Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Kompas.com Dipublikasikan 10.01, 09/08 • Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas
WIKIMEDIA COMMONS/Chris Laurel
Ilustrasi planet Bumi Super (Super Earth)

KOMPAS.com - Ada banyak exoplanet atau planet luar Tata Surya di alam semesta, bahkan di galaksi Bima Sakti ini. Akan tetapi, beberapa di antaranya diketahui memiliki kondisi yang sangat ekstrem dibandingkan planet lainnya.

Salah satu yang dikenal di antaranya adalah Super Earth atau Bumi Super yang ternyata sangat panas.

Bisa dibayangkan, ada planet seperti Bumi dengan ukuran 10 kali lebih masif, dan begitu dekat dengan bintangnya, sehingga hanya diperlukan 10 hari atau mungkin kurang untuk mengorbit.

Melansir Science Alert, Sabtu (9/8/2020), beberapa dari planet tersebut sangat terang dengan cahaya yang dipantulkan dari bintang induknya. Bahkan, beberapa yang lain jauh lebih terang dari Bumi, memantulkan hingga 50 persen cahaya yang menghantam mereka dari bintang induknya.

Baca juga: Penuh Batu Permata, Bumi Super Baru Ditemukan Ilmuwan Eropa

Sementara itu, bagi ilmuwan Bumi Super panas masih suatu misteri dan mereka belum dapat menjelaskan apa yang menyebabkan planet itu sangat cerah.

"Anda akan menduganya sebagai planet lava, seperti bola arang yang mengorbit di luar angkasa," kata ilmuwan planet Zahra Essack dari Departemen Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Ilmu Planet Institut Teknologi Massachusetts.

Baca juga: Snowball Earth: Apa yang akan Terjadi Jika Bumi Kehilangan Sinar Matahari?

Ketua penulis penelitian baru tentang fenomena planet lava ini mengaku masih belum mengetahui apa yang membuat planet ini begitu cemerlang.

"Tapi kami memiliki gagasan yang lebih jelas tentang yang tidak ada di balik albedo tinggi dari exoplanet dengan lautan lava ini," ungkap Essack.

Tim ilmuwan ini kemudian membuat simulasi di laboratorium, dengan membuat sekumpulan lava dan kaca vulkanik. Selanjutnya, mereka mengukur reflektifitas kedua bahan tersebut. Para ilmuwan telah mengesampingkan hal ini sebagai sumber kecerahan ekstra.

Pertama, tim memilih bahan mereka, yang terdiri dari feldspar dan basal, dua mineral yang sangat umum di Bumi dan planet berbatu lainnya di Tata Surya, dengan sifat yang dikarakterisasi dengan baik.

Menggunakan pengecoran di Departemen Ilmu dan Teknik Material MIT, Essack dan rekan-rekannya melebur feldspar tersebut.

Sayangnya, mineral itu mendingin terlalu cepat untuk mendapatkan pengukuran reflektifitas dalam keadaan cairnya, tetapi kaca vulkanik yang dihasilkan terbukti sangat berguna.

Dalam percobaan itu, tim melakukan pengukuran secara terperinci, menyinari dengan cahaya dari berbagai sudut dan mempelajari bagaimana cahaya itu dipantulkan.

Sedangkan untuk material basal, tim memperoleh sampel kaca basal dari Proyek Lava Syracuse University dan melakukan pengukuran rinci yang sama terhadap reflektifitasnya.

Baca juga: Bumi Super Baru Ditemukan Mengorbit Tetangga Terdekat Matahari

Untuk mendapatkan hasil pengukuran reflektifitas untuk lava cair, tim meneliti dari studi sebelumnya. Selanjutnya, mereka menghitung albedo untuk berbagai konfigurasi Bumi Super panas, dari lava cair murni hingga kaca vulkanik murni, dengan berbagai kombinasi.

Seperti yang diharapkan dalam studi ini, albedo suatu planet yang permukaannya terdiri dari bahan-bahan ini ternyata cukup rendah. Batas atas absolut adalah albedo sekitar 0,1 - yang memantulkan hanya 10 persen dari cahaya bintang induk.

"Ini cukup gelap dibandingkan Bumi, dan tidak cukup untuk menjelaskan kecerahan planet yang menarik bagi kami," kata Essack.

Akan tetapi, saat ini tim dapat mengalihkan perhatian mereka pada kemungkinan lain. Seperti pada Venus, yang memiliki albedo sangat tinggi, yang memantulkan sekitar 70 persen sinar matahari yang memapar planet ini, karena atmosfernya yang tebal.

Baca juga: K2-18b, Bumi Super Baru, Apakah Layak Bagi Manusia?

Bumi Super (Super Earth) yang panas tidak mungkin memiliki atmosfer, tetapi mungkin kita tidak cukup tahu tentangnya.

"Masih banyak yang harus dipahami tentang planet lautan lava ini," kata Essack.

Tim menganggap planet tersebut sebagai bola batu yang bercahaya, tetapi planet ini mungkin memiliki sistem proses permukaan dan atmosfer yang kompleks yang cukup eksotis.

Penelitian yang telah dipublikasikan di The Astrophysical Journal ini menunjukkan bahwa di masa depan kandidat Super Earth atau Bumi Super yang panas ini dapat diidentifikasi oleh teleskop pemburu planet ekstrasurya TESS, sehingga membantu ilmuwan lebih memahami dunia aneh dan misterius ini.

Penulis: Holy Kartika Nurwigati SumartiningtyasEditor: Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Artikel Asli