Polemik Film The Santri, Benarkah Muslim Masuk Gereja Murtad?

Okezone.com Dipublikasikan 04.02, 23/09/2019
Polemik Film The Santri, Benarkah Muslim Masuk Gereja Murtad?
Literatur fikih klasik sejatinya banyak menjelaskan hukum seorang muslim memasuki gereja bahkan hukum salat di dalamnya.    

Saat ini trailer film The Santri jadi polemik dan perbincangan oleh banyak pihak. Sebab dalam trailer film tersebut terdapat adegan muslim memasuki gereja.

Adegan di film The Santri

Dalam film The Santri diperlihatkan adegan gadis-gadis muslim memberikan tumpeng ke gereja. Sejatinya, bagaimana hukum seorang muslim memasuki gereja, apakah dihukumi murtad atau tidak?

Sesungguhnya seorang muslim memasuki gereja sudah menjadi masalah klasik yang kembali mengemuka di masyarakat. Sejak dulu, para ulama telah membahas masalah ini.

Seperti dilansir website Pondok Pesantren Lirboyo, dalam beberapa literatur fikih klasik sudah banyak dijelaskan hukum seorang muslim memasuki gereja bahkan hukum salat di dalamnya.

Para ulama masih berselisih pendapat (khilaf) mengenai muslim masuk gereja. Namun secara umum mayoritas ulama memperbolehkan seorang muslim memasuki gereja, apalagi untuk kepentingan dakwah, membawa misi kerukunan antar umat beragama dan semacamnya.

Sebagaimana penjelasan imam al-Maqshidi dari madzhab Hanafi:

وَلَهُ دُخُوْلُ بِيْعَةٍ وَكَنِيْسَةٍ وَنَحْوِهِمَا وَالصَّلَاةُ فِي ذَلِكَ وَعَنْهُ يُكْرَهُ اِنْ كَانَ ثَمَّةً صُوْرَةٌ

“Diperbolehkan bagi orang Islam untuk memasuki Biah (tempat ibadah agama Yahudi) dan gereja (tempat ibadah agama Nasrani) atau sesamanya. Bahkan boleh salat di dalamnya, namun makruh apabila di tempat tersebut terdapat gambar yang diharamkan.”[1]

Begitu pula menurut mayoritas ulama madzhab Syafi’i pun memperbolehkan. Namun sebagian ulama mengajukan beberapa syarat, sebagaimana penjelasan Muhammad bin Sulaiman al-Madani dalam kitab Mawahib al-Madaniyyah:

وَشَرْطُ الْحِلِّ أَيْضًا أَنْ لَا تَحْصُلَ مَفْسَدَةٌ مِنْ تَكْثِيْرِ سَوَادِهِمْ وَاِظْهَارِ شِعَارِهِمْ وَاِيْهَامِ صِحَّةِ عِبَادَتِهِمْ وَتَعْظِيْمِ مُتَّعَبَّدَاتِهِمْ

“Syarat kebolehan (masuk tempat ibadah agama lain) adalah tidak menimbulkan kerusakan (mafsadah) seperti menimbulkan persepsi untuk memperbanyak golongan non muslim, menyiarkan agama non muslim, menimbulkan dugaan keabsahan ibadah dan mengagungkan tempat ibadah mereka.”[2]

Dengan demikian, apabila tidak ditemukan mafsadah di atas, maka ulama Syafi’iyah memperbolehkan seorang muslim untuk memasuki tempat ibadah agama lain. Jadi sampai saat ini belum ditemukan pendapat ulama yang secara tegas memvonis murtad terhadap seorang muslim yang memasuki gereja.

Artikel Asli