Rentetan Nasib Malang Masinis Kereta dalam Tragedi Bintaro, Dipenjara Gara-gara 'Fitnah', Tak Dapat Pensiun, Hingga Ditinggal Istri yang 'Direbut' Masinis Lain

Intisari Dipublikasikan 09.45, 18/10/2019 • K. Tatik Wardayati
101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Intisari-Online.com – Anda masih ingat kejadian tiga puluh dua tahun yang lalu di Bintaro?

Kejadian tragis dan memilukan itu tentunya masih sangat membekas dalam ingatan semua orang dewasa kini.

Tragedi Bintaro, sebutan untuk kejadian memilukan itu, terjadi pada 19 Oktober 1987.

Terjadi tabrakan kereta api yang begitu keras, hingga disusul jeritan bersahutan serta darah berceceran di mana-mana.

Tragedi Bintaro merupakan kecelakaan kereta api terburuk yang memakan ratusan korban jiwa.

Musibah ini melibatkan dua kereta api yang bertabrakan, yakni KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakartakota dan KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak.

Saat itu, masinis KA 225, Slamet Suradio berhasil selamat dari tragedi memilukan tersebut.

Slamet Suradio saat itu dituding memberangkatkan sendiri kereta yang dioperasikannya.

Padahal menurutnya, ia hanya mengikuti instruksi dari PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api).

Pengakuan Masinis yang Selamat dari Tragedi Bintaro 1987.' (kolase Kompas.com/Duddy Sudibyo & tangkap layar Youtube Kisah Tanah Jawa )

"Yang seharusnya saya di Sudimara bersilangan dengan KA 220 dibatalkan oleh PPKA yang sedang dinas," kata Slamet dikutip Grid.ID dari YouTube Kisah Tanah Jawa (11/10/2019).

"Berarti saya nunggu di jalur 3. Karena belum ada perintah berangkat, saya tetap menunggu," lanjutnya.

"Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri," ungkap lelaki renta itu.

Setelah menunggu beberapa saat, Slamet pun akhirnya memberangkatkan kereta sesuai instruksi.

Beberapa saat perjalanan, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan karena tidak ada sinyal apapun yang Slamet terima.

Namun alangkah terkejutnya ia ketika dari arah berlawanan, tampak KA 220 dari stasiun Kebayoran.

Padahal Slamet sudah mengantongi PTP (Pemberitahuan Tentang Persilangan) yang seharusnya situasi sudah aman.

Tanpa pikir panjang, Slamet langsung menarik rem bahaya, namun usahanya sia-sia karena jarak kedua kereta sudah terlalu dekat.

"Saya terus narik rem bahaya, ternyata gagal, tidak bisa berhenti, tetep terjadi tabrakan," papar Slamet.

Akibat tabrakan itu, Slamet terpental di dalam lokomotif dan mukanya terkena remukan kaca.

101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. (Jimmy WP) ' (kompas.com )

Dalam keadaan setengah sadar, Slamet pun berusaha menyelamatkan dirinya.

"Kaki saya ngesot-ngesot tidak bisa jalan, akhirnya saya merambat melalui jendela," tutur Slamet.

Ia kemudian menjatuhkan diri ke tanah.

Dalam kondisi terluka parah, Slamet kemudian dibawa oleh seorang perempuan ke rumah sakit dengan mobilnya.

Meski wajahnya bersimbah darah, Slamet masih mengantongi PTP di sakunya.

PTP tersebut jadi satu-satunya bukti Slamet bahwa dirinya tidak bersalah.

Bercak darah di PTP itu membuat hakim percaya bahwa Slamet tidak loncat dari lokomotifnya.

"Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah," ungkap Slamet.

Ia pun sedih dengan kabar yang beredar bahwa ia meloncat dari lokomotif sebelum tabrakan untuk menyelamatkan diri.

"Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) nggak loncat," paparnya.

"Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah!" tandas kakek renta ini.

Penderitaan Slamet tak berhenti sampai di situ.

Kondisi di Dalam Gerbong Kereta Api (Jimmy WP) ' (kompas.com)

Ancaman demi ancaman terus didapat oleh Slamet atas kejadian itu.

Ia bahkan hampir diculik saat dirawat di rumah sakit yang kacanya sudah dipecah oleh seseorang.

Slamet akhirnya harus menjalani hukuman penjara selama kurang lebih 3 tahun 3 bulan.

Karena hal itu, istrinya pun meninggalkannya dan minta cerai.

Usai keluar dari penjara, Slamet pun harus menelan kenyataan pahit lantaran istrinya sudah direbut rekan sesama masinis.

Namun Slamet berusaha ikhlas atas keadaan tersebut.

Kini Slamet masih menunggu haknya sebagai pensiunan PT KAI.

Proses hukum yang sempat menjeratnya membuat Slamet tak bisa mendapatkan hak layaknya pegawai yang lain.

"Saya mohon hak saya dikeluarkan, uang pensiun," ungkap Slamet.

"Karena sekalipun saya dipenjara ‘kan bukan karena saya berbuat jahat, ‘kan ini musibah, kecelakaan," lanjutnya.

Demi menyambung hidup, Slamet kini bekerja sebagai pedagang asongan. (Ayu Wulansari Kushandoyo Putri)

Artikel ini telah tayang di Grid.id dengan judul “Pengakuan Masinis yang Selamat dari Tragedi Bintaro 1987: Ada yang Bilang Saya Loncat, Itu Bohong Sekali, Itu Fitnah!”

Artikel Asli