Return - Part 4: Empat

Storial.co Dipublikasikan 08.09, 07/08 • Amelia Utami
Empat

Ketukan keras di meja kerja Rena membuyarkan lamunannya. Ia sontak berdiri begitu tahu sosok yang sedang ada di hadapan. Linda Kusumadjaya. Pimpinan Cabang tempat Rena bekerja. 

“Tadi saya telepon.”

“Maaf, Bu.” Rena menunduk. “Tadi…saya…” Ia berusaha mencari-cari alasan agar tidak ketahuan sedari tadi pikirannya mengembara.

“Hei, santai, Ren.” Linda tertawa geli. “Ekspresi kamu tegang banget kaya mau diinterogasi.”

Rena hanya tersenyum malu. "Ada yang bisa saya bantu?"

“Saya mau ada keperluan sampai siang. Tolong kamu ke toko bunga yang biasa, ya,” ujar Linda. “Hari ini saya mau hadir ke grand opening toko roti teman baik saya nanti malam. Mereka janji mau kasih rekomendasi. Kamu yang putuskan pilih bunga yang mana.”

Linda memberikan credit card pada Rena. “Saya percaya pilihan kamu tidak pernah mengecewakan.” 

“Baik, Bu." Rena menerimanya. "Saya akan pilihkan bunga terbaik.”

Begitu Linda sudah masuk ke dalam lift, Rena mengembuskan napas panjang. Sejak Ibu menelepon, Rena tidak bisa tidur lelap. Akibatnya, sejak pagi dia tidak konsentrasi bekerja. Ketakutan mencengkeramnya kuat. Whatsapp dari Alan beberapa menit lalu menambah beban pikirannya.

Sayang, aku tunggu jawabannya segera.

Rena mengempaskan tubuhnya ke kursi. Ia pikir bisa mengatasi masalah tanpa melibatkan keluarga lagi. Nyatanya, ini lebih rumit dari yang dia bayangkan. Jika Alan terus mendesak, mau tidak mau Rena harus pulang. Alan tidak mau menunggu dan dirinya memiliki batas waktu.

Aku pulang Minggu ini.

Lima menit kemudian Rena mendapat panggilan telepon dari Ibu, tetapi ia menolaknya. Pesan Rena mungkin akan menimbulkan kelegaan bagi ibu dan bapak. Bagi Rena, kepulangannya semata demi kelancaran hubungannya dengan Alan. Bukan karena menjawab kerinduan Dira atas dirinya. Apa Dira bilang? Rindu? Rena hampir muntah jika mengingat pesan yang dikirim Ibu kemarin.

“Dem, gue mau ke toko bunga dulu. Ibu lagi pergi,” kata Rena pada Demi, salah satu rekannya di lantai dua.

“Baik, Mbak. Kira-kira balik jam berapa?”

After lunch maybe.” Rena berjalan cepat menuju lift.

***

Desy Florist

Rena mendorong pintu kaca dan langsung disambut oleh Della, salah satu karyawan yang sudah lama mengenalnya. “Selamat datang, Mbak Rena.” Della tersenyum lebar. “Sudah lama nggak ketemu,” katanya basa basi.

“Iya nih, soalnya yang biasa ambil Tito.” Rena menyebut nama supir pribadi Linda.

“Mari, Mbak. Saya sudah siapkan.” 

Della mengajak Rena ke meja sudut kanan yang sudah dipenuhi oleh beberapa buket bunga. Aroma berbagai jenis kembang mendesak indra penciuman Rena dan cukup membuat mood-nya sedikit membaik.

“Ada bunga lili putih. Selain melambangkan kesucian, bunga lili juga melambangkan persahabatan.” Tangan Della menyentuh buket di sebelahnya. “Ada bunga matahari. Bunga ini cocok sebagai hadiah untuk teman dekat atau keluarga. Warna bunganya yang cerah memancarkan keceriaan dan kekaguman.”

Rena menyimak penjelasan Della seraya mencium aroma bunga dan memeriksa kerapian buketnya. Sementara Della kembali melanjutkan tugas menjelaskan buket selanjutnya. Bagi Desy Florist, Linda bukan hanya pelanggan setia, tetapi juga salah satu klien yang paling disegani. 

Selain sering memesan bunga untuk kepentingan pribadi, Linda juga mengajak kerja sama toko bunga itu untuk kepentingan kantor, seperti urusan dekor ruangan atau acara formil perusahaan. 

Dan sebagai asisten toko yang sudah dipercaya oleh pemiliknya, Della yang bertugas merekomendasikan bunga-bunga terbaik sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

“Buket ketiga adalah bunga anggrek ungu. Melambangkan keanggunan, keindahan, dan kekuatan. Bentuknya yang cantik membuat bunga anggrek ideal untuk berbagai acara, salah satunya grand opening.”

Rena tak begitu memperhatikan bunga yang sedang dijelaskan oleh Della. Fokusnya teralih pada bunga yang paling mencolok karena ukuran buketnya paling besar, yaitu mawar putih dan merah. Bunga yang melambangkan cinta dan kecantikan itu seakan mengajaknya bernostalgia pada pertemuan pertamanya dengan Alan satu tahun lalu.

“Nggak ada stok lagi, Mbak?” seorang pria bertanya pada Della dengan nada putus asa. “Saya udah cari ke berbagai toko bunga, tapi mereka jawab sedang kosong.”

“Maaf Mas, kebetulan memang sudah tidak ada stok.”

Rena menatap pria di sebelahnya dengan pandangan menyelidik. Jika dia sedang terburu-buru mencari buket mawar, berarti hanya ada dua kemungkinan, yaitu dia akan menyatakan cinta atau dia akan melamar kekasihnya. 

“Maaf, kalau boleh tahu, memang untuk apa ya bunganya?” tanya Rena lancang, sekaligus penasaran.

Tatapannya teralih pada buket bunga yang sedang Rena pegang. Buket mawar merah dan putih. Kombinasi yang sempurna. 

“Bunga ini milik saya.” Rena mendekap erat buketnya seakan tahu apabila dia lengah sedikit saja, buket itu bukan tidak mungkin akan direbut paksa jika dilihat dari gelagatnya. Hari itu Linda bertunangan dan Rena sudah memesan bunga mawar putih sejak jauh-jauh hari.

“Bunganya saya beli, ya?” Ia memohon dengan sorot mata iba. Kemudian untuk meyakinkan Rena, dia mengeluarkan seluruh uang di dompetnya. “Segini kurang nggak? Kalau kurang, kamu boleh ambil jam saya.” Ia melepaskan jam tangannya yang Rena yakin harganya tidak murah.

Udah gila nih orang. Pikir Rena saat itu.

“Saya mohon dengan sangat.” Nada bicaranya semakin memelas. “Sore ini saya mau melamar pacar saya dan dia suka sekali bunga mawar.”

Rena tersenyum tawar mengingat kejadian yang rasanya seperti baru kemarin. Ekspresi wajah Alan bahkan masih jelas terekam diingatannya.

“Mbak Rena!” 

Suara Della menghentakkan Rena seutuhnya. ”Oh maaf, saya jadi nggak fokus. Sampai mana tadi?”

“Ini buket terakhir, Mbak. Mawar merah dan putih.”

Rena tampak berpikir memilih bunga paling cocok untuk acara yang akan dihadiri Linda. Rekomendasi Della hampir semuanya cocok, jadi ini menjadi tugas berat. 

Sekali lagi, Rena mencium aroma bunga dan memeriksa lebih teliti detail buketnya. Linda orangnya simple dan tidak terlalu suka dengan ornamen rumit.

“Saya pilih anggrek ungu.”

“Pilihan tepat.” Della menyerahkan buket anggrek pada Rena. “Saya tahu, dari dulu pilihan Mbak Rena tidak pernah salah. Nggak heran kalau Ibu Linda sangat menyukai Mbak Rena.”

Bukan kali pertama Rena mendapatkan pujian sejenis. Ia bersyukur selama satu tahun lebih Linda mengaku puas dengan hasil kinerjanya.

“Sudah jadi tugas saya.” Rena menyerahkan credit card pada Della. 

“Terima kasih. Sampaikan salam saya untuk Ibu Linda,” kata Della, lalu mengembalikan credit card pada Rena. 

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Rena terus menatap buket cantik dipangkuannya. Saat itu seharusnya Alan tidak gigih merebut bunga mawar Rena. 

Seharusnya Alan memilih bunga lain. Dengan begitu hati Alan tidak terluka dan berakhir dengan membenci bunga mawar, serta bunga-bunga lainnya. 

Namun, jika bukan karena bunga mawar, mungkin Alan tidak akan mencari tahu tentang Rena dan muncul secara mendadak di depan kantornya untuk mengajak bicara.

Di Jakarta, berbagai drama kehidupan bisa terjadi. Termasuk bagaimana seseorang bisa bertemu, kemudian saling jatuh cinta. Hubungan mereka berjalan sangat mengalir. Setidaknya, sebelum Alan meminta bertemu dengan keluarga Rena.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Camar-camar Matsushima

Cerita Pendek: Pengejar Idola

Cerita Pendek: Toko Kelontong Bu Ida

Artikel Asli