Pola Baru Masyarakat di Tengah Pandemi: Menengah Atas Menabung, Bawah Konsumsi

kumparan Dipublikasikan 11.54, 05/08 • kumparanBISNIS
Pertumbuhan Ekonomi Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Pola konsumsi masyarakat berubah saat pandemi COVID-19. Sekretaris I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Raden Pardede mengatakan, saat ini pola konsumsi masyarakat terbagi menjadi dua kelompok yakni konsumsi kelompok penghasilan rendah dan penghasilan tinggi.

Menurut Raden dalam masa pandemi ini, kelompok masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi lebih fokus pada faktor kesehatan. Di sisi lain, penghasilan mereka tidak terlalu terdampak sehingga kelompok ini memilih menabung ketimbang belanja.

“Tabungan mereka naik, tapi kredit turun. Loan to deposit ratio (LDR) perbankan juga turun dan tabungan kelas menengah atas naik,” ungkap Raden dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8).

Kondisi ini berbeda dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Pandemi saat ini membuat penghasilan mereka seret sehingga kelompok kelas menengah bawah ini cenderung sulit untuk memiliki tabungan.

Penghasilan yang mereka peroleh akan langsung digunakan untuk konsumsi. Sehingga tidak heran jika bantuan sosial seperti PKH, sembako, Kartu Pra Kerja, bansos Jabodetabek dan bansos tak langsung, akan langsung terserap oleh kelompok ini.

Kementerian Sosial salurkan bantuan sosial (bansos) untuk lanjut usia (lansia) terdampak pandemi corona di 5 provinsi. Foto: Kemensos

Untuk itu menurut Raden, salah satu cara untuk bisa mendongkrak kembali konsumsi domestik adalah dengan menggencarkan bantuan kepada masyarakat menengah ke bawah. Selain itu juga dibarengi dengan belanja pemerintah.

“Konsumsi rumah tangga untuk kelas menengah bawah, bansos harus diperbanyak dan perlu diusahakan pemerintah di kuartal III dan kuartal IV,” ujarnya.

Namun Raden menegaskan, konsumsi kelas menengah bawah saja tidak cukup. Pemerintah juga harus meyakinkan kelas menengah atas untuk melakukan konsumsi. Menurut Raden jika kelas atas fokus pada kesehatan, maka belanja kesehatan bisa didorong.

“Itu enggak cukup. Perlu kepercayaan menengah atas dengan belanja. Dengan memastikan belanja kesehatan didorong lebih cepat,” tandasnya.

Raden menjelaskan karena itu dibutuhkan dorongan agar penyerapan anggaran ini bisa berjalan dengan baik. Oleh karenanya, menurut Raden, kelas menengah atas harus didorong untuk melakukan spending. Sebab kelas ini juga menentukan tingkat daya beli.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2020, jumlah simpanan di atas Rp 1 miliar tercatat 309.113 rekening dengan nilai Rp 440 triliun. Kemudian untuk simpanan kurang dari Rp 5 miliar dan di atas Rp 2 miliar tercatat 181.676 rekening dengan nominal Rp 567 triliun. Lalu untuk simpanan di atas Rp 5 miliar tercatat 103.565 rekening dengan nilai Rp 3.012 triliun.

Artikel Asli