Return - Part 3: Tiga

Storial.co Dipublikasikan 08.00, 07/08/2020 • Amelia Utami
Tiga

Rena perlahan membuka mata. Ponsel yang diletakkan di meja kecil samping tempat tidur terus berbunyi. Seharusnya tidak ada panggilan telepon dari kantor atau Alan di hari Minggu. Jika tidak ada hal darurat, kekasihnya itu tahu dirinya sering bangun siang. Ditambah tadi malam Rena baru bisa terlelap pukul dua pagi.

“Pukul berapa sekarang?” Rena menyipit melihat angka di jam weker. “Astaga, masih pukul tujuh. Siapa sih yang menelepon pagi-pagi?” gerutunya seraya meraih ponsel. Dahinya mengerut ketika nomor asing tertera di layar. Biasanya Rena akan langsung menolak panggilan sejenis itu untuk menghindari modus penipuan atau agen asuransi yang menawarkan produk. Namun, kali ini entah mengapa hatinya tergerak untuk menerimanya.

“Halo?”

“Rena…”

Seketika wajah Rena menegang saat mengenali suara tersebut. Ia meremas baju tidur dan menjauhkan ponsel dari telinganya. 

Suara Ibu. Nomor ponsel Rena masih tetap sama seperti dua tahun lalu. Ia tidak berniat mengganti nomor karena malas nanti harus mengubah data-data penting. 

Apabila ibu atau bapak menghubungi, maka Rena akan langsung menolak lalu mematikan ponsel selama beberapa saat. Jika mereka mengirim pesan, Rena akan menghapusnya tanpa membaca isi pesan terlebih dahulu.

“Ini nomor baru Ibu, Ren.”

Suaranya tidak berubah. Masih seperti dulu. Meneduhkan, sekaligus membuatnya sejenak mengingat masa lalu.

“Apa kabar?”

Rena semakin kuat meremas baju tidurnya. Pertanyaan yang mudah dijawab, tetapi sulit untuk diucapkan. Kabar Rena baik-baik saja, setidaknya sampai Alan meminta bertemu dengan keluarganya. Dan mungkin ini yang dinamakan konspirasi alam. Hanya butuh waktu semalam tiba-tiba Ibu menghubungi hanya untuk menanyakan kabarnya. Apakah dia harus senang atau terharu?

“Ada perlu apa?”

Rena berusaha menjawab sedingin mungkin agar Ibu tahu putri bungsunya sudah bahagia lepas dari penderitaan. Meski tak dipungkiri ada gelagak rindu yang diam-diam merayap di hatinya. 

Apa Ibu masih suka memasak sayur sup di hari Minggu? Apa Bapak masih suka mendengkur jika ketiduran di depan televisi? Rena segera menepis perasaan tak keruan yang mulai menimbulkan keringat dingin di keningnya.

“Kalau nggak ada hal penting yang mau disampaikan, aku tutup panggilan ini.”

Rena hendak menjauhkan ponsel sampai dari kejauhan terdengar suara putus asa. “Kapan pulang, Nak? Dira---”

CUKUP!

Rena mematikan sambungan telepon sepihak dan menyeka keringat. Pendingin ruangan dengan suhu minimal nampak tidak berpengaruh. 

Jantungnya berdetak cepat, terutama saat Ibu menyebut nama itu.

Tenang, Rena, tenang. Selama dua tahun kamu sudah berhasil.

Ponsel Rena kembali berbunyi. Ia membiarkan begitu saja. Panggilan berikutnya datang, Rena tetap pada keputusannya. Pasti ada sesuatu yang maha dahsyat sehingga Ibu bersikeras menghubungi. 

Sayangnya, Rena sudah tidak mau tahu. Lebih tepatnya sudah tidak peduli. Api kebencian sudah terlanjur berkobar. Dan Rena belum tergerak memadamkannya.

Jika Ibu pikir, Rena bisa sampai sejauh ini karena dia hebat dan kuat, Ibu salah besar. Ia tiba di Jakarta dengan status pengangguran dan hanya bermodalkan uang tabungan hasil kerja kerasnya selama di Bandung. 

Tidak pernah berpisah dari keluarga menyebabkan dirinya sedikit kesulitan beradaptasi dengan hidup serba mandiri. Tiga bulan pertama adalah waktu terberat baginya. 

CV pekerjaan yang dia sebar ke berbagai perusahaan tak kunjung mendapatkan panggilan, sedangkan dia harus membayar biaya kost dan kebutuhan sehari-hari. 

Dalam kondisi putus asa, Rena sempat menyesali keputusannya yang tergesa-gesa dan berpikir untuk mengalah dengan pulang ke Bandung. Namun, setiap mengingat kejadian di rumah, dia lebih memilih hidup kekurangan daripada harus kembali melihat wajah Dira.

Sembari menunggu panggilan pekerjaan, Rena bekerja paruh waktu sebagai kasir di sebuah toko cake. Malam harinya dia membuka les bahasa inggris untuk anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. 

Ia pernah menangis tersedu di tangga kost saat tubuhnya demam, tetapi dia harus berangkat kerja karena ingat saldo tabungannya semakin menipis. Saking takutnya kehabisan uang, Rena rela makan hanya dua kali sehari dan mengubur dalam-dalam hobi belanjanya. 

Keadaan tersebut nyaris meruntuhkan pertahanannya hingga satu bulan kemudian sebuah bank swasta asing menghubungi dirinya untuk interview. Babak baru kehidupannya pun dimulai.

Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Ibu. 

Pulang, Nak. Dira merindukan kamu. 

Rena membanting ponsel ke tempat tidur karena menyesal sudah membacanya. Ia nyaris berteriak kencang jika tidak ingat semua teman kost sedang ada di kamar masing-masing. Lagi dan lagi. Dira selalu mengacaukan seakan monster itu tahu bagaimana caranya meluluhkan dirinya dengan meminta bantuan Ibu.

“Aku nggak mau pulang.” Tubuh Rena memerosot ke lantai. Potongan-potongan kejadian beberapa tahun lalu masih tetap utuh, meski Rena sudah berusaha menghapusnya secara paksa. Rena tidak mau hidupnya yang sudah berjalan sempurna kembali berantakan. 

Sejak remaja, Rena kehilangan definisi keluarga bahagia. Bukan karena orang tuanya berpisah. Mereka masih bersama. Setidaknya, itu yang dia tahu sampai sekarang. Tidak bahagia menurut Rena adalah setiap hari rumahnya tidak pernah tenang. 

Ada saja benda yang dibanting atau dilempar, pintu yang dipukul keras sampai nyaris terlepas, hingga teriakan histeris disertai kata-kata yang tak pantas didengar. Kebrutalan itu meninggalkan bekas luka di salah satu anggota tubuhnya. 

Rena menyibak poninya dan meraba-raba dahi kanan yang serasa berdenyut. Dira mungkin sudah lupa dengan perbuatannya, tetapi Rena akan selalu mengingatnya sebagai awal perang saudara yang masih membara hingga sekarang. Sejujurnya, lebih dari luka fisik, hal yang membuatnya sakit hati adalah luka batin yang sudah Dira tuai sejak jauh-jauh hari.

Satu pesan lagi menyusul. Rena hanya melirik sepintas.

Ibu mohon, Dira benar-benar pengin ketemu kamu.

Dira Primahasa. Nama lengkap si monster. Sebelum Rena menjulukinya monster, Rena sudah memiliki banyak julukan untuk Dira. Pengacau. Pemberontak. Anak tidak tahu diri. Anak setan. Anak kurang ajar. Rena kadang berpikir, lebih baik kakak perempuannya itu tak pernah dilahirkan ke dunia. 

Saat tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengatasi tingkah Dira, Rena pernah berdoa agar Dira dihukum berat oleh Tuhan. Seret rezeki, seret jodoh, dan segenap doa jelek yang diucapkan dengan penuh kemarahan. Rena berharap Tuhan mendengarkan doa-doa orang teraniaya seperti dirinya.

Dan sekarang Ibu memohon Rena untuk pulang karena Dira merindukannya. Seketika Rena tergelak. Adakah yang lebih menggelikan dari omong kosong keluarganya? Jika Dira ingin bertemu untuk mengakhiri perang atau meminta maaf padanya, keadaan tetap tidak akan berubah. 

Ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Alan.

“Tumben.” Rena mengernyitkan kening. “Ya, sayang?”

“Kok tumben udah bangun? Ini masih pukul delapan, lho,” goda Alan.

“Aku mau beres-beres kamar,” dalih Rena cepat.

“Aku mau ngingetin aja, jangan lupa hubungi keluarga kamu, ya.”

Raut wajah Rena berubah keruh. Oh Tuhan, sepertinya hidupnya tidak akan bisa tenang mulai sekarang.

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Sebelum Sore

Cerita Pendek: Anak Siwalan

Cerita Pendek: Prambanan Ekspres

Artikel Asli