Publik China Murka, Dokter di Wuhan yang Kulitnya Menghitam karena Covid-19 Meninggal Dunia

Tribunnews.com Dipublikasikan 06.12, 04/06 • Irsan Yamananda
Dua dokter asal Wuhan, China Dr Yi Fan dan Dr Hu Weifeng yang kritis setelah mengidap Covid-19 menemukan kulit mereka berubah warna setelah sembuh dari penyakit tersebut.

TRIBUNNEWS.COM - Beberapa hari terakhir, nama Hu Weifeng sedang ramai diperbincangkan masyarakat China.

Ia merupakan dokter garda terdepan di China tengah.

Pada hari Selasa, 2 Juni 2020, Hu Weifeng dikabarkan meninggal dunia.

Hal ini tentunya memicu reaksi marah publik tentang cara pemerintah menangani Covid-19.

Dr Hu meninggal setelah lima bulan berjuang melawan virus corona.

Sekitar bulan Maret 2020, ia sempat jadi bahan pemberitaan sejumlah media dunia.

Dokter Hu Weifeng yang sempat viral kulitnya menghitam baru saja meninggal dunia (Kolase Pear Video/Beijing Satellite TV)

Hal ini terjadi ketika kulitnya menghitam dikarenakan "masalah pada fungsi hati" selama mendapat pengobatan virus corona.

Hingga saat ini, penyebab kematian Hu Weifeng masih belum diketahui.

Kabar itu langsung memantik reaksi publik China, dengan media sosial dipenuhi kemarahan.

Mengutip dari Kompas.com, kulit menghitam disebabkan liver mereka yang mengalami kerusakan dikarenakan ketidakseimbangan hormon.

Peng Mei News memberitakan, pakar urologi berusia 42 tahun itu mengembuskan napas terakhir karena komplikasi yang disebabkan Covid-19.

Dokter senior di Rumah Sakit Tongji mengungkapkan sebelum meninggal, Dr Hu Weifeng mengalami koma setelah mengalami pendarahan otak pada 22 April dan menjalani operasi.

"Kami melakukan pembedahan untuk mengeluarkan cairan dari otaknya pada Sabtu (30/5/2020)," ujar dokter anonim kepada South China Morning Post.

Rumah Sakit Tongji disebut sudah kehilangan lima tenaga medisnya karena Covid-19. Namun, mereka masih belum berkomentar soal kematian Hu.

Diberitakan sebelumnya, Dr Yi Fan dan Dr Hu Weifeng, keduanya berusia 42 tahun, terpapar virus corona jenis baru ketika bertugas di Rumah Sakit Pusat Wuhan, Januari lalu.

Kepada media China, dokter yang merawat mereka mengemukakan, kulit Yi dan Hu yang menghitam disebabkan ketidakseimbangan hormon karena hati mereka rusak oleh Covid-19.

Dr Yi dan Dr Hu adalah kolega Dr Li Wenliang, pihak pertama yang memperingatkan adanya virus corona, dan dihukum karena tindakannya.

Dr Li, yang kemudian dipandang sebagai pahlawan, meninggal karena wabah itu pada 7 Februari, di mana kematiannya memantik reaksi keras dari publik China.

Dilansir Daily Mail, Yi dan Hu sama-sama terpapar virus mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) pada 18 Januari.

Awalnya, mereka dibawa ke Rumah Sakit Paru-paru Wuhan, sebelum kemudian dipindahkan ke RS Tongji Cabang Zhongfa Xincheng, dilaporkan CCTV.

Dr Yi yang merupakan kardiolog mengalahkan virus corona setelah tim medis memasukkannya ke mesin penunjang kehidupan bernama ECMO selama 39 hari.

ECMO merupakan pendukung kehidupan drastis yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru, dengan memompa oksigen ke dalam darah ke seluruh tubuh.

Berbicara dari ranjangnya pada Senin (20/4/2020), Dr Yi mengungkapkan dia mulai pulih dari virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu.

Dia mengungkapkan saat ini, dia sudah bisa beranjak dari tempat tidur.

Hanya saja, dia masih merasa kesulitan saat berjalan.

Dia menuturkan, berjuang mengalahkan virus corona yang membuatnya sakit parah sempat menimbulkan rasa trauma dalam dirinya.

"Ketika saya akhirnya sadar, terutama setelah saya tahu bagaimana kondisi saya, saya merasa takut dan sering bermimpi buruk," kata dia.

Yi mengatakan, dia berusaha menyembuhkan kondisi psikologinya, di mana para dokter berusaha mneyemangatinya dan menawarkannya konseling.

Tayangan yang dirilis Beijing TV Station memperlihatkan Dr Zhan Qingyuan dari RS Persahabatan China-Jepang berbicara dengan Dr Yi dan Dr Hu pada 6 April.

Dr Zhan disebut bertanggung jawab untuk merawat mereka, dan melakukan pengecekan terakhir sebelum dia dan timnya kembali ke Beijing.

Kepada Zhan, Yi mengungkapkan dia mulai pulih dengan lukanya sedikit demi sedikit tertutup.

Zhan menjawab adalah tugasnya untuk "menyelamatkan kolega".

Adapun Dr Hu dilaporkan tidak bisa berbicara karena kondisinya masih lemah.

Tetapi, dia menyalami Zhan sebagai bentuk terima kasih.

Dr Li Shusheng yang merawat Hu menjelaskan, kondisi pakar urologi itu lebih serius, dengan menjalani perawatan intensif selama 99 hari.

Selain kondisinya yang lemah, Li menyatakan kekhawatiran lain adalah terkait kesehatan mental yang tengah dialami Dr Hu.

"Dia tidak bisa berbicara kepada dokter yang melakukan kunjungan," ungkap Li. Hu menjalani terapi ECMO dari 7 Februari hingga 22 Maret.

Dia mendapatkan lagi kemampuan berbicara pada 11 April.

Saat ini, dia masih menjalani perawatan di ICU.

Adapun Dr Yi telah dipindahkan ke bangsal umum.

Li melanjutkan, dia berharap kulit kedua dokter itu bisa kembali pulih setelah seiring dengan semakin menguatnya fungsi hati mereka. (TribunNewsmaker/ Irsan Yamananda)

Artikel Asli