Prospek Menjulang Emiten Menara Telekomunikasi

Bisnis.com Dipublikasikan 00.35, 06/08 • Dhiany Nadya Utami
Pemandangan daratan dan lautan dari atas menara telekomunikasi yang dimiliki oleh PT Solusi Tunas Pramata Tbk. Sektor telekomunikasi yang moncer selama pandemi covid-19 membuat perusahaan yakin target pendapatan hingga akhir tahun bisa tumbuh 9-10 persen./stptower.com
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan emiten menara telekomunikasi telah menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2020. Di sisi top line, 7 dari 8 emiten membukukan kenaikan pendapatan.

Bisnis.com, JAKARTA — Bergulirnya ekspansi operator yang didorong tingginya kebutuhan internet pada masa pandemi Covid-19 memoles kinerja emiten menara telekomunikasi. Performa emiten tersebut pada semester II/2020 pun diproyeksi tetap moncer.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan emiten menara telekomunikasi telah menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2020. Di sisitop line, 7 dari 8 emiten membukukan kenaikan pendapatan.

Pertumbuhan pendapatan paling tinggi ditorehkan oleh PT Bali Towerindo Sentra Tbk. (BALI) sebesar 26,19% year-on-year menjadi Rp371,78 miliar. Di sisi lain, PT LCK Global Kedaton Tbk. menjadi satu-satunya emiten sektor menara telekomunikasi yang pendapatanya merosot hingga 51,31% yoy menjadi Rp13,58 miliar pada Januari—Juni 2020.

Pendapatan yang kian tebal berkorelasi positif terhadap kenaikan laba yang dikantongi oleh emiten penyewaan base transceiver station (BTS). Tengok saja laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dua penguasa pasar, yakni PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR).

Pada semester I/2020, laba bersih TBIG tumbuh 33,58% yoy menjadi Rp510,48 miliar. Pada saat yang sama, TOWR membukukan laba bersih Rp1,3 triliun atau tumbuh 30,97% yoy.

Adam Ghifari, Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara, menuturkan perseroan masih percaya diri untuk mencapai pertumbuhan pendapatan sekitar 14%-15% menjadi Rp7,3 triliun-Rp7,5 triliun pada 2020.

“Diperkirakan dua pertiga kontribusinya berasal dari bisnis organik yaitu menara dan fiber, sisanya yaitu sekitar sepertiga dari menara yang diakuisisi,” tutur Adam, Rabu (5/8).

Seperti diketahui, TOWR telah menyelesaikan akuisisi 1.640 menara dari PT XL Axiata Tbk.

Hingga semester I/2020, jumlah titik atau lokasi persewaan menara perseroan dan entitas anaknya adalah 38.122 titik. Pada saat yang sama, entitas Grup Djarum itu telah menambah 4.776 titik tower leases (sewa menara) dan sambungan serat optik sepanjang 6.600 kilometer.

Adam menambahkan belanja modal yang diserap pada semester I/2020 mencapai Rp3,74 triliun atau 65,61% dari alokasi Rp5,7 triliun. Penyerapan sisa capital expenditure, imbuhnya, tergantung pada order menara baru atau kolokasi dari operator seluler.

“Itu termasuk capex untuk akuisisi menara dari XL Axiata sebesar Rp 2,5 triliun,” ungkapnya.

Capaian kinerja semester I/2020 juga membuat TBIG optimistis dapat mencetak pertumbuhan pendapatan, earnings before interest, tax, depreciation, and amortization (EBITDA), dan laba bersih dobel digit pada tahun ini.

Menurut Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso, proyeksi pertumbuhan tersebut utamanya ditopang oleh pendapatan dari sewa menara. Hingga akhir 2020, TBIG menargetkan dapat menambah 3.000 tenant.

“Sudah pasti tercapai karena sampai Juni sudah 2.500 tenant dengan capex Rp1 triliun dari alokasi Rp2 triliun,” tuturnya.

Hingga 30 Juni 2020, TBIG memiliki 31.039 penyewaan dan 15.893 site telekomunikasi. Adapun, total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 30.918.

“Seiring dengan pelanggan telekomunikasi kami yang berfokus pada densifikasi dan perluasan jaringan 4G mereka, kami mendapat permintaan kolokasi yang kuat, di mana meningkatkan rasio kolokasi (tenancy ratio) dari 1,85 pada 2019 menjadi 1,96,” tutur CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong.

Dalam risetnya, analis Kresna Sekuritas Etta Rusdiana Putra menuturkan moncernya kinerja TOWR disokong oleh penambahan jumlah menara yang meningkat menjadi 21.271 atau naik 17,2% yoy dengan 38.122 penyewa. Bahkan, raihan laba bersih TOWR lebih tinggi dari ekspektasi Kresna Sekuritas.

Etta menilai masih ada potensi kenaikan dari pembaruan kontrak dan menara tambahan, didorong oleh implementasi penerapan teknologi 5G yang diperkirakan bakal meluncur pada 2023-2024. Hingga Juni 2020, TOWR memiliki kontrak jangka panjang hingga 2033 senilai Rp53,1 triliun.

“TOWR mengakuisisi 241 menara XL pada Juni 2020, yang akan meningkatkan pendapatan pada semester II/2020,” tulisnya dalam riset, Rabu (5/8).

Kresna Sekuritas mengerek proyeksi pendapatan, EBITDA, dan laba bersih TOWR pada 2020 menjadi masing-masing Rp7,33 triliun, Rp5,62 triliun, dan Rp2,16 triliun. Sejalan dengan kenaikan itu, target harga TOWR juga didongkrak dari Rp1.250 menjadi Rp1.350 per saham dengan rekomendasi beli.

Analis Reliance Sekuritas Annisa Septiwijaya mengatakan kinerja emiten menara telekomunikasi cenderung tak terdampak oleh pandemi sebab operator terus ekspansi dan sistem kontrak sewa jangka panjang.

“Kontraknya 10 tahunan dan prospeknya bagus,” ujar dia kepada Bisnis.

Untuk saham menara pilihan, dia merekomendasikan TOWR dan TBIG. Adapun, saham GHON dan BALI pergerakan sahamnya dianggap kurang likuid.

Artikel Asli