Perbanas Soroti Aksi Akuisisi Bank Asing 5 Tahun Terakhir

CNN Indonesia Dipublikasikan 07.10, 18/10/2019 • CNN Indonesia

Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) menyoroti kegiatanbank asing yang banyak mengakuisisi perbankan lokal beberapa tahun terakhir. Setidaknya, ada tiga bank asing yang berhasil mencaplok bank di dalam negeri sejak 2017 lalu.

Sebut saja, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (MUFG) yang mengakuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Kemudian, Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) yang meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menjadi 92 persen.

Lalu, Industrial Bank of Korea (IBK) resmi menjadi pengendali PT Bank Agris Tbk (AGRS) dengan jumlah kepemilikan saham 95,79 persen pada awal tahun ini.

Ketua Perbanas Kartika Wirjoatmodjo mengatakan permasalahan utama bank di Indonesia adalah permodalan. Hal ini khususnya bagi bank-bank di luar kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV.

Sementara, perbankan yang masuk dalam kelompok BUKU IV seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai sudah memiliki permodalan yang cukup.

Kendati begitu, Tiko menganggap bank lokal tetap bisa bersaing dengan masuknya bank asing. Ia bilang, perbankan dapat memperluas jaringan ke nasabah kelas menengah dan menengah ke bawah.

"Kalau bank asing kan biasanya main di perkotaan dan mainnya di korporasi besar. Bank-bank lokal harus mampu bermain di level menengah. Kalau mainnya di level besar, lawan funding-nya Jepang kan berat," ucap Tiko.

Selain itu, perbankan juga harus fokus melakukan transformasi ke arah digital.

"Untuk bank-bank yang tidak punya jaringan luas, harus kerja sama dengan fintech atau ekosistem e-commerce," terang dia.

Di samping itu, Perbanas juga menyebut persoalan likuiditas menjadi tantangan dalam lima tahun terakhir. Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sebelumnya memprediksi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hanya 7,4 persen, sedangkan kredit diramalkan naik hingga 11,7 persen.

Ia berharap likuiditas nantinya bisa membaik di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua. Dengan kabinet kerja baru, Tiko optimistis likuiditas bisa lebih longgar.

"Optimisme muncul dan masuk capital inflow, harapannya likuiditas melonggar dan pertumbuhan bisa balik pertumbuhan kredit bisa kembali di atas 10 persen," pungkasnya.

Artikel Asli