Persis Meme di Medsos, Ibu Ini Mengaku Suaminya Positif Covid-19 Biar Tak Ditagih Bank

Kompas.com Dipublikasikan 12.15, 08/04 • Kontributor Karawang, Farida Farhan
KOMPAS.COM/FARIDA
Petugas Call Center Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Karawang tengah menerima telepon pengaduan warga, Rabu (8/4/2020).

KARAWANG, KOMPAS.com - Seorang warga asal Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang mengaku keluarganya positif Covid-19 demi tak ditagih bank. Ini mirip meme-meme yang beredar di media sosial.

Cerita tersebut terkuak setelah pihak bank menelpon Call Center Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Karawang.

Azila Amas (26), petugas Call Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Karawang, menyebut petugas bank menghubungi warga tersebut bermaksud untuk menagih dan meminta izin datang ke rumahnya. Namun warga tersebut mengaku suaminya tengah positif Covid-19.

"Ya silahkan tapi bapak di luar aja, saya di dalem soalnya suami saya positif, gak boleh ada orang masuk," kata Azila menirukan pesan warga tersebut kepada petugas saat ditemui di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Makodim 0604 Karawang, Rabu (8/4/2020).

Mendapat jawaban tersebut, petugas bank meminta warga tersebut untuk mentransfer. Namun sang nasabah kembali berkelit tak bisa pergi ke ATM lantaran tidak diperkenankan bepergian.

Petugas bank kemudian menghubungi Call Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Karawang.

Ia menanyakan apakah saudara A, suami nasabahnya, positif Corona. Si petugas bank tersebut bahkan mneyarankan tim gugus tugas untuk menjemput pasien positif Corona tersebut.

"Setelah kami cek, tak ada nama tersebut dalam daftar orang yang dinyatakan positif Civid-19. Dia juga bukan ODP," katanya.

Azila pun tak menyangka hal tersebut terjadi. Ia mengira kilah seperti itu hanya ada dalam meme di media sosial.

"Persis seperti meme di medsos," katanya.

Banyak yang ingin rapid test

Azila Amas menyebut setiap hari sekitar 60 orang menghubungi call center gugus tugas. Namun belakangan jumlahnya berangsur turun.

"Banyak yang cemas. Mengaku batuk, mengalami gejala, dan ada merasa sebagai ODP (orang dalam pemantauan) namun setelah ditelusuri ternyata tidak ada kontak erat," ungkapnya.

Kecemasan tersebut, kata dia, juga menyebabkan warga yang menginginkan rapid test. Padahal, beberapa di antaranya tidak mempunyai kontak erat dengan yang positif atau telah bepergian ke daerah tertentu.

"Kita berikan pengertian pengertian rapid test tersebut," ujarnya.

Sebisa mungkin, kata Azila, ia dan relawan lain yang menjadi petugas call center gugus tugas memberikan menenangkan kepada warga yang menghubungi.

"Kami beri pengertian, kami tenangkan, sedikit becandain," kata dia.

Hingga Rabu (8/4/2020), jumlah kasus positif di Karawang sebanyak 39, dengan 37 dalam perawatan dan 2 meninggal.

Kemudian Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 61 orang dengan 33 orang dalam pangawasan, 27 orang selesai pengawasan, dan 1 meninggal.

Sementara jumlah ODP 2.240 orang, dengan 1.056 dalam pemantauan dan 1.184 selesai pemantauan.

Penulis: Kontributor Karawang, Farida Farhan

Editor: Aprillia Ika

Artikel Asli