Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Petugas Lab Uji Corona Kurang, Pemerintah Bisa Rekrut Mahasiswa dan Unsur Swasta

kumparan Dipublikasikan 03.15, 05/05/2020 • kumparanNEWS
Petugas ambulans yang mengenakan pakaian hazmat, tiba di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Kamis (5/3). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Pemerintah menargetkan pemeriksaan sampel dahak secara masif dan pelacakan agresif dalam menangani virus corona. Namun, upaya itu masih terhambat lantaran minimnya jumlah petugas laboratorium dan kekurangan reagen.

Terkait itu, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Pandu Riono, mengusulkan agar pemerintah melibatkan mahasiswa untuk membantu pemeriksaan. Cara ini dinilai bisa menutupi kekurangan petugas lab.

“Ya, itu, begitu mesin ada kan harus ada petugasnya. Kita harus rekrut tenaga-tenaga yang masih sekolah, ya, kita optimalkan. Kan banyak sekolah-sekolah laboratorium atau swasta, tapi mereka harus dilatih,” ungkap Pandu saat dihubungi, Selasa (5/5).

Para mahasiswa yang dimaksud Pandu adalah mereka yang sedang menempuh semester akhir pendidikan atau yang sudah tamat namun belum bekerja.

Seorang dokter berjalan di dekat alat tes swab virus Corona berupa Polymerase Chain Reaction diagnostic kit (PCR) di Laboratorium Rumah Sakit Pertamina Jaya. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Petugas mengenakan pakaian steril saat akan memasuki Laboratorium Balitbangkes, Jakarta, Selasa (11/2). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Menurut Pandu, saat ini, sudah banyak kampus yang bekerja sama dengan pemerintah untuk pemeriksaan swab. Sehingga, para mahasiswa itu pun bisa ditempatkan bekerja di kampusnya masing-masing.

“Sekarang sudah mulai, mulai melibatkan banyak itu (kampus dan atau laboratorium lainnya). Jayapura sudah bisa, Makassar sudah bisa, jadi tidak perlu kirim [ke] Jakarta lagi,” katanya.

Selain itu, Pandu juga menyarankan agar pemerintah mengajak para profesional atau petugas lab yang selama ini berkiprah di ranah swasta. Dia meyakini, dengan pelibatan yang massif, bisa membantu meningkatkan kapasitas pemeriksaan lab di Indonesia.

“Mungkin kita bisa rekrut petugas-petugas lab swasta untuk membantu ini. Pasti kalau diajak mau. Ini kan masalah bencana nasional,” ujarnya.

Aktivitas di lab Nusantics. Foto: Dok: East Ventures

Pemeriksaan dan pelacakan masif-agresif ditargetkan Presiden Jokowi hingga 10 ribu tes per hari. Pengujian secara cepat dibutuhkan untuk mendeteksi dini corona di Indonesia dan menekan angka kematian.

Lebih dari sepekan, pemeriksaan swab di Indonesia sudah mulai tembus 6 ribu - 7 ribu spesimen per hari. Namun, tiga hari belakangan, pemeriksaan mengalami penurunan di angka 4 ribu - 3 ribu spesimen.

Padahal, pemerintah telah mencoba mengaktifkan 89 laboratorium di berbagai daerah dan mendatangkan reagen dari Korsel. Mesin TB-TCM yang biasa digunakan untuk pemeriksaan TB juga telah dimodifikasi agar dapat mendeteksi corona, dengan mendatangkan 1.500 cartridge dari Amerika Serikat.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, mengatakan, untuk bisa menguji 10 ribu sampel per hari, maka lab harus beroperasi 24 jam. Namun, saat ini, petugas lab hanya bisa bekerja maksimal 8 jam per hari.

"Kalau kita tingkatkan kemampuan SDM lab dan dibantu IDI (Ikatan Dokter Indonesia), maka diharapkan bisa [aktif] 16 jam. Kalau sudah bisa 16 jam, berarti sudah bisa di atas 18 ribu karena reagen tersedia, komponen tes juga tersedia," tuturnya.

Per Senin, Indonesia baru memeriksa 116.861 spesimen dari 86.061 terkait corona melalui metode swab dahak atau polymerase chain reaction (PCR).

Jumlah spesimen yang diperiksa bertambah 3.896, masih jauh jika dibandingkan jumlah penduduk RI yang mencapai 267 juta jiwa. Pemeriksaan spesimen pada Senin bahkan menjadi yang terendah dalam sepekan terakhir.

Saat ini, jumlah penderita corona di RI mencapai 11.587 orang, 1.954 pasien sembuh dan 864 orang meninggal.

---

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.

Artikel Asli