Resesi Hong Kong Diprediksi Parah, Ini Sebabnya

Kompas.com Dipublikasikan 01.14, 15/11/2019 • Mutia Fauzia
AFP/ANTHONY WALLACE
Sejumlah pekerja kantor bergabung dengan pengunjuk rasa pro-demokrasi saat terjadi aksi di Hong Kong, Selasa (12/11/2019). Aksi menolak usulan UU Ekstradisi diwarnai kericuhan di Hong Kong yang terjadi sejak Juni lalu kini makin meluas dengan desakan pengusutan kebrutalan polisi hingga hak untuk memilih pemimpin sendiri.

HONG KONG, KOMPAS.com - Hong Kong diperkirakan bakal menonformasi bahwa negara tersebut telah jatuh ke dalam jurang resesi untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/11/2019), banyak pihak mengkhawatirkan Hong Kong bakal masuk ke dalam jurang resesi yang lebih dalam karena aksi massa yang telah berlangsung selama berbulan-bulan tak kunjung berakhir dan telah memakan banyak korban.
Data-data perekonomian pada Oktober lalu menunjukkan, perekonomian negara-kota yang berada di bawah pemerintahan China tersebut telah merosot 3,2 persen pada periode Juli hingga September 2019.

Pertumbuhan ekonomi Hong Kong telah terkontraksi selama dua kali berturut-turut, yang merupakan definisi teknis dari resesi.

Baca juga: Ekonomi Hong Kong Masuk Jurang Resesi
Dengan tidak ada tanda-tanda aksi massa dengan kekerasan bakal berakhir dalam waktu dekat, analis memerkirakan kemerosotan ekonomi bakal memakan waktu lama dan kian dalam.

Produk Domestik Bruto (PDB) Hong Kong diprediksi bakal merosot lebih dalam di kuartal ini, bahkan hingga tahun depan.
Di sisi lain, sektor keuangan dan perdagangan Hong Kong juga dihadapkan pada tekanan perang dagang berkepanjangan antara China dan Amerika Serikat.

Namun demikian, kian meningkatnya tensi ketegangan antara massa dengan aparat yang telah berlangsung selama lebih dari lima bulan kian membebani perekonomian Hong Kong.
"Kami berasumsi aksi massa bakal terus berlanjut di 2020, kecuali jika pemerintah Hong Kong akan melakukan hal spesial (untuk menyelesaikan konflik), nampun nampaknya hal itu dihindari (oleh pemerintah)," ujar ekonom ING Iris Pang.

Baca juga: Penjualan Perusahaan Ritel Italia di Hong Kong Anjlok Akibat Demo
Pihaknya pun memroyeksi, sepanjang tahun ini, perekonomian Hong Kong akan merosot 2,2 persen dan di 2020 bahkan akan merosot hingga 5,3 persen.
Jaringan transportasi yang kerap terganggu, kekerasan antara massa dengan aparat juga penggunaan gas air mata telah menghancurkan sektor ritel serta membuat pariwisata Hong Kong kelabakan.
Kinerja penjualan ritel Hong Kong pada Agustus merupakan yang terburuk, atau merosot 23 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun di bulan September, penjualan ritel Hong Kong terkontraksi 18,3 persen.
Sejak aksi protes berlangsung, banyak toko, restoran dan bisnis lain yang tutup lebih awal. Bahkan banyak toko yang harus menutup usaha mereka untuk selamanya karena telah merugi.

Penulis: Mutia FauziaEditor: Sakina Rakhma Diah Setiawan

Artikel Asli