Pertama Kalinya dalam 29 Tahun, Australia Mengalami Resesi

Kompas.com Dipublikasikan 00.26, 04/06 • Mutia Fauzia
SHUTTERSTOCK/LAUREN ORR
Panorama Sydney Opera House di kala matahari terbenam, (22/8/2010).

SYDNEY, KOMPAS.com - Australia menderita resesi pertama dalam tiga dekade lantaran negara tersebut terdampak pandemi virus corona (Covid-19).
Dikutip dari CNN, Kamis (4/6/2020) Biro Statistik Australia melaporkan perekonomian Australia terkoreksi atau tumbuh negatif 0,3 persen untuk kuartal pertama tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Bendahara Federal Josh Fydenberg pun menyatakan, PDB Negeri Kanguru itu bakal lebih tertekan pada periode April hingga Juni tahun ini, menandakan bakal ada pertumbuhan ekonomi negatif kedua untuk sepanjang tahun.

Baca juga: Australia Terancam Resesi, Apa Sebabnya?
Pembatasan sosial atau lockdown telah menyebabkan terhentinya perekonomian yang terus tumbuh dalam 29 tahun terakhir di Australia.
Meski mengalami resesi, Frydenberg juga mengatakan Australia telah terhindar dari nasib ekonomi sekaligus nasib kesehatan dari negara lain karena berbagai tindakan yang telah diambil, termasuk stimulus ekonomi.
Ekonom Capital Economics untuk Australia dan New Zealand Ben Udy mengatakan, perekonomian Australia bisa saja terkontraksi hingga 9 persen pada kuartal kedua tahun ini.
"PDB sudah mengalami tekanan sebelum adanya pembatasan akibat virus dan bakal tertekan lebih jauh di kuartal kedua sebelum akhirnya mulai meningkat secara bertahap pada semester kedua tahun ini," jelas dia.

Baca juga: Bangkrut karena Virus Corona, Utang Virgin Australia Rp 49,7 Triliun
Udy menjelaskan PDB yang tertekan pada kuartal pertama sebagian besar disebabkan oleh berkuangnya konsumsi untuk sektor jasa selama penduduk mulai melakukan pembatasan sosial.
Udy memerkirakan, setidaknya tingkat konsumsi akan menurun hingga 20 persen pada kuartal II tahun ini. Pasalnya, rumah tangga sudah mulai berhenti melakukan panic buying atas bahan-bahan makanan. Selain itu, pada kuartal II, pemerintah juga mulai menerapkan kebijakan pembatasan kegiatan ritel.

Penulis: Mutia FauziaEditor: Bambang P. Jatmiko

Artikel Asli