Polisi: Mayat Bocah Tanpa Kepala di Samarinda Diduga Dimakan Hewan

kumparan Dipublikasikan 09.22, 09/12/2019 • Mirsan Simamora
Ilustrasi mayat anak-anaka Foto: Shutterstock

Polisi menyebut temuan mayat bocah empat tahun tanpa kepala dan organ dalam di pinggir Sungai Karang Asem bukan terkait kasus kriminal. Polisi menduga balita tersebut hanyut di sungai, lalu setelah mayatnya membusuk, tubuhnya dimakan hewan.

“Jadi bocah itu sudah hilang 14 hari hanyut di sungai,” kata Kapolres Samarinda, Kombes Pol Arif Budiman, kepada kumparan, Senin (9/12).

“Yang namanya mayat, ya, itu lembek, mungkin dimakan binatang, ya. Mungkin itu saja,” ujar Arif.

Keluarga korban telah mencari bahkan melaporkan hilangnya anak mereka ke Polres Samarinda. Arif menyebut, keluarga balita juga telah dimintai keterangan.

“Keluarga sudah kita periksa, ya,” imbuhnya.

Arif mengaku pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan kasus tersebut. “Yang penting, ya, kita selidiki dulu,” tuturnya.

Anak itu, Yusuf, dilaporkan hilang pada 22 November lalu. Lalu pada 8 Desember, warga di Jalan Antasari 2 digegerkan dengan penemuan mayat balita tanpa kepala dan organ dalam di pinggiran Sungai Karang Asam.

"Menindaklanjuti hasil temuan tersebut, jajaran kemudian melakukan pengecekan kembali, mulai dari TKP awal dan pencocokan data korban dengan orang tua untuk lebih memastikan identitas jasad korban," ujar Kasat Reskrim Polsek Samarinda AKP Damus SA dalam keterangan tertulis, Senin (7/12).

Orang tua korban meyakini mayat balita itu adalah anak mereka. Setelah melalui visum et repertum di rumah sakit, ditemukan sisik binatang di organ tubuh korban.

"Jarak antara selokan di daerah tempat korban dilaporkan hilang sampai lokasi penemuan jenazah berjarak sekitar 5 km. Dan dari hasil pemeriksaan dokter rumah sakit ditemukan sisik binatang pada organ tubuh korban," jelas Damus.

Artikel Asli