Profil Haikal Hassan, Transfer Uang ke Pembobol Data Denny Siregar

Tagar.id Dipublikasikan 07.48, 11/07
Profil Haikal Hassan, Transfer Uang ke Pembobol Data Denny Siregar

Jakarta - Polisi berhasil menangkap pelaku pembobolan data pribadi milik Denny Siregar, Febriansyah Puji Handoko, 27 tahun yang merupakan karyawan kontrak Telkomsel di Surabaya. Pelaku ditangkap di kawasan Rungkut Surabaya.

"Kemarin pada 9 Juli 2020 telah melakukan penangkapan pelaku di daerah Rungkut Surabaya," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiono di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat, 10 Juli 2020.

Ane orang Betawi, lahirnye tanggal 21, tapi dicatatnya (tanggal) 22. Bulannya Oktober, sipaya bisa sekolah, dimuda-mudain tahun 1970, padahal tahun 1968.

Namun, akun Twitter @xdigeeembok memberi keterangan berbeda yang menyebut identitas pembocor data pribadi Denny Siregar melalui akun @Opposite6891 adalah Wahyu Budi Laksono.

Akun @xdigeeembok membeberkan Wahyu Budi Laksono pernah ditransfer uang oleh motivator Haikal Hassan sebesar Rp 5 juta.

“Beh @haikal_hassan jgn biasain capture pernah transfer Rp 5 Juta ke Wahyu Budi Laksono di Bank **A. Gak usah dicapture trus tanpa sengaja kesimpan ke Google Foto. Nah ayyy jadinya bisa ngintip. Ayyy skill-nya cuma segitu. Gak ada orang dalem di Bank,” tulisnya.

Sebelumnya, Haikal Hassan juga sempat menyebut Menkominfo Johnny G. Plate itu lebay karena ikut merespons kasus bocornya data Denny Siregar di Telkomsel.

"Lebay john. Data ane di bongkar mulu. WA ane kemarin blank. Lalu muncul lagi. IG ane tau-tau update. Tanpa ane sentuh," kata @haikal_hassan di Twitter, Kamis, 9 Juli 2020.Menurut Haikal, Menkominfo berlebihan atas kasus Denny Siregar. Membandingkan dengan dirinya, ia menyebut jika data pribadi dirinya sering kali dibongkar dan diretas.
"Lebay john. Data ane di bongkar mulu. WA ane kemarin blank. Lalu muncul lagi. IG ane tau-tau update. Tanpa ane sentuh," kata @haikal_hassan di Twitter, Kamis, 9 Juli 2020.

Profil Haikal Hassan

Nama lengkapnya Ahmad Haikal bin Hassan bin Umar bin Salim bin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Baras. Dirinya dikenal publik sebagai pendakwah jenaka yang syarat dengan logat betawi.

Lahir di Jakarta, pada tanggal 21 Oktober 1968. Namun data tersebut diubah tanggal kelahirannya oleh orang tua saat ingin mendaftar sekolah. Perubahan tersebut membuat jati diri sang ustaz sulit terlacak.

"Ane orang Betawi, lahirnye tanggal 21, tapi dicatatnya (tanggal) 22. Bulannya Oktober, sipaya bisa sekolah, dimuda-mudain tahun 1970, padahal tahun 1968. Jadi udah nggak jelas. Kata ibu saya, saya lahir di Bogor, kata bapak saya di Jakarta. Udah, makin nggak jelas," kata Babe Haikal disebuah video saat dirinya diundang sebagai penceramah tamu oleh Aa Gym, tahun 2018 lalu.

Haikal kecil menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Cawang 03 pagi. Lepas dari pendidikan dasar, dirinya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 20 Jakarta dan Sekolah Menengah Atas Negeri 14 Jakarta.

Babe Haikal mengaku bahwa sewaktu masih kecil, dirinya kerap mendengarkan ceramah agama melalui kaset pita. Kaset-kaset ceramah tersebut sengaja ia koleksi dan disimpan hingga kini.

Selain itu, dirinya juga mengaji Alquran dengan guru ngajinya, yakni Ustadz Muchtar. Saat mengaji dengan gurunya itu, ada sebuah pelajaran yang membuatnya bercita-cita untuk menjadi pendakwah saat besar kelak.

"Ustaz Muchtar ngajarin saya, orang yang mencari dunia nggak bakal dapat akhirat, tapi orang yang mencari akhirat, langsung dapat dunia. Beli kambing, tali dapat. Beli tali mengharapkan kambing, nggak bisa," kenangnya.

Babe Haikal kemudian memutuskan untuk menggali ilmu agama Islam lebih dalam di sebuah perguruan tinggi di Jedah, Arab Saudi. Namun karena merasa tidak betah, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan melanjutkan pendidikan di dalam negeri, yakni di Universitas Budiluhur.

Lulus dengan gelar S1 bidang Teknik Informatika di Universitas Budiluhur, Haikal muda kembali melancong ke luar negeri untuk mengejar gelar S2 di WA University, Perth, Australia. 

Lagi-lagi kehidupan di luar negeri membuat Haikal muda tidak nyaman. Setelah sempat menjalani kehidupan selama 2 tahun di Australia, dia pun memutuskan untuk kembali pulang dan melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan mendapat gelar S2 di bidang Teknik Perindustrian.

Haikal Hassan sempat berprofesi sebagai salesman sambil mengajar di sebuah perguruan tinggi. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali mengejar pendidikan, yakni di Fakultas Filsafat Matematika Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan bekerja sebagai konsultan Sumber Daya Manusia, di sebuah perusahaan pertambangan.

Karier dakwah Haikal Hassan sudah dimulai sejak tahun 80an, yakni sebagai guru ngaji kampung di daerah tempat tinggalnya.

Dirinya aktif memberikan ceramah-ceramah agama dengan gaya yang khas, yakni dialek Betawi yang kental dengan kejenakaan.

Nama Haikal Hassan Baras mencuat paska aksi massa 212, pada 2 Desember 2016 silam. Dirinya bersama ratusan ulama pemimpin organisasi massa Islam, membentuk sebuah koalisi nasional untuk mengawal fatwa MUI tentang kasus penistaan agama oleh mantan Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Haikal juga kerap tampil sangar dalam mengkritik pemerintahan lewat berbagai mimbar dakwah. Tidak hanya itu, dirinya juga kerap mencuitkan pemiiran kritisnya lewat media sosial Twitter.

Dalam kancah politik, Haikal juga tercatat sebagai salah satu juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam posisinya tersebut, dirinya kerap memberikan ceramah-ceramah dalam agenda safari politik capres Prabowo di berbagai daerah. []

Baca juga: 

  • Polisi Ciduk Pembobol Data Pribadi Denny Siregar
  • Profil Edhy Prabowo, Menteri Kelautan Kontroversial
Artikel Asli