Pertama Kali dalam Sejarah, Surga Belanja Dunia Orchard Road Sepi

Kompas.com Dipublikasikan 05.54, 04/08 • Suhaiela Bahfein
Wei Leng Tay/Bloomberg
Pejalan kaki melintasi Orchard Road.

ParKOMPAS.com - Pusat perbelanjaan, restoran, dan ruang-ruang komersial lainnya di Orchard Road, Singapura, dilaporkan sepi.

Para pejalan kaki yang melintas di sepenggal jalan yang tersohor sebagai surga belanja dunia ini pun bisa dihitung dengan jari.

Kondisi ini demikian kontras dengan sebelum Pandemi Covid-19. Orchard Road selalu ramai. Pusat-pusat perbelanjaan sesak oleh para turis, dan restoran-restoran ramai para pengudap.

Sepinya Orchard Road dipicu penutupan sementara toko-toko dan ritek-ritel yang ada di pusat-pusat perbelanjaan.

Baca juga: Ini Bedanya Pasar Apartemen Mewah di Jakarta, Singapura, dan Hong Kong

Restoran asal Italia, Modesto, contohnya. Tempat makan yang berdiri sejak 23 tahun lalu ini untuk pertama kali menutup sementara operasinya.

Selain itu, toko ritel kenamaan dunia, Louis Vuitton dan Channel kehilangan pengunjung yang sebagian besar merupakan wisatawan asal China.

"Ini krisis terburuk bagi Singapura dan Orchard Road," terang pemilik salah satu toko jahit di Orchard Road Kiran Assodani seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (4/8/2020).

Semenjak Covid-19 mewabah, pusat perbelanjaan, toko, dan restoran yang ada di Orchard Road mengalami penurunan penjualan sebesar 90 persen.

Hal ini menyusul pemberlakukan pembatasan wilayah (lockdown) selama 2 bulan yang membuat para turis mancanegara tak bisa masuk-keluar negara tersebut.

Baca juga: Pemilik Mal Sulap Tempat Parkir Jadi Bioskop Drive-In

Akibat dari kebijakan tersebut, Singapura mengalami kemerosotan pendapatan dari wisatawan mancanegara sebesar 20 miliar dollar Singapura atau setara Rp 213 triliun.

Pengelola salah satu toko koper yang terletak di Far East Plaza Robert Chua mengatakan, dia bisa meraih pendapatan atas penjualan koper sebesar Rp 266 juta per bulan dalam kondisi normal.

Saat Covid-19 melanda negeri ini, Robert hanya meraih pendapatan rata-rata per bulan sebesar Rp 96 juta. Menurutnya, itu masih untung walau pun sangat kecil.

"Setiap hari, saya datang ke toko dengan perasaan sedih karena tampak sepi. Tapi, kami perlu membayar sewa per bulan," ujar Robert.

Pusat perbelanjaan lainnya, Ngee Ann City, juga mengalami hal serupa dengan banyaknya penutupan restoran Jepang dan pakaian linen khas India.

"Tidak pernah seburuk ini dan saya sudah bekerja di ritel sejak tahun 1994," kata Manajer Fray I.D (merek pakaian Jepang) Nana Sahamat.

"Orchard Road" yang dipandang sebagai surganya tempat berbelanja para wisatawan mancanegara setiap kali ke Singapura kini nampak sepi.

Namun, beberapa pengunjung lebih memilih untuk berbelanja di mal-mal pinggiran kota di Singapura dengan merek yang tak terlalu mahal seperti Uniqlo, Zara dan Topshop.

Mereka merasa tak perlu untuk menjelajahi Orchard Road karena dianggap menjual merek kelas atas dunia.

Penulis: Suhaiela BahfeinEditor: Hilda B Alexander

Artikel Asli