Ridwan Kamil Buka-bukaan Penyebab Bandara Kertajati Tinggal Dilayani 2 Maskapai

Merdeka.com Dipublikasikan 10.44, 17/09/2019
Ridwan Kamil Soal Bandara Kertajati. ©2019 Merdeka.com/Aksara Bebey
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) ditinggalkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Citilink karena sepi penumpang. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengakui hal itu disebabkan oleh aksesibilitas pendukung ke Bandara Kertajati yang belum maksimal.

Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) ditinggalkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Citilink karena sepi penumpang. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengakui hal itu disebabkan oleh aksesibilitas pendukung ke Bandara Kertajati yang belum maksimal.

Sebelumnya, terdapat empat maskapai yang melayani penerbangan dari BIJB, yakni Lion Air, AirAsia, Garuda Indonesia dan Citilink. Namun, saat ini bandara yang berlokasi di Majalengka itu hanya dilayani AirAsia dan Lion Air.

Beberapa alasan melandasi dua maskapai pergi. Salah satunya adalah kinerja perusahaan dari segi keuntungan yang tidak maksimal. Di lain pihak, Lion Air dan AirAsia melayani sembilan rute penerbangan domestik dengan frekuensi 12 hingga 15 penerbangan setiap harinya.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan bahwa dinamika BIJB karena jalan tol untuk akses masyarakat belum terbangun. Jadi, selama aksesibilitas yang memudahkan tidak tersedia, maka penumpang lebih memilih tempat lain.

"Saya kira kita harus cari cara jangka pendek. Makanya kita dorong bersama Kementerian PUPR untuk mempercepat, mohon doanya selesai jalan tol saya yakin dari sini (Bandung) ke sana (Kertajati) yang biasanya tiga jam bisa hanya 45 menit," kata dia ditemui di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (17/9).

"Kuncinya jalan tol, jalan tol yang belum selesai membuat warga memilih pilihan yang mungkin lebih nyaman bagi mereka. Apapun pertanyaan Kertajati jawabannya itu," dia menambahkan.

Saat ini, proyek pengerjaan jalan tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu) diklaim sudah 50 persen. Dia mengaku akan terus memonitor agar tahun depan tol tersebut bisa rampung.

"Banyak kalau mau dibedah (permasalahan BIJB), seperti masalah tiket mahal, persepsi macam-macam, dinamikanya besar tapi intinya kami dari pemerintah selalu memaksimalkan keterbatasan yang ada. Kami tak tinggal diam. Tapi kan faktor ini namanya hubungan dagang antara konsumen dan pelayanan itu keputusannya ada di konsumennya. Konsumen akan memilih mana yang mudah dan nyaman," ucap dia.

Dikonfirmasi terpisah, Airport Operation and Performance Group Head PT BIJB Agus Sugeng membenarkan bahwa dua maskapai hengkang. Meski tidak spesifik, dia menolak bahwa tingkat keterisian penumpang tidak maksimal.

"Load factornya masih di atas 60 persen kok kalau di data kita. Per hari kita melayani 2.500 sampai 3.000 penumpang, rata rata. Kadang-kadang kan naik turun fluktuatif," terang dia.

Disinggung mengenai strategi untuk menjaga maskapai bertahan, pihaknya mengaku sudah memberikan insentif atau diskon untuk landing fee di Bandara Kertajati sampai satu tahun. "Lalu yang kedua kita juga sosialisasi kerjasama dengan pemerintah daerah terutama provinsi."

Artikel Asli