Pertunjukkan Timun Mas Tampil dengan Konsep Virtual

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 00.46, 06/08 • Gilang Akbar Prambadi
Salah satu adegan dalam gelaran dongeng Timun Mas secara virtual.
Salah satu adegan dalam gelaran dongeng Timun Mas secara virtual.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 beserta pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) membuat banyak pertunjukan seni ditunda bahkan dibatalkan. Keadaan yang berlangsung relatif cukup lama ini mengakibatkan hilangnya panggung ruang kreasi bagi para pekerja seni.

Menurut Produser eksekutif #MusikaldiRumahAja Bayu Pontiagust dalam media gathering yang digelar secara virtual melalui aplikasi zoom pada Rabu (5/8), mengatakan, kondisi pandemi tanpa disadari membuat banyak hal yang ditakutkan selama ini menjadi kenyataan. Namun, menurut Bayu masyarakat dapat belajar beradaptasi dengan situasi baru tersebut. Menerima segala kekurangan sehingga bisa mengasah kembali kelebihan yang dimiliki.

"Musikal ini menjadi salah satu wadah bagi para pekerja seni untuk tetap berkarya meski dibatasi ruang dan pertemuan fisik. Namun hal ini justru mendorong kreativitas para pekerja seni dan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa," kata Bayu. 

Hal senada diungkapkan Mhyajo selaku sutradara dongeng Timun Mas. Menurut dia, dalam berkarya proses latihan yang dilakukan secara daring tentu bukan tanpa kendala. 

"Entah kenapa ketika saya mendapatkan tawaran dari Mas Bayu selaku produser eksekutif, saya langsung bersemangat. Hal itu ditandai dengan karya musikal tentang dongeng Indonesia dengan kemasan yang sangat baik," kata Mhyajo. 

Mhyajo mengatalan sebagai orang yang menggeluti seni panggung, dongeng Timun Mas secara virtual membuatnya menemukan keseruan dan merasakan adrenalin ketika berada di panggung. 

Hal inilah yang kemudian mendorong Indonesiakaya.com untuk menyajikan ruang kreasi virtual bagi para pekerja seni untuk menampilkan karyanya. Bekerja sama dengan Boow Live, Indonesiakaya.com mempersembahkan pertunjukan #MusikaldiRumahAja yang ditampilkan dalam format online. 

Selain #MusikaldiRumahAja, selama masa pandemi covid-19, Indonesiakaya.com telah menggelar berbagai kegiatan seni bertema #DiRumahAja seperti nonton teater di rumah aja, puisi di rumah aja, prosa di rumah aja, workshop online di rumah aja hingga birthday konser di rumah aja.

Dalam media gathering secara virtual melalui aplikasi zoom dengan sutradara, produser eksekutif serta para pemain dalam dongeng Timun Mas ada kisah tersendiri.

Dongeng negeri sendiri ini diadaptasi dalam balutan fantasi distopia. Ini sangat kental terlihat dalam visualnya yang apik. 

Hingga artikey ini ditayangkan jumlah penontonnya mencapai lebih dari 190 ribu. Ini dianggap sebuah pencapaian yang sangat baik untuk ‘golongan’ tontonan dengan kemasan non-mainstream seperti ini : genre fantasi dystopia, format vertikal dan semua pemeran tidak lepas dari tempat duduk putih.

Timun Mas berkisah tentang anak  yang lahir dari buah timun berwarna emas dan diasuh oleh seorang wanita bernama Mbok Srini. Namun sebenarnya ada perjanjian di balik itu. Konflik pun terjadi Ketika Mbok Srini tidak mematuhi kesepakatannya dengan raksasa sang pembuat sistrm

Tidak kalah seru sebenarnya adalah proses di balik pembuatan Timun Mas ini. Pertama, proses pengambilan yang dilakukan dengan tetap mempertimbangkan PSBB. Hampir semua pemeran tidak bertemu satu sama lain.

Kedua, proses latihan yang dilakukan secara daring tentu bukan tanpa kendala. Apalagi dengan pendekatan Mhyajo yang memang dikenal sangat total dalam berkarya. Bahkan Karina Salim, pemeran Timun Mas Besar 4371, mengakui bahwa proses latihan, terutama acting workshop merupakan satu fase yang berat.

Begitu juga dengan Tanayu pemeran Ratu Peri Hutan, yang menyatakan, seluruh proses Timun Mas ini adalah seperti sebuah langkah spiritual.

Namun dari proses yang penuh adaptasi ini justru lahir benih-benih cinta : cinta terhadap satu sama lain, cinta terhadap seni. Bagaimana Mhyajo dan Bona Palma, sang sutradara film, saling jatuh cinta dengan proyek ini.

Artikel Asli