Return - Part 2: Dua

Storial.co Dipublikasikan 06.51, 06/08 • Amelia Utami
Dua

Fix You Coldplay mengalun pelan seiring kesunyian dua manusia yang sedang fokus menyantap hidangan. 

Tidak ada suara yang keluar seakan mereka berdua terbawa larut. Entah karena lagunya atau suasana resto dengan penerangan lilin yang menimbulkan rasa gugup tak kentara. 

Selepas pulang kerja, Alan menjemput Rena di tempat kost. Cowok itu mengambil cuti hari ini dengan alasan yang dirahasiakan. 

Rena sempat curiga ada yang disembunyikan Alan, apalagi pakaian Alan terlihat rapi dengan mengenakan kemeja panjang. Biasanya ketika kencan dengan Rena, Alan terkenal cuek soal penampilan. 

Kaus bergambar dan jeans sudah cukup. Maka dari itu, dia selalu menyediakan stok kaus di mobilnya.

“Hari ini kamu cantik banget.” Alan memuji seraya memotong jacket potatoes dengan pisau kecil.

“Kamu udah bilang berkali-kali, Lan.”

Alan mengelap mulutnya dengan tissu. “Aku pengin bilang sampai seribu kali.” 

“Alan!” Rena memekik pelan dan tidak melanjutkan suapan terakhir fish and chip.

Tiba-tiba Alan meraih tangan Rena. “Selamat satu tahun, sayang.I love you,” ujarnya lekat menatap Rena.

I love you, too.” Wajah Rena berseri dengan senyum mengembang dipapar sinar temaram lilin.

“Aku mau serius sama kamu.” Alan memajukan wajah. Jemarinya semakin erat menggenggan tangan Rena.

Rena mendadak salah tingkah. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang membuncah. Bahkan saat kali pertama mereka berciuman, jantungnya tidak berdebar kencang seperti sekarang.

“Hmmm maksud kamu?” tanya Rena. Dia memang bodoh bertanya maksud perkataan Alan kendati sudah mengetahuinya. Ini terlalu terburu-buru pikir Rena. Mereka tidak pernah membahas soal ini sebelumnya.

“Aku pengin ketemu sama keluarga kamu.”

Mata Rena kontan melebar dan menarik paksa tangannya dari genggaman Alan. Senyumnya mendadak sirna. Seharusnya dia sudah mengantisipasi kemungkinan itu terjadi. 

Rena hanya tidak menyangka akan datang lebih cepat atau dia yang tidak menyadari dari awal Alan ingin serius dengannya. Bukan, bukan karena Rena tidak mau menikah dengan Alan. 

Sesungguhnya, itu menjadi salah satu mimpi yang dia bayangkan. Namun, haruskah melibatkan keluarganya? Bisa tidak jika hanya dia saja? Ya, dia tahu ini akan terdengar tidak masuk akal.

Berbeda dengan Rena yang berusaha tidak banyak bercerita tentang keluarga, Alan justru sebaliknya. Di setiap kesempatan, Alan selalu bersemangat menceritakan anggota keluarganya. 

Papa Alan yang berhasil menjadi salah satu pengacara terkenal di Jakarta, mamanya yang sukses membangun usaha catering, hingga adik perempuannya yang masuk perguruan tinggi di Australia melalui jalur beasiswa. 

Betapa sempurna keluarga Alan. Rena hanya bisa berdecak kagum karena semua yang dialami Alan tidak terjadi dalam keluarganya.

“Sayang…” Alan mengernyitkan dahi karena Rena terlihat melamun. 

“Sayang, kamu nggak apa-apa?” kata Alan mulai khawatir.

“Oh.” Rena seperti baru saja mendapatkan kesadarannya kembali. ”Aku nggak apa-apa. Hanya…sedikit terkejut,” kilahnya cepat.

Alan tertawa kecil. Seketika Rena terpesona dengan pemandangan visual di depannya. Tawa Alan hanya salah satu dari sekian banyak hal yang membuat Rena jatuh cinta. 

Sepintas ia mengamati wajah kekasihnya. Bola mata cokelat, alis tebal, serta janggut yang belum tumbuh sempurna, menambah daya tarik Alan di mata Rena. Dan terakhir bibirnya. Rena teringat…

Sial, sempat-sempatnya gue membayangkan itu. Umpat Rena dalam hati.

“Jadi…” Alan tampak tidak menyadari Rena sedang menikmati kesempurnaan wajahnya. “Kapan aku bisa ketemu keluarga kamu? Kamu pernah cerita keluarga kamu tinggal di Bandung, kan?”

Rena menghela napas. Sepertinya ini akan menjadi pembahasan yang panjang.

“Aku belum siap.” Rena menjawab sekenanya. Ya, dia memang belum siap. Membayangkannya saja sudah membuat kepala pening. 

“Kenapa? Kamu nggak pernah cerita tentang aku?” Ada nada kecewa dari suara Alan.

“Bukan begitu, Lan.” Rena buru-buru membantah. Ia harus cepat mencari alasan masuk akal sebelum pembahasan semakin melebar.

“Tapi?” desak Alan.

Astaga. Gue kayanya butuh minum. Rena meraih gelas berisi anggur dan menghabiskannya dalam waktu singkat.

“Kasih aku waktu.”

Giliran Alan yang menghela napas panjang. “Sampai kapan?”

“Satu bulan?”

“Terlalu lama.” 

“Dua minggu?”

“Satu minggu!” Alan berkata tegas. “Aku nggak mau tahu Minggu depan kamu harus kasih jawaban ke aku.”

Oh, inikah akhir hidup Rena? Ketika masih kecil, dia suka membayangkan bagaimana hidupnya akan berakhir. 

Neneknya meninggal saat sedang tidur dan kakeknya meninggal saat ibunya berusia dua tahun karena kecelakaan. 

Rena hanya bisa melihat sosok kakek dari selembar foto. Sekarang dia merasa hidupnya sedang berada di ujung tanduk. 

Baginya tidak ada yang membuat jantungnya lemas selain berbicara seputar keluarga, apalagi sampai mempertemukan mereka dengan Alan. Dia bersedia menukar apa saja asal tidak ada pertemuan keluarga. 

“Kamu nggak sabar.”

“Kamu yang sengaja mengulur waktu.”

DEG! Itu benar. Rena bahkan tadi sempat berpikir akan menjawab 'semua anggota keluarga aku sudah pindah ke planet lain.' Bukan sesuatu yang mustahil, bukan? 

Malam itu Alan mengantar Rena sampai depan gerbang kost. Sepanjang perjalanan Rena hanya terdiam sehingga Alan mengira gadis itu sudah mengantuk. “Have a nice dream.” Alan mengecup kening Rena. “Aku pulang, ya.”

Rena melambaikan tangan sembari memaksakan senyum. Begitu mobil Alan sudah tak terlihat, gadis itu buru-buru menuju kamarnya di lantai dua, lalu terduduk lemas di tepi ranjang.

Satu Minggu.

Rena hanya memiliki waktu satu Minggu.

“Benar-benar gila,” ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Memandang atap kamar dengan hampa. 

Kehidupan Rena di Jakarta selama dua tahun nyaris sempurna. Memiliki pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah bank swasta dan memiliki kekasih seperti Alan. 

Rasanya Rena tak butuh apa-apa lagi. Keinginan untuk hidup bahagia sudah terwujud. Namun, perkataan Alan di resto menjadi mimpi buruk baru bagi Rena. 

Alan tidak mengetahui, selama ini Rena selalu berusaha “menyembunyikan” hal-hal yang berkaitan dengan keluarganya. 

Orang boleh bilang Rena anak durhaka. Dua tahun tidak pernah pulang ke rumah untuk menjenguk keluarga. 

Melewatkan momen-momen penting seperti hari ulang tahun, hari raya agama, atau perayaan hari pernikahan orang tuanya. Ia sudah menyiapkan seribu alasan agar bertahan tidak kembali ke Bandung. 

Jika ada manusia yang tidak membutuhkan keluarga, Rena berharap bisa menjadi salah satunya. Sejauh ini dia sudah membuktikan bisa hidup mandiri dengan kerja kerasnya. 

Rena juga sudah membuktikan, dirinya baik-baik saja. Ia masih percaya bisa membangun kebahagiannya sendiri tanpa peran keluarga.

“Semua karena monster satu itu!” ujar Rena geram.

Ya, monster perusuh yang membuat Rena terpaksa harus angkat kaki dari rumah. Ia sudah tidak sudi melihat wajahnya dan berbagi napas dengannya dalam satu atap. 

Artikel Asli