Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Review All the Bright Places: Bukan Kisah Cinta Remaja Biasa

tilehopper Dipublikasikan 11.00, 01/03/2020
Sumber: Netflix

Peringatan: review ini berisi spoiler untuk film dan novel All The Bright Places 

Walaupun sekarang udah tahun 2020, bukan berarti adaptasi novel young adult yang mulai populer tahun 2012 gara-gara The Hunger Games berhenti gitu aja. Buktinya tanggal 28 Februari kemarin, Netflix merilis film berjudul All the Bright Places yang diadaptasi dari novel tahun 2015 berjudul sama karya Jennifer Niven.

All the Bright Places menceritakan tentang hubungan tak terduga antara Violet Markey (Elle Fanning), seorang cewek populer di sekolah yang jadi penyendiri setelah kakaknya meninggal karena kecelakaan, dan Theodore Finch (Justice Smith), cowok yang dianggapfreak oleh satu sekolah dan sering hilang-hilangan. Kedengaran cheesy as hell? Well, read further down and decide for yourself. 

Take a Dive, or Don’t 

Untuk film romance yang premisnya kedengaran cheesy, adegan pembuka All the Bright Places bakal bikin penonton yang belum baca novelnya agak kaget. Theodore yang sedang jogging suatu pagi ngga sengaja bertemu dengan Violet yang tengah berdiri di ujung jembatan. Rasa penasaran Theodore pun akhirnya berujung dengan urungnya Violet untuk loncat. Sejak saat itu, bagaikan takdir, mereka banyak menghabiskan waktu berdua buat mengerjakan tugas akhir pelajaran Bahasa Inggris: menulis esai tentang tempat-tempat di Indiana yang berkesan bagi mereka. 

Sumber: Netflix

Walaupun opening scene-nya lumayan berat, mayoritas film bakal dihabiskan buat mengikuti perjalanan Violet dan Finch menjelajahi Indiana, saling mengenal satu sama lain, dan akhirnya jatuh cinta. Nothing extraordinary or unexpected dari sisi cerita, tapi performa Elle Fanning dan Justice Smith dalam menjiwai kedua karakter yang penuh luka trauma secara realistis dan penuh totalitas bener-bener mencuri perhatian. 

Sayangnya, hal yang sama ngga bisa dikatakan buat para pemeran pendukungnya. Teman satu-satunya Finch, Charlie (Lamar Johnson) dan Amanda (Virginia Gardner) ngga banyak muncul dan bener-bener forgettable, dan bahkan Embry yang diperankan oleh aktor nyentrik Keegan-Michael Key pun terkesan biasa aja. 

Banyak Banget Bedanya!

Sumber: Netflix

Kesulitan yang sering dialami film yang menjadikan sebuah novel sebagai source material-nya adalah gimana caranya bikin cerita di novelnya pas dengan durasi yang terbatas. Walaupun All the Bright Places udah melibatkan Jennifer Niven untuk terlibat langsung dalam penulisan naskah, banyak hal yang jadi daya tarik utama novel ngga diterjemahkan ke dalam filmnya.

Keunikan versi novel yang perspektifnya berubah-ubah dari Finch ke Violet di tiap bab jadi salah satu elemen yang hilang di versi film, yang akibatnya bikin banyak banget konteks hilang — baik dari segi cerita maupun karakter. Belum lagi ceritanya yang dipangkas habis-habisan, yang bikin klimaks dan resolusi film terkesan terburu-buru karena pakai teknik-teknik ‘murahan’ untuk membuat penonton meneteskan air mata.

(Sumber: Netflix)

Tapi ngga semua perbedaan antara novel dan filmnya berarti hal yang jelek. Chemistry antara Elle Fanning dan Justice Smith dan akting keduanya bener-bener sesuai dengan bayangan mereka yang membaca novelnya. Karena hal inilah kehilangan yang tiba-tiba muncul mendekati akhir film jadi jauh lebih sakit rasanya, karena sama seperti di dunia nyata, kadang kita kehilangan orang yang kita cintai di saat yang paling ngga terduga. 

You are Not Alone 

Sumber: Netflix

“Setiap 40 detik, satu orang meninggal karena mencabut nyawanya sendiri. Setiap 40 detik, satu orang ditinggal sendirian untuk berduka,” tulis Jennifer Niven di akhir novel All the Bright Places. Kehilangan dan kesehatan mental jadi tema utama All the Bright Places, dan bisa dibilang baik novel dan filmnya mampu meng-highlight dua isu sensitif ini dengan baik. 

Buat para penyintas, film ini mungkin berat dan sebaiknya dihindari dulu kalau masih berjuang dengan trauma. Di balik semua elemen romance-nya, All the Bright Places juga mengajak kita para penonton agar lebih berempati dan jangan pernah takut buat meminta tolong jika kita memerlukan bantuan. 

Tonton All The Bright Places di Netflix Indonesia. 

Hal Menyenangkan: Ceritanya yang penuh dengan empati, akting Elle Fanning dan Justice Smith yang luar biasa, pilihan score dan soundtrack. 

Sedikit Keluhan: Akting para pemeran pendukung, akhir cerita yang maksa banget buat bikin penonton emosional.

Bersiap Saja:Perbedaan jauh antara novel dengan film dari awal hingga akhir, banyaknya elemen cerita yang terpotong yang menghilangkan konteks penting, klimaks yang diselesaikan terburu-buru. 

Tentang Penulis: 

Seorang pecinta film yang biasa-biasa saja, @tilehopper sudah menulis review kecil-kecilan untuk film semenjak tahun 2018 dan pernah terlibat sebagai programmer untuk acara pemutaran komunitas film.