong kedua anaknya di Banyuwangi, 4 Juli 2020. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj.

Artikel ini untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 Indonesia.

Kualitas sumber daya manusia menjadi topik yang sering diperbincangkan saat sebuah negara merayakan ulang tahun kemerdekaannya, termasuk Indonesia.

Setelah 75 tahun Indonesia merdeka, sebuah riset dari Kementerian Kesehatan menemukan bahwa penyakit tidak menular (PTM), seperti stroke, penyakit jantung iskemik (penyempitan pembuluh darah), diabetes dan sirosis hati, yang biasa dialami oleh penduduk lanjut usia (lansia) juga ditemukan di kelompok usia produktif dan bahkan usia 10-14 tahun.

Saat ini Indonesia telah memasuki periode “beban ganda penyakit” karena terjadi peningkatan kejadian penyakit tidak menular yang disebabkan oleh gaya hidup berisiko seperti pola makan yang kaya lemak dan gula, serta kebiasaan merokok, di tengah masih tingginya penyakit menular.

Hasil analisis Kajian Sektor Kesehatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yang kami tulis dan terbit tahun lalu, menunjukkan bahwa beban ganda penyakit akan berpengaruh pada hilangnya produktivitas penduduk usia kerja.

Ini dapat mengancam pencapaian bonus demografi, yaitu pertumbuhan ekonomi yang didorong jumlah penduduk usia produktif (15-64) yang lebih banyak dibanding anak-anak dan lansia. Jika penduduk usia produktif Indonesia menderita berbagai penyakit, mereka tidak bisa bekerja secara maksimal sesuai dengan potensi terbaiknya. Bisa jadi mereka harus menjalani perawatan atau mengalami keterbatasan tenaga, dan juga mengeluarkan banyak biaya untuk berobat. Jika kondisi ini berlanjut, produktivitas penduduk suatu negara akan terganggu.

Bonus Demografi di negeri ini diperkirakan akan berakhir pada 2036, saat persentase penduduk usia lanjut usia mulai meningkat. “Penuaan” penduduk Indonesia juga berpotensi memunculkan berbagai isu untuk diantisipasi, terutama isu kesehatan.

Gaya hidup yang buruk dan kecelakaan lalu lintas di kalangan orang muda yang cenderung meningkat merupakan dua dari sejumlah faktor yang “menghancurkan” potensi produktif yang pada usia muda.

Jika gaya hidup lebih sehat dan keselamatan lalu lintas ditingkatkan, kehilangan masa produktif itu bisa dicegah.

Bonus demografi pertama dan kedua

Teori Transisi Demografi mengatakan bahwa setiap negara mengalami perubahan pola kematian dan kelahiran yang kemudian memengaruhi pertumbuhan penduduk.

Penurunan angka kelahiran, karena semakin sedikitnya jumlah anak dalam satu keluarga, dan peningkatan usia harapan hidup (UHH), karena penurunan kematian akibat penyakit menular serta semakin baiknya kondisi kesehatan ibu dan anak, menyebabkan perubahan struktur umur penduduk di Indonesia. Ini pada gilirannya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dampak perubahan struktur umur penduduk terhadap ekonomi tersebut dikenal dengan bonus demografi.

‘Bonus’ atau keuntungan ekonomi tersebut diperoleh melalui peningkatan pendapatan per kapita, yaitu rata-rata pendapatan penduduk suatu negara, atau akumulasi aset.

Dalam demografi, potensi bonus demografi tersebut tercermin dari perubahan angka Rasio Ketergantungan (RK), yang menunjukkan banyaknya penduduk usia anak dan lansia dibandingkan jumlah penduduk usia kerja. RK memberikan gambaran berapa orang yang menjadi tanggungan ekonomi bagi masyarakat produktif. Sebuah negara akan mendapatkan keuntungan ekonomi ketika RK mengalami penurunan.

RK Indonesia menurun sejak akhir 1970-an dan diperkirakan terus menurun hingga mencapai titik terendah pada 2020-2035. Pada awal 1970-an, 5 orang penduduk usia produktif menanggung 4 orang penduduk usia anak. Kini, 5 orang penduduk usia produktif menanggung 2 orang anak tapi ditambah dengan 1 orang lansia.

Penurunan Rasio Ketergantungan memunculkan dua “jendela kesempatan” meraih bonus demografi.

Bonus demografi pertama diraih saat terjadi peningkatan pendapatan per kapita sebagai hasil dari peningkatan penduduk usia produktif relatif terhadap usia non-produktif. Namun demikian, bonus ini bersifat sementara atau transisi.

Sementara bonus demografi kedua dapat diraih setelah penduduk usia kerja mengakumulasi aset melalui investasi dan tabungan hari tua untuk membiayai konsumsi masa tua.

Kedua bonus dapat optimal jika sumber daya manusia berkualitas, sehat, dan produktif.

Beban ganda penyakit mengurangi bonus demografi

Disability Adjusted Life Years (DALYs) Loss atau total tahun produktif yang hilang digunakan dalam bidang ekonomi kesehatan untuk mengukur potensi waktu produktif penduduk suatu negara yang tidak bisa dimanfaatkan karena buruknya kondisi kesehatan.

Berdasarkan data Global Burden of Disease pengendalian penyakit menular pada 1990-2016 berhasil menurunkan DALYs loss Indonesia sebesar 58,6% dari 43,8 juta menjadi 18,1 juta tahun produktif.

Pada 2017, penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung iskemik, dan diabetes menjadi penyebab utama DALYs loss, diikuti penyakit menular seperti tuberkulosis dan diare, serta trauma akibat kecelakaan lalu lintas.

Penyakit tidak menular, penyakit menular dan trauma kecelakaan menyumbang pada banyaknya total tahun produktif yang hilang pada kelompok umur produktif tapi pada tahap siklus hidup yang berbeda-beda.

Tahun yang hilang karena stroke dan diabetes meningkat pada usia 40 dan mencapai puncaknya pada usia 55-59, sementara pola tahun hilang pada tuberkulosis terjadi pada usia 20 hingga 49 tahun.

Di Indonesia, setiap hari 300 orang mati karena tuberkulosis.

Tahun yang hilang karena kecelakaan lalu lintas terjadi pada usia muda, kelompok usia 15-24 tahun. Tahun lalu, misalnya, lebih dari 23.000 orang tewas akibat kecelakaan, dari total sekitar 107.000 kasus kecelakaan.

Kesakitan tersebut tidak saja mengurangi kemampuan untuk produktif secara ekonomi, tapi juga menambah beban biaya kesehatan yang seharusnya hanya berasal dari penduduk usia anak dan lanjut usia.

Gaya hidup adalah faktor risiko tertinggi

Meningkatnya kontribusi penyakit tidak menular terhadap kematian dan tahun produktif yang hilang pada usia produktif dipengaruhi faktor risiko akibat pola hidup yang kurang sehat.

Pola makan yang buruk seperti kaya lemak, gula dan kurang serat menduduki ranking tertinggi dari keseluruhan faktor risiko penyebab kematian akibat berbagai penyakit. Ini diikuti dengan tekanan darah tinggi dan gula darah puasa yang tinggi yang juga dipengaruhi pola makan dan gaya hidup yang buruk. Konsumsi tembakau atau merokok juga meningkatkan faktor risiko.

Malnutrisi serta kelebihan berat badan menduduki ranking 5 dan 6. Hal ini menunjukkan Indonesia mengalami double burden of nutrition, yaitu situasi yang menggambarkan ada kelompok penduduk yang mengalami kurang gizi dan juga ada kelompok penduduk yang mengkonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan.

Air, sanitasi, dan higienitas masih termasuk dalam 10 faktor risiko tertinggi yang berkontribusi pada masih tingginya kontribusi penyakit infeksi pada kematian dan tahun produktif yang hilang.

Kebiasaan merokok yang tinggi berkontribusi meningkatkan tahun yang produktif yang hilang pada usia produktif. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat 63% laki-laki dan 4, 8% perempuan mengkonsumsi tembakau hisap dan kunyah pada 2018. Kelaziman merokok di kelompok usia muda 10-18 tahun malah meningkat dari 7% menjadi 9% antara tahun 2013-2018.

Perilaku berkendara yang tidak aman juga mempengaruhi hilangnya tahun produktif yang tinggi karena kecelakaan. Data Riskedas (2018) menunjukkan rendahnya penggunaan helm, hanya 16% yang pakai helm saat mengendarai sepeda motor, terutama pada kelompok usia 15-24 tahun. Dengan berkembangnya kesempatan kerja di bidang transportasi berbasis aplikasi daring, semakin banyak penduduk usia muda yang bekerja di sektor tersebut dan semakin terpapar kemungkinan risiko kecelakaan.

Data dari Lembaga Demografi FEB UI tahun 2017 menunjukkan bahwa sekitar 38% mitra pengemudi transportasi berbasis aplikasi daring berusia 20-30an tahun. Total pengojek online berkisar 2-2,5 juta orang.

Implikasi kebijakan

Dengan jumlah penduduk usia kerja yang besar, Indonesia menghadapi peluang maupun tantangan. Di satu sisi, penduduk usia kerja yang besar merupakan sumber percepatan untuk pertumbuhan ekonomi jika penduduk ini produktif secara ekonomi.

Selain itu, besarnya penduduk usia kerja relatif terhadap penduduk usia tidak produktif (anak dan lansia) merupakan keuntungan bagi jaminan kesehatan dalam hal potensi pembayaran premi serta support ratio yang relatif tinggi.

Namun di sisi lain, bila penduduk usia kerja memiliki keterampilan yang rendah serta status kesehatan rendah yang mengurangi produktivitasnya, maka mereka akan menjadi beban.

Sementara itu, tantangan utama untuk penduduk usia kerja adalah masih rendahnya pendidikan serta keterampilan tenaga kerja Indonesia serta beban penyakit yang cukup besar diderita oleh kelompok usia tersebut, terutama penyakit tidak menular (PTM). Hal tersebut menyebabkan mutu modal manusia Indonesia menjadi tidak optimal untuk mencapai bonus demografi.

Untuk menuju kualitas yang lebih baik pada satu abad usia kemerdekaan Indonesia, selain peningkatan kompetensi dan keterampilan, kegiatan mempromosikan hidup sehat dan mencegah penyakit, juga mencegah kecelakaan lalu lintas, perlu lebih digiatkan untuk meningkatkan produktivitas kelompok usia usia kerja.

Diahhadi Setyonaluri menerima dana dari UNICEF untuk riset Kajian Sektor Kesehatan.

Flora Aninditya menerima dana dari UNICEF untuk riset Kajian Sektor Kesehatan.

Artikel Asli