Review Film Hustlers

Cinemags Dipublikasikan 07.55, 15/10/2019 • Kent
Review Film Hustlers (1)

Sudah bukan rahasia lagi kalau film-film berdasarkan kisah nyata yang justru menarik dan mampu menjadi favorit di musim award datang dari kejadian yang tidak terlalu besar lingkupnya, atau malah baru dikenal secara global setelah diangkat ke layar lebar. Demikian pula dengan Hustlers ini yang  berdasarkan artikel tulisan Jessica Pressler berjudul “The Hustlers at Scores” di New York Magazine yang sempat viral pada tahun 2015.

Walaupun begitu, sebagaimana kebanyakan film berdasar kejadian nyata made in Hollywood lainnya, Hustlers mengetengahkan paduan antara drama kehidupan nyata dan penuangan imajinatif sang sineas.  Adapun,  yang kali ini dikedepankan adalah kisah kriminal yang dilakukan para penari erotis untuk mengeruk harta para korbannya.

Perlu diinformasikan sebelumnya, film-film tentang para stripper sendiri bukanlah sesuatu yang baru di Hollywood. Karena bagi yang sudah lama mengikuti perkembangan dan menonton film Hollywood pasti menyadari bahwa film-film tentang para penari erotis ini sudah ada sejak era 1980an, kala di negeri Paman Sam aktivitas pole dancing maupun hal-hal hiburan dengan muatan erotis yang lebih kental mulai diterima dengan pikiran terbuka oleh publik.

Flashdance, Blaze, Show Girls, maupun Striptease adalah film-film populer yang mengetengahkan tema utama perihal itu. Namun, perlu digarisbawahi, nyaris dari seluruh judul tersebut bisa dikategorikan berkualitas. Hal ini dikarenakan rata-rata cenderung mengedepankan unsur keseksian ketimbang mutu ceritanya. Namun, hal itu sepertinya berhasil didobrak oleh sineas wanita Lorene Scafaria, lewat garapan terbarunya ini.

Hustlers berkisah mengenai seorang gadis bernama Destiny yang dalam upayanya menyambung hidup dan melunasi utang besar sang nenek, melakoni profesi sebagai penari erotis. Awalnya, kesulitan beradaptasi, ia kemudian bertemu rekan seniornya, Ramona yang kemudian menurunkan ilmunya dan mengajarkannya bagaimana cara menuai uang dalam jumlah yang banyak.

Namun, ketika krisis moneter menghantam keras perekonomian Amerika di tahun 2008, dan Destiny sudah berstatus ibu dari satu putri, ia kehilangan kontak dengan Ramona. Hingga, akhirnya desakan kebutuhan ekonomi membuat Destiny kembali ke kehidupan lamanya.

Ia lalu bereuni dengan Ramona dan kelompoknya yang menolong frekuensi kedatangan klien ke klub telanjang. Dari situ, bersama dua rekan lain, Mercedes dan Annabelle, Ramona dan Destiny mulai melakoni cara mengeruk uang secara kriminal dengan cara membius pria kaya dan lalu mengeruk habis-habisan kartu kredit mereka, yang berujung rusaknya persahabatan dan menjadikan mereka berdua target buruan pihak berwajib.

Di bawah penanganan sineas lain mungkin Hustlers bisa berubah menjadi sebuah film drama tak berbobot yang hanya menjual erotisme belaka, namun untungnya, Scafaria lumayan berhasil mengarahkan kisah ini menjadi lebih fokus pada drama kehidupan menyentuh dan persahabatan. Dan beruntung pula kontribusi apik dua pemain utamanya, Jennifer Lopez dan Constance Wu mampu menjadi jiwa sesungguhnya dari Hustlers. Bahkan saking apiknya, banyak yang menganggap penampilan Lopez di sini adalah highlight paling cemerlang sepanjang karier perfilmannya dan menjagokannya sebagai salah satu nominator Oscar untuk Penampilan Pemain Pendukung Terbaik.

Penampilan apik jajaran pemain lain juga tidak diragukan merupakan nilai plus yang sangat transparan. Tidak hanya mampu menghidupkan karakter mereka, para aktris yang terlibat juga terlihat menikmati peranannya, sambil dalam prosesnya menjalin chemistry yang terlihat natural. Jangan lupakan pula pemilihan tembang-tembang yang berhasil menambah nyawa dan energi positif karya penyutradaraan Scafaria kali ini.

Walaupun mengetengahkan tentang para penari erotis, Scafaria tidak serta merta membuat Hustlers menjadi sebuah film yang vulgar. Memang banyak adegan atau penampilan seronok yang hingga pihak lembaga sensor tanah air harus memotong hingga kisaran 6 menit dari durasi sebenarnya, pun juga adegan diblur bertaburan namun Scafaria sama sekali tidak berusaha mengobjektivikasi ataupun merendahkan mereka. Para tokoh wanita di sini juga tidak diposisikannya sebagai distraksi, namun ketelanjangan dan bagaimana mereka mengusung seksualitasnya hanyalah sekadar bagian dari pekerjaan mereka.

Justru sebaliknya, dengan kematangan yang dituangkan dalam skrip yang ia susun sendiri, meski ditilik dari keseluruhan storylinenya film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru dan malah terkesan cenderung repetitif, Scafaria justru berhasil menyuguhkan film yang penuangannya bisa dibilang jarang dikedepankan film-film biopik pada umumnya. Tidak hanya itu saja, hasil arahannya juga membuat Hustlers menjadi suguhan yang enak dinikmati, dan kisah tentang dunia dari sudut pandang karakter-karakter wanita menarik, yang lumayan menghibur.

 

 

 

Artikel Asli