Ratu Ilmu Hitam, Film Menyeramkan yang Bahas soal Isu Body Positivity

kumparan Dipublikasikan 14.47, 14/11/2019 • Avissa Harness
Ratu Ilmu Hitam. Foto: Maulana Saputra/kumparan

FilmRatu Ilmu Hitamberhasil mendapat pujian dari para penikmat film. Kisah horor yang sebelumnya pernah tayang pada 1981 dan diperankan oleh Suzzanna ini dianggap sebagai film horor terbaik dan paling mencekam di sepanjang 2019 lantaran dianggap berhasil menghadirkan neraka dunia.

Ratu Ilmu Hitam sendiri merupakan sebuah film horor yang mengisahkan tentang Hanif (Aryo Bayu) yang membawa istrinya Nadya (Hannah Al Rashid) beserta ketiga anak mereka menuju panti asuhan tempat dia dibesarkan. Pengasuh panti tersebut Pak Bandi (Yayu Unru) tengah mengalami sakit keras.

Kedatangan Hanif itu, disusul oleh sahabatnya Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) yang juga membawa serta istri mereka. Rupanya malam itu menjadi malam penuh teror bagi mereka.

Rilis pada 7 November lalu,Ratu Ilmu Hitamversi remake ini diproduksi oleh Rapi Films dan digarap oleh Kimo Stamboel. Sedangkan untuk jalan ceritanya ditulis oleh Joko Anwar. Meski dibuat cukup berbeda dengan versi lamanya, Ratu Ilmu Hitam tetap menghadirkan unsur klenik yang kental.

Sebagai penulis naskah, Joko Anwar memiliki kebebasan untuk menulis alur cerita sesuai keinginan. Ia pun kembali menyoroti isu-isu perempuan yang selama ini selalu menjadi fokus utama dalam setiap film yang jadi garapannya.

Kali ini, dalam film Ratu Ilmu Hitam Joko menyinggung soal isu body positivity yang saat ini masih banyak menghantui perempuan. Ia menghadirkannya lewat dialog dan adegan yang beragam. Mulai dari adegan twisted super seram, hingga obrolan ringan namun penuh makna.

Supaya tidak penasaran, berikut kumparanWOMAN telah merangkumnya untuk Anda.

PS: Bagi Ladies yang belum menonton filmnya dan tidak suka spoiler, hati-hati sebab ringkasan ini berisi banyak spoiler, ups!

Belajar untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan

Sejak scene awal, film horor ini sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa Joko Anwar akan kembali menyorot isu yang sering dihadapi oleh perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini, ia menyematkan pesan bahwa penilaian kita terhadap penampilan fisik itu bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan mengurangi rasa percaya diri seseorang.

Ketika keluarga Hanif berada di dalam mobil saat akan menuju ke panti asuhan tempatnya dibesarkan dulu, ketiga anak Hanif dan Nadya sedang bercanda dan mengolok-olok satu sama lain. Mendengar obrolan anak-anaknya, Nadya mengatakan bahwa mereka tidak boleh saling mengejek, tetapi harus saling mendukung.

Nadya menegaskan bahwa ucapan kita, terutama yang membahas soal fisik atau penampilan bisa berpengaruh pada kepercayaan diri seseorang. Ia pun mencontohkan dulu saat masih kecil ibunya kerap mengatakan bahwa Nadya tidak cantik. Ucapan itu pun membuat Nadya tidak pernah merasa cantik dan membuatnya tidak percaya diri hingga dewasa.

Body positivity

Hingga saat ini, bentuk tubuh, warna kulit, sampai model rambut, masih menjadi hal yang paling banyak menjadi isu bagi sebagian besar perempuan. Celetukan-celetukan seperti, ‘Kamu gendutan ya?’, ‘Habis dari mana? Kok kulitnya iteman’, atau ‘Pasti kamu makannya dikit ya bisa kurus begini’ masih banyak sekali dijadikan obrolan basa-basi yang sebenarnya bisa mempengaruhi self-esteem seseorang.

Padahal, setiap perempuan memiliki bentuk tubuh, warna kulit, dan model rambut yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menilai mereka berdasarkan standar yang sudah tercipta di masyarakat.

Isu ini digambarkan lewat pasangan suami istri Lina (Salvita Decorte) dan Jefri (Miller Khan) yang diceritakan hubungan rumah tangganya sedang tidak harmonis. Saat ingin mengajak bercinta, Lina ditolak oleh Jefri dengan alasan waktunya sedang tidak tepat. Di sisi lain, Lina yang mendapat penolakan menganggap bahwa Jefri tak mau berhubungan seks lantaran berat badan Lina yang sedang naik.

Perlakuan Jefri berdampak buruk bagi kepercayaan diri Lina. Ia pun tampak depresi hingga akhirnya kesurupan. Saat kesurupan, Lina mengambil pisau dan memotong lemak di bagian pinggang serta dagu yang kerap menjadi concern utama saat berat badan seorang perempuan bertambah. Dengan tatapan kosong dan tubuh berdarah-darah, Lina bertanya pada Jefri apakah dirinya sudah terlihat lebih kurus setelah lemak di pinggang dan dagunya dipotong.

Dari scene tersebut kita bisa belajar bahwa segala bentuk perlakuan maupun ucapan kita terhadap seseorang bisa mempengaruhi cara berpikir mereka akan bentuk tubuhnya. Celetukan yang mungkin dianggap sebagai bercandaan atau basa-basi ternyata justru malah melukai perasaan seseorang. Sebab cantik bukan berarti harus berkulit putih, bertubuh langsing, atau berambut lurus. Setiap perempuan memiliki kecantikan masing-masing yang tidak bisa diukur dari segi apapun.

Artikel Asli