Porak-poranda Ekonomi Lebanon Usai Ledakan Mematikan di Beirut

Merdeka.com Dipublikasikan 01.00, 12/08/2020

                Ledakan di Beirut, Lebanon. Twitter/@BBCWorld ©2020 Merdeka.com
Ironisnya ledakan beberapa waktu lalu juga memukul sektor pariwisata Lebanon. Padahal berdasarkan data tahun 2018, tercatat sektor ini ditaksir mampu menyumbang sekitar seperlima PDB Lebanon.

Ledakan besar di kawasan pelabuhan Beirut, Lebanon membuat ekonomi negara tersebut kian hancur. Mengingat jauh sebelum pandemi corona berlangsung, ekonomi Lebanon telah dalam posisi tertekan.

Dilaporkan CNN, Menteri Ekonomi Lebanon, Raoul Nehme menyebut berbagai aset di negaranya telah hancur baik berupa apartemen ataupun pasar bisnis. Terlebih lokasi ledakan bom berada di pelabuhan utama yang menjadi pusat aktivitas ekspor dan impor. Tercatat skala impor di pelabuhan itu mencapai hingga 60 persen.

Ironisnya ledakan beberapa waktu lalu juga memukul sektor pariwisata Lebanon. Padahal berdasarkan data tahun 2018, tercatat sektor ini ditaksir mampu menyumbang sekitar seperlima PDB Lebanon.

Kepala Asosiasi Pariwisata Hotel Lebanon Pierre Achkar pun menyebut akibat ledakan bom tersebut membuat 90 persen hotel di kota itu ikut menanggung kerusakan. Imbasnya pendapatan hotel terpangkas antara 5 hingga 15 persen

Bank Dunia sendiri pada tahun lalu ekonomi telah mengumumkan bahwa Lebanon sudah dilanda krisis ekonomi cukup besar. Dipicu oleh kerusakan sistem lembaga keuangan negara dan tak terkendalinya tingkat inflasi yang terjadi. Diproyeksikan 45 persen penduduk Lebanon akan berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 2020.

Krisis Pangan

Pun, Dana Moneter Internasional atau IMF juga memperkirakan perekonomian Lebanon dihadapkan pada persoalan krisis pangan pada tahun ini setelah melambungnya harga pangan. Juga anjloknya nilai mata uang negara di pasar spot internasional.

Kabar baiknya, Presiden Prancis Emmanuel Macron, bersedia untuk menyediakan keperluan penduduk Lebanon khususnya obat-obatan dan makanan. Selain itu, Prancis Juga akan membantu kegiatan penggalangan dana untuk meringankan beban ekonomi bagi penduduk Lebanon.

"Nantinya bantuan ini, saya pastikan tidak akan masuk ke kantong para koruptor. Sehingga bantuan yang akan diberikan langsung ke tangan penduduk lokal dan tim penyelamatan di Lebanon secara transparan," tandasnya

Menteri Mundur Massal

Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab dan seluruh menteri pemerintahan negara tersebut mengundurkan diri setelah ledakan mematikan Beirut menewaskan sedikitnya 160 orang.

Dalam pidato singkat yang disiarkan televisi Senin malam, Diab mengatakan dia mengundurkan diri agar bisa bersama rakyat berjuang demi perubahan.

"Saya mengumumkan hari ini pengunduran diri pemerintah. Semoga Tuhan melindungi Lebanon," terangnya, dilansir Sky News, Selasa (11/8).

Dia mengulang pernyataan tersebut tiga kali. "Kami bersama rakyat menyerukan persidangan bagi mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan ini," lanjutnya.

Para pengunjuk rasa menuntut perubahan politik setelah ledakan Beirut pada 4 Agustus pekan lalu yang menewaskan lebih dari 160 orang dan melukai sekitar 6.000 orang.

Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hassan lebih dulu mengonfirmasi pemerintahan mengundurkan diri saat berbicara kepada wartawan setelah rapat kabinet pada Senin.

Tekanan kepada kabinet meningkat setelah beberapa menteri mengundurkan diri atau mengungkapkan keinginannya mundur dalam beberapa hari terakhir. "Seluruh pemerintahan mundur," kata Hamad.

Kabinet PM Diab saat ini menjadi kabinet sementara sampai pemerintahan baru terbentuk. Unjuk rasa direncanakan di luar markas pemerintahan bertepatan dengan rapat kabinet.

Artikel Asli