Perusahaan Ritel Berusia 202 Tahun di AS Bangkrut karena Corona

kumparan Dipublikasikan 02.22, 11/07 • kumparanBISNIS
Suasana pertokoan yang sepi di San Francisco, California, AS, (19/3). Foto: REUTERS/Kate Munsch

Brooks Brothers, salah satu perusahaan ritel pakaian tertua di Amerika, dikabarkan telah mengajukan perlindungan kebangkrutan, baru-baru ini.

Dikutip dari BBC, Sabtu (11/7), perusahaan yang telah berusia sekitar 202 tahun tersebut, meminta perlindungan pengadilan dari para kreditur, selagi mereka tetap menjajal mencari pembeli.

Perusahaan pakaian pria ini diketahui telah menutup beberapa toko dan bersiap untuk menutup pabriknya di AS. Kondisi ini menjadikan Brooks Brothers bergabung dengan deretan ritel lainnya seperti J Crew, JC Penney, dan Neiman Marcus yang harus terancam bangkrut karena dampak pandemi virus corona.

Perusahaan tersebut berdiri sejak 1818 dan desain pakaiannya telah dipakai oleh puluhan presiden AS, termasuk John F Kennedy dan Barack Obama. Ritel ini mengoperasikan sekitar 500 toko di seluruh dunia, kira-kira setengahnya berada di AS, dan mempekerjakan lebih dari 4.000 orang.

Sejak 2001, Brooks Brothers dimiliki oleh pengusaha Italia, Claudio Del Vecchio, anggota keluarga pendiri merk Luxottica. Brooks Brothers juga sempat dimiliki oleh Marks & Spencer antara 1988 dan 2001.

com-Ilustrasi wanita sedang memilih pakaian. Foto: Shutterstock

Dalam perjalanannya Brooks Brothers harus berjuang menghadapi perkembangan zaman yaitu ketika pakaian kantor bukan lagi setelan jas, namun justru model kasual. Sedangkan Brooks Brothers memiliki gaya pakaian yang kental bernuansa Amerika klasik.

Brooks Brothers juga harus berjuang lebih keras ketika online shopping menjadi tren saat ini.

“Hambatan industri semakin buruk karena adanya pandemi,” kata Del Vecchio. “Mencari perlindungan untuk memfasilitasi penjualan bisnis yang efisien adalah langkah terbaik berikutnya bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya, daripada alternatif lain,” ujarnya.

Dalam pengajuan pengadilan, perusahaan menyatakan bahwa mereka memiliki aset dan kewajiban antara USD 500 juta dan USD 1 miliar.

Dalam sebuah wawancara Del Vecchio mengatakan perusahaan itu mengambil langkah-langkah untuk memastikan kelangsungan bisnisnya. Apalagi mereka ini juga mempekerjakan hampir 700 orang di pabrik di New York, Massachusetts dan North Carolina.

Selain itu, perusahaan telah mengatakan akan menutup 51 toko di Amerika Serikat. “Pada saat ini, semua sumber daya perlu dipertahankan dan disimpan untuk memastikan kita bisa keluar dari krisis ini," katanya.

Artikel Asli