Return - Part 1: Satu

Storial.co Dipublikasikan 06.42, 06/08 • Amelia Utami
Satu

Rena menggeret kopernya memasuki gang di ujung jalan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika dia keluar dari taksi. 

Tidak ada kendaraan yang lewat di sekitarnya. Hanya sesekali dirinya menjumpai satu dua orang dengan langkah tergesa. Bunyi roda kopernya yang sudah usang mendominasi sepanjang perjalanan. Rena merapatkan sweater. Mendadak udara Jakarta berubah dingin. 

Padahal dia tahu langit sangat cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Matanya tak luput melihat sekeliling sembari terus berjalan. 

Cahaya lampu jalan yang agak redup, suara samar burung-burung yang keberadaannya tidak terlihat, hingga pintu-pintu rumah yang sudah tertutup rapat.

“Apa gue salah jalan?” Rena kembali mengingat alamat yang dia catat di ponsel. Kemudian dia menggeleng. Ia masih yakin, jalan yang sedang dilalui sudah benar. Meskipun suasananya sedikit mencekam karena sudah menjelang larut malam.

Tak jauh dari hadapannya, ada sebuah warung makan yang masih buka. Rena langsung sigap menggotong kopernya dan mempercepat langkah.

“Permisi.”

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara televisi dari dalam.

“Permisiii.” Suara Rena meninggi.

Seorang wanita dengan daster lengan pendek keluar dari gorden yang memisahkan warung dengan ruangan di dalam. “Cari siapa?,” katanya agak ketus.

“Maaf, masih menerima pembeli?”

“Makanannya sudah habis semua.”

Rena menilik isi makanan yang tersisa di rak, yaitu dua piring berisi ikan pindang dan telur dadar. “Itu dijual?” tanyanya ragu.

Wanita itu tampak berpikir sejenak. “Ya.”

“Saya mau dibungkus saja.” Rena menunjukkan wajah memelas. “Saya belum makan dari sore.”

Ia menatap Rena dengan pandangan menyelidik, lalu matanya langsung tertuju pada koper yang ada di samping Rena. “Mau ke mana malam-malam begini?” tanyanya sembari menyiapkan kertas nasi.

“Oh.” Rena tidak siap ditodong pertanyaan oleh orang asing. Tadi perut dia benar-benar lapar dan berharap bisa beristirahat sejenak sebelum mencari kembali alamat yang dituju. Namun, sepertinya dia harus segera pergi. Sejak awal pemilik warung tidak ramah padanya. 

Memandang Rena seolah dirinya memiliki niat jahat. Dan pertanyaannya yang tiba-tiba semakin membuat Rena tidak nyaman.

“Saya mau cari alamat.” Pada akhirnya yang keluar dari mulut Rena adalah jawaban jujur. Tubuhnya sudah letih, ditambah perasaannya sedang tak keruan, jadi dia tidak mau berbasa-basi dengan mengarang kalimat bohong agar dapat dinilai sebagai orang baik.

“Mana?”

“Hah?” Rena bengong. “Apanya?”

“Alamat yang kamu cari.”

Rena mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. “Ini.” Ia memperlihatkan alamat yang sudah dia simpan.

“Kamu nggak salah alamat.”

“Masih jauh?”

“Cuma dua langkah lagi.”

Rena mengerutkan kening, kemudian sontak menengok ke belakang. Mencari rumah yang dimaksud.

“Bangunan bertingkat di samping warung adalah indekos milik saya.” Ia memberikan bungkusan nasi pada Rena.

“Oh, gitu.” Rena tidak tahu harus berkata apalagi selain menerima makan malamnya dengan perasaan lega. Sepanjang perjalanan di kereta, dia terus dihinggapi rasa cemas. 

Kapan terakhir dia pergi ke Jakarta? Haruskah dia menginap di hotel untuk sementara? Apakah tabungannya cukup? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang, sampai kemudian dirinya ingat memiliki teman SMA yang masih berhubungan baik dengannya.

Namanya Intan. Mereka tidak saling kontak secara intensif, tetapi Rena pernah menemaninya jalan-jalan saat Intan berkunjung ke Bandung. 

Terpaksa Rena harus menghubunginya di jam istirahat. Sayangnya, Intan sedang tidak ada di Jakarta. 

Namun, dia merekomendasikan alamat indekosnya dulu. Intan berharap masih ada kamar kosong yang tersisa.

“Kamu tahu alamat saya dari mana?”

“Saya temannya Intan. Nama saya Rena.”

“Intan Permata Desari?”

“Betul. Saya sedang butuh tempat tinggal segera.”

“Boleh saya bertanya?”

Giliran Rena yang merasa was-was. “Boleh.”

“Kamu kabur dari rumah?”

Mulut Rena terbuka lebar. Apakah pemilik indekos merangkap sebagai cenayang?.

Artikel Asli