Return - Part 5: Lima

Storial.co Dipublikasikan 08.00, 14/08/2020 • Amelia Utami
Lima

“Aku ikut ke Bandung, ya.” Alan masih berusaha memohon ketika mereka tiba di stasiun kereta. “Kita naik mobil aja,” bujuknya tidak menyerah.

Rena menggeleng. “Udah lama aku nggak pulang, Lan.”

Alan terdiam. Setahunya dalam satu tahun Rena belum pernah pulang. Jadi, mungkin ini waktunya Rena berkumpul dengan keluarga.

“Aku janji kasih kabar kamu secepatnya…” Rena berhenti sejenak. Ketakutannya kembali meringsut. “Tentang pertemuan keluarga kita.”

“Jangan mikirin itu dulu,” kata Alan seakan paham tujuan Rena pulang bukan semata demi kepentingan hubungan mereka. “Kamu rencana cuti berapa hari?”

“Empat hari.”

“Kabari aku kalau pulang. Nanti aku jemput di stasiun.”

Rena menyinggungkan senyum tipis. Alan tidak tahu, kepulangannya punya misi lain. Bukan untuk melepas rindu, tetapi untuk bertempur maju. Semalam Rena sudah menyiapkan diri, terutama dalam menghadapi Dira.

 Ia akan membuktikan dirinya bukan lagi anak yang hanya diam saja ketika diperlakukan semena-mena. Kakak perempuannya itu harus tahu, Rena juga bisa melawan. Terlepas dari apapun tujuan Dira memintanya untuk pulang.

“Aku pergi, ya,” pamit Rena pada Alan.

“Hati-hati ya, sayang,” Alan mengelus-elus kepala Rena.

Kereta Argo Parahyangan akan tiba dalam sepuluh menit. Rena sudah tenggelam di antrean panjang konter check in. Sejenak Rena menghela napas. Dia yakin akan kembali ke Jakarta dalam keadaan baik-baik saja.

“Kamu resign dari pekerjaan kamu, Ren?” tanya Ibu dengan pandangan menentang. Sudah dua tahun putrinya bekerja di perusahaan telekomunikasi, lalu mendadak resign tanpa memberitahu terlebih dahulu.

“Aku udah nggak kuat lagi, Bu. Aku mau keluar dari rumah ini.” Rena mengambil beberapa helai baju dari lemari dan memindahkannya ke koper.

Ia masih ingat Ibu hanya berdiri mematung di sampingnya. Sesungguhnya dorongan Rena untuk keluar dari rumah bukan keputusan yang mengejutkan bagi Ibu. Rena sudah sering mengatakan sejak beberapa tahun lalu. Ibu hanya tak menyangka Rena benar-benar akan melakukannya.

“Gimana sama ibu dan bapak?”

Rena tertegun. Ada sorot terluka di mata Ibu. Namun, jika tidak pergi sekarang, Rena tak menjamin akan tetap bahagia. “Mulai sekarang ibu dan bapak jangan diam saja.”

“Itu alasan kamu pergi? Karena kamu lelah hanya diam saja?” cecar Ibu.

Kereta sudah berjalan sejak lima menit lalu. Rena menatap keruh pemandangan dari balik jendela sambil mengingat percakapan dengan Ibu dua tahun lalu. Tak dipedulikannya pramugari kereta yang menawarkan makanan dan minuman. Ia memilih pura-pura terpejam.

Sekitar dua jam lagi Rena akan menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Banyak orang merindukan Bandung karena kota itu memiliki kenangan yang mengikat, selain daya magis tempat wisata yang memikat. 

Beberapa film mengambil latar kota Bandung sebagai tempat romantis dua insan saling jatuh cinta, sedangkan sejumlah penulis melahirkan cerita patah hati dengan mengambil tempat-tempat ikonik, yang membuat pembaca turut hanyut pada perasaan nelangsa si tokoh. Berjuta kata puitis juga tak mau kalah dirangkai penyair sebagai wujud kecintaanya pada romansa tanah pasundan.

Namun, di mata Rena, Bandung lebih tepat seperti kota yang sudah dihilangkannya dari ingatan. Tidak ada lagi alasan untuk larut merasakan nostalgia semu. 

*** Taksi berhenti di seberang rumah dengan pagar besi hitam yang tidak terlalu tinggi. Rumah itu tidak berubah. Hanya cat bagian depan saja yang warnanya sudah pudar. 

Selebihnya sama seperti saat dia meninggalkan rumah. Pot-pot bunga koleksi Ibu yang menggantung di teras depan, mobil lawas Honda Civic milik Bapak yang diparkir di garasi terbuka, serta kursi kayu tua yang diletakkan di sudut teras.

Neng, sudah sampai.” Supir taksi menengok ke belakang dan nampak heran karena Rena masih bertahan di kursinya. “Ada yang perlu saya bantu?” wajahnya yang sudah berkeriput tersenyum ramah pada Rena.

Alih-alih menjawab pertanyaan supir taksi, Rena masih fokus menatap rumahnya. Bangunan itu seakan menyedotnya ke masa lalu. Arusnya kuat hingga mampu menyeretnya dengan cepat. Tubuhnya meronta-ronta ingin keluar. Hatinya perlahan tercabik, menimbulkan perasaan sakit yang merangkak.

“Bisa antarkan saya ke tempat lain saja, Pak?”

Supir menggaruk-garukkan leher dengan ekspresi bingung. Mungkin Rena adalah penumpang paling aneh yang pernah ditemuinya. Ketika semua penumpang ingin segera sampai ke tujuan, Rena hanya terpaku memandang sebuah rumah dari balik jendela.

“Saya bayar dua kali lipat.” Rena menyerahkan dua lembar uang seratus ribu.

“Baik, Neng.” Suara supir taksi berubah lebih bersemangat. “Mau ke mana?” Ia buru-buru memasukkan uang ke kantung baju, takut penumpangnya itu berubah pikiran.

“Ke taman kota, Pak. Terserah taman mana saja. Yang penting letaknya jauh dari sini,” perintah Rena.

Tubuh Rena seperti mengawang, dikombinasikan dengan pikiran yang kusut luar biasa. Hanya dengan melihat bagian depan rumahnya saja sudah menimbulkan bayangan mengerikan. 

Apalagi jika mengetuk pintu dan masuk ke dalam.

Iya, Rena tahu, sebenarnya dia tidak pernah berubah. Rena masih tetap pengecut yang memilih lari ketimbang menghadapi. 

Sama seperti beberapa tahun lalu. Gemar bersembunyi dan hanya diam saja. Tekad melawan yang dia kobarkan sejak di Jakarta melebur sia-sia. Kini dia justru meringkuk di dalam taksi. Berharap taksi terus melaju membawanya ke tempat jauh.

Artikel Asli