Ramai soal Batik 'Diklaim' China

kumparan Dipublikasikan 10.08, 12/07 • kumparanNEWS
Canting untuk membatik. Foto: ANTARA/Syailendra Hafiz Wiratama

Media sosial diramaikan dengan cuitan mengenai 'klaim' batik oleh China di media sosial Twitter. Awalnya media China, Xinhua News, menuliskan bahwa batik kerajinan tradisional yang umum di kalangan kelompok etnis di China.

"Batik adalah kerajinan tradisional yang umum di kalangan kelompok etnis di China. Menggunakan lelehan lilin dan spatula, orang mewarnai kain dan memanaskannya untuk menghilangkan lilin. Lihatlah bagaimana kerajinan kuno berkembang di zaman modern. #AmazingChina," tulis @XHNews dalam captionnya, Minggu (12/7/2020).

Dalam video itu, tampak batik dibuat menggunakan canting, khas Indonesia.

Batik is a traditional craft common among ethnic groups in China. Using melting wax and a spatula-like tool, people dye the cloth and heat it to get rid of the wax. Check out how the ancient craft evolves in modern times. #AmazingChina pic.twitter.com/4pNNECZziT

— China Xinhua News (@XHNews) July 12, 2020

Video berdurasi 49 detik tersebut mendapat beragam komentar dari warganet Indonesia yang menilai batik adalah milik Indonesia.

"Batik berasal dari Jawa, Indonesia dan tersebar di seluruh Asia termasuk India dan Cina tidak memelintir seni ini seolah-olah berasal dari Cina." tulis akun @srinidhi24.

Sementara akun @arifhasbullah mengomentari,batik adalah salah satu bentuk seni paling maju dari warisan budaya Indonesia yang kaya. Pada tahun 2009, UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai karya agung warisan budaya.

kumparan mencoba menanyakan perihal klaim batik tersebut kepada Niu Yujia, Staf Atase Kedutaan Besar China di Indonesia. Menurutnya Batik sudah lama ada di beberapa daerah di China, batik yang ada dalam video itu pun bukanlah batik Indonesia.

“Itu bukan batik Indonesia, di beberapa daerah di China juga ada (kerajinan batik), boleh di-googling,” kata Niu.

Pengunjung belajar membatik di Trupark Museum, Cirebon Foto: Instagram/Trupark Museum.

Mengutip dari situs UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB), teknik, simbolis, dan budaya terkait batik dianggap melekat dengan kebudayaan Indonesia. Bahkan, UNESCO menilai masyarakat Indonesia memaknai batik dari prosesi kelahiran sampai kematian.

Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional yang merupakan hari perayaan nasional untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi(Masterpiecesof the Oral and IntangibleHeritage of Humanity) oleh UNESCO.

Dilihat dari sejarahnya, seni mewarnai kain dalam membatik, memang sudah ada sejak zaman dulu. Pewarnaan kain dengan teknik perintang (malam atau lilin) adalah bentuk seni kuno.

Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 sebelum masehi.

Ilustrasi Pengrajin Batik Laweyan Zaman Dulu Foto: kampoengbatiklaweyan.org

Mengutip dari laman The Batik Guild, batik sudah ditemukan di Timur Tengah, Asia Tengah dan India sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sementara di China, budaya membatik telah ada di China sejak awal Dinasti Qin (221-207 sebelum masehi) atau Dinasti Han awal (206 sebelum masehi).

Menurut laporan, orang-orang etnis Miao, Gejia dan Bouyei sangat ahli dalam membatik. Seperti halnya di Indonesia mereka mendapatkan ilmu membatik secara turun temurun. Meski begitu, batik akhirnya ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia dari Indonesia pada 2 Oktober.

Bagaimana menurutmu?

Artikel Asli