Pramugari Garuda Kesal Tampak Jelek Usai Diperiksa Polisi, Sindir Fotografer

Haibunda Dipublikasikan 09.53, 21/01 • Yuni Ayu Amida

Setelah terseret dalam kasus 'Gundik Garuda', nama Siwi Sidi selalu menghiasi media masa. Hal ini membuat kehidupan pramugari Garuda Indonesia ini semakin tidak lepas dari sorotan warganet.

Baru-baru ini, Siwi Sidi mengunggah sebuah gambar tangkapan layar di Instagram story-nya. Tangkapan layar tersebut berisi percakapan antara dia dan temannya, terkait foto wajahnya. Siwi Sidi tidak terima sang fotografer memotretnya dari sudut yang tidak pas.

"wkwkwkwk Astagaaa seniat itu ya, enggak singkron gitu ngeditnya,"kata teman Siwi.

"Ini cameranya yg jahat apa fotografernya emng nyari foto yg paling jelek wkkk," balas Siwi.

"Niatnya sih yg jahat. Foto video itu kalo udah di edit bisa dibikin jadi apa aja," jawab temannya lagi.

Meski demikian, di unggahan tersebut, Siwi juga mengatakan tidak masalah dengan hal itu. Ia yakin, jika yang dipakai adalah fotonya yang bagus, maka tidak akan ada omongan, seperti yang diharapkan media.

"Tak apalah Kak, perjuangan nama baik, biar viral aja terus kan klo dikasih foto bagus ga akan jadi omongan dan pembulian, itu yang dimau, yaudahlah bagi2 rejeki ke org," katanya.

Foto: instagram

Diketahui, foto tersebut diambil usai Siwi Sidi menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (20/1/2020). Ia dicecar 42 pertanyaan atas kasus pelaporan akun Instagram @digeeembok, yang menyebutnya 'gundik Garuda'.

Menjadi seseorang yang disorot media terkadang memang harus kuat mental, Bunda. Pasalnya, orang-orang demikian kerap mendapat komentar pedas atau bullying dari netizen. Terutama dengan semakin canggihnya teknologi internet saat ini, netizen semakin mudah berkomentar hanya dengan jari.

Menurut Sue Scheff, advokat dan pakar keamanan internet keluarga yang juga penulis Shame Nation: The Global Epidemic of Online Hate, saat ini melakukan bullying di media sosial seperti sudah menjadi kebiasaan baru. Hal ini tentu sangat disayangkan dan merupakan sesuatu yang miris.

"Dalam budaya meningkatnya ketidaksopanan, dikombinasikan dengan banyak orang yang peka dan bersemangat tentang rasa kepercayaan mereka, orang-orang menggunakan perilaku intimidasi atau melecehkan dan menyebutnya sebagai aktivisme," jelas Scheff, dikutip dariPsychology Today.

Itu sebabnya, Scheff menambahkan, aktivitas mengomentari seseorang dengan begitu kejam bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Menurutnya ini masuk pada pelecehan.

Artikel Asli