Pipit Fatonah, Enam Tahun Rintis Kantin Kejujuran Pakai Uang Pribadi

Radar Solo Dipublikasikan 04.34, 09/12/2019 • Perdana
CARI BERKAH: Pipit Fatonah di kantin kejujuran lingkungan SMPN 1 Surakarta. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
CARI BERKAH: Pipit Fatonah di kantin kejujuran lingkungan SMPN 1 Surakarta. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Mengelola kantin kejujuran bukan barang baru bagi Pipit Fatonah. Sejak enam tahun lalu dia menggeluti kantin tersebut di lingkungan SMPN 1 Surakarta. Meski transaksi hanya bermodal kepercayaan, dia tidak pernah rugi. 

DI bagian depan kantin terpampang jelas papan bertuliskan Kantin Kejujuran. Tulisan serupa terlihat di MMT yang terpasang di tembok belakang kantin berukuran 3x3 meter persegi tersebut. 

Ketika disambangi Jawa Pos Radar Solo, perempuan kelahiran Surakarta, 20 Februari 1966 sibuk melayani puluhan murid. Ada yang mengambil jajanan, minuman, membeli peralatan tulis, fotokopi dan lain sebagainya.

“Tante, ini saya jajan habisnya Rp 6000. Uangku Rp 10.000, aku ambil kembalian sendiri ya,” kata salah seorang siswi usai berbelanja.

“Ya, uanganya taruh sendiri ya,” saut ibu dua anak ini sambil memasak mi instan pesanan murid lainnya. 

Sejak awal berjualan di lingkungan sekolah, Pipit sudah mengedepankan unsur kepercayaan. Dia ingin menguji apakah usia remaja masih memiliki rasa kejujuran dalam kehidupan mereka. “Jadi (ketika beli kebutuhan) tidak diladeni. Ambil sendiri, bayar sendiri, saya percaya saja. Kondisi seperti ini gampang kalau tidak mau jujur. Apalagi saya jualan sendiri. Pas posisi ramai, sangat rentan (kecurangan),” ungkap warga Jalan Nangka No. 10, RT 02 RW 10, Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan ini.

Kali pertama mendirikan kantin, Pipit mamasang daftar harga pada wadah tiap barang dagangannya. Namun, seiring berjalannya waktu, daftar harga tidak lagi terpasang. Karena harganya tidak berubah, para murid sudah hafal.

Apakah ada siswa yang tidak membayar ketika jajan? Pipit mengaku beberapa kali mendapatinya. Terutama ketika pembeli di kantin sedang ramai. 

“Setelah mengambil jajanan langsung pergi. Tidak saya tegur. Saya biarkan dulu karena posisinya ramai. Kalau saya panggil saat itu juga, pasti mentalnya bisa down. Mereka sudah saya anggap seperti anak sendiri,” urai dia.

Ketika kondisi kantin sudah sepi, baru Pipit memanggil anak bersangkutan untuk dinasihati. Biasanya alasan mereka lupa bawa uang jajan. “Saya beri pengertian. Kalau tidak bawa uang jajan, ambil saja (jajan yang diinginkan), bayarnya nanti kalau punya uang, seperti itu. Karena yang penting itu kejujuran,” tandasnya.

Pengalaman tak pernah dilupakan Pipit adalah ketika ada alumni sekolah setempat yang sudah kuliah dan datang kembali ke kantinnya. Kedatangan alumni itu untuk membayar jajanan yang belum dibayar ketika masih menimba ilmu di SMPN 1 Surakarta.

Selama ini, Pipit tak pernah merugi. Dia percaya, jika memiliki niat baik, pasti Tuhan akan melancarkan rezekinya. “Bagi saya yang penting anak-anak ini bisa jujur. Kejujuran itu yang utama. Sering saya dapati ketika mereka mengambil uang kembalian kelebihan atau saya memberi uang kembalian terlalu banyak, mereka kembali lagi mengembalikannya. Berarti nilai kejujuran sudah tertanam dalam jiwa mereka,” urai dia. (*/wa)

A. Christian, Solo, Radar Solo

Artikel Asli