Perang dagang dengan AS masih panas, cadangan devisa China amblas Rp 126 triliun

Kontan.co.id Dipublikasikan 00.51, 08/12/2019 • Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Cadangan devisa China turun US$ 9 miliar atau sekitar Rp 126 triliun (1 US$=Rp 14.000) pada November 2019 menjadi US$ 3,096 triliun. Penurunan cadangan devisa China yang melebihi proyeksi ini menunjukkan China tetap terkunci dalam negosiasi mengenai perjanjian perdagangan sementara dengan Amerika Serijat.

Analis yang disurvei Reuters memperkirakan cadangan devisa China akan turun US$ 4 miliar menjadi US$ 3,101 triliun pada November 2019.

*Baca Juga: Trump meminta Bank Dunia berhenti memberi pinjaman ke China *

Meskipun ekonomi Tiongkok melambat dan meningkatnya perang perdagangan AS-Cina, cadangan devisa China telah meningkat secara bertahap sejak akhir 2018. Cadangan devisa meningkat dibantu kontrol modal yang ketat dan meningkatnya arus masuk dari investor asing yang mengambil alih saham dan obligasi negara.

Perubahan sederhana dalam tingkat cadangan devisa China dalam beberapa bulan terakhir sebagian besar dianggap berasal dari fluktuasi nilai tukar global dan nilai aset yang dimiliki Tiongkok seperti obligasi luar negeri.

Setelah merosot tajam pada musim panas ini karena sengketa dagang yang tiba-tiba meningkat, yuan naik selama tiga bulan berturut-turut hingga November 2019 dengan harapan gencatan senjata perdagangan.

Namun yuan kembali meluncur lagi pada awal Desember 2019 ketika ketegangan antara Washington dan Beijing berkobar. Tarif baru impor AS untuk barang-barang Cgina akan mulai berlaku pada 15 Desember.

*Baca Juga: Diplomat top China ingatkan Pompeo agar AS berhenti mencampuri urusan domestik China *

Kurs yuan menguat 0,12% terhadap dolar pada bulan November 2019. Namun yuan China tetap masih melemah 2,3% sepanjang tahun ini.

Mengutip Reuters, dari total cadangan devisa China, nilai cadangan devisa emas negara itu turun menjadi US$ 91,47 miliar pada akhir November 2019 dari US$ 94,65 miliar pada akhir Oktober 2019.

Cina memegang 62,64 juta troy ons emas pada akhir November 2019, tidak berubah dari Oktober.

Pertumbuhan ekonomi China mendingin menjadi 6,0% pada kuartal ketiga, laju paling lambat dalam hampir 30 tahun terakhir. Namun banyak ekonom percaya ekonomi China akan melambat lebih jauh ke kisaran 5% pada tahun 2020.

*Baca Juga: Akibat perang dagang, Moody's pangkas outlook bank global jadi negatif *

Namun, para analis mencatat arus keluar modal lebih rendah dibandingkan dengan penurunan ekonomi terakhir pada 2015-2016, ketika China menggelontorkan sekitar US$ 1 triliun cadangan devisa ke pasar untuk mendukung yuan.

Bank sentral China telah mulai secara perlahan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan terakhir, dan diperkirakan akan lebih banyak menggunting suku bunga di kuartal mendatang untuk mencegah perlambatan ekonomi yang lebih tajam.

*Baca Juga: China menghapus tarif impor kedelai dan daging babi AS *

Tetapi analis percaya bahwa pemotongan bunga tersebut kemungkinan akan lebih bertahap dan lebih kecil dari pada tahun 2015. Jika demikian, pergerakan yuan cenderung lebih dipengaruhi oleh perkembangan perdagangan daripada pelonggaran kebijakan.

Artikel Asli