Pusat Gempa di Laut Maluku, Kenapa Terasa Sampai Manado dan Halmahera?

Kompas.com Dipublikasikan 02.56, 15/11/2019 • Gloria Setyvani Putri
Dok. BMKG
Pusat gempa M 7,1 di Maluku Utara, Kamis (14/11/2019) pukul 23.17 WIB

KOMPAS.com - Peristiwa gempa bumi berkekuatan M 7,1 yang mengguncang wilayah Maluku tengah malam tadi, Kamis (14/11/2019) pukul 23.17 WIB. dirasakan hingga Manadi, Gorontalo, Ternate, hingga Halmahera.

Untuk diketahui, episenter gempa terletak pada koordinat 1,67 LU dan 126,39 BT, tepatnya di laut pada jarak 134 km arah Barat Laut Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara kedalaman 73 km.

Gempa ini merupakan jenis gempa menengah akibat adanya deformasi atau penyesaran dalam Lempeng Laut Maluku.

Jarak Laut Maluku hingga kota Manado adalah sekitar 222 kilometer. Sementara jarak Laut Maluku hingga Halmahera, lebih dari 415 kilometer.

Lantas, kenapa gempa Maluku bisa terasa sampai ke daerah yang posisinya ratusan kilometer dari pusat gempa?

Baca juga: BMKG: Peringatan Dini Tsunami Gempa Maluku M 7,1 Dicabut, Kondisi Aman

Menjawab pertanyaan ini, Kompas.com menghubungi Gayatri Indah Marliyani, pakar Tektonik Aktif Geologi Gempa Bumi dari Departemen Teknik Geologi UGM.

Gayatri menjelaskan, pusat gempa Maluku semalam terjadi di daerah yang memiliki banyak patahan atau sesar naik yang aktif.

"Gempa di Maluku Utara ini terjadi pada zona pertemuan antara dua lempeng samudera di laut Maluku. Di daerah itu banyak terdapat patahan-patahan atau sesar-sesar naik yang aktif," kata Gayatri kepada Kompas.com, Jumat (15/11/2019).

Ditambah lagi, kekuatan gempa cukup besar, yakni M 7,1 dengan kedalaman pada tingkat menengah 27 kilometer. Hal inilah yang membuat guncangan bisa dirasakan merata.

"Magnitudonya cukup besar (M 7.1) dengan kedalaman menengah (27 km) sehingga guncangannya bisa dirasakan meluas dari Sulawesi Utara hingga Kepulauan Halmahera," jelas Gayatri.

Dilihat dari analisa mekanisme gempa, di mana gempa terjadi di patahan naik berarah timur laut - barat daya, ini juga dapat memicu getaran yang besar.

"Arah ini konsisten dengan setting tektonik di daerah tersebut, searah dengan zona kolisi antara dua lempeng samudera di daerah tersebut," ungkapnya.

"Karena magnitudo gempa cukup besar, gempa susulan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan," kata Gayatri memperkirakan.

Baca juga: Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Bali Utara, Kabar Ada Tsunami Hoaks

Sementara itu, Daryono selaku Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG menambahkan, gempa dengan kekuatan besar berisiko dirasakan hingga jarak ratusan kilometer.

"Kemudian ada istilah local site effect, di mana tanah lunak di suatu tempat akan merespons dengan mengamplifikasi gelombang gempa. Jadi tidak tergantung jarak saja," kata Daryono kepada Kompas.com.

Hingga pukul 6.59 WIB, telah terjadi 74 aktivitas gempa susulan (aftershocks) di Laut Maluku utara pasca gempa utama M 7,1.

"Susulan dengan kekuatan di atas M 5.0 ada 11 kali gempa. Gempa susulan paling kuat M 5,9," kata Daryono.

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli