Penyakit Autoimun yang Dialami Ashanty Juga Banyak Menyerang Perempuan

kumparan Dipublikasikan 02.21, 22/10/2019 • Masajeng Rahmiasri
Penyanyi Ashanty Foto: Munady Widjaja

Belum lama ini, penyanyi asal Indonesia, Ashanty, didiagnosis menderita autoimun. Pelantun lagu ‘Cinta Surga’ ini mengaku tak sengaja mengetahui mengidap penyakit tersebut, saat ia menemani suaminya, Anang Hermansyah, check up di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Dalam sebuah postingan Instagram, Ashanty mengaku begitu terkejut karena tak menyangka akan terkena penyakit itu.

“Kaget banget karena saya terkena autoimun, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Mendengarnya saja seram. Googling pun hasilnya ngeri banget,” tulisnya dalam caption postingan itu.

Beruntung, Ashanty ternyata masih berada dalam tahapan awal autoimun. Sehingga, tim dokter bisa segera melakukan penanganan dan mencegah terjadinya komplikasi. Ashanty juga diketahui sudah mulai menjalani langkah-langkah terapi, seperti menjaga pola makan, menggunakan obat tradisional, juga berusaha untuk tidak stres.

Pada dasarnya, autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan menyerang sel-sel yang ada dalam tubuh, alih-alih menyerang kuman atau penyakit. Kondisi ini banyak ditemukan pada perempuan, termasuk Ashanty dan selebriti lain, seperti Cici Panda dan Qory Sandioriva.

Penyanyi Ashanty. Foto: Ronny

Dalam penelitian berjudul 'Women and Autoimmune Disease' yang dipublikasikan di situs National Center for Biotechnology Information (NCBI) AS, disebutkan bahwa autoimun lebih banyak menyerang perempuan daripada laki-laki. Studi ini mengklaim, penyakit itu menyerang 8 persen populasi masyarakat. Sementara, 78 persen dari 8 persen itu berkelamin perempuan. Sementara, penelitian dari Sahlgrenska Academy, University of Gothenburg, Swedia, mengatakan, sembilan dari 10 pasien lupus--salah satu jenis penyakit autoimun--adalah perempuan.

Hingga hari ini, belum diketahui penyebab di balik tingginya angka autoimun pada perempuan. Namun, menurut penelitian dari University of Gothenburg, hal ini ada hubungannya dengan jumlah hormon testosteron pada tiap jenis kelamin. Hormon ini berperan dalam mengurangi sel tipe B--sejenis limfosit (bagian dari sel darah putih) yang mengeluarkan antibodi berbahaya dan berhubungan dengan penyakit autoimun. Sementara, testosteron lebih banyak terdapat dalam tubuh laki-laki daripada perempuan. Sehingga, penelitian itu menyimpulkan bahwa laki-laki pun cenderung lebih aman dari penyakit autoimun, bila dibandingkan dengan perempuan.

Faktor lingkungan dan gaya hidup bisa mempengaruhi terjadinya autoimun. Foto: Shutterstock

Namun, perlu digarisbawahi, hingga kini belum diketahui penyebab dari terjadinya kondisi autoimun. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp. PD-KAI, spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan alergi dan imunologi mengatakan, faktor lingkungan dan gaya hidup dapat memicu terjadinya penyakit tersebut.

"Faktor lingkungan, pola makan yang tidak sehat, stres, sampai intensitas bekerja yang berlebihan juga dapat menyebabkan munculnya autoimun pada individu yang rentan," ungkap dr. Iris dalam pernyataan yang diterima kumparanWOMAN.

Gejala penyakit ini pun dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung dari organ yang diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Bila menyerang darah, maka penderitanya bisa merasakan anemia dan letih. Bila terkena di bagian sendi, maka seseorang bisa mengalami nyeri dan bengkak pada sendi. Sementara, bila menyerang ginjal, penyakit ini dapat menimbulkan kebocoran, yang berujung pada gagal ginjal kronis atau penurunan fungsi ginjal.

Dr. Iris juga menjelaskan, ada sekitar 100 jenis penyakit autoimun di dunia ini. Misalnya, penyakit yang berbentuk lupus, reumatoid artritis, hingga skleroderma. Selain itu, ada beberapa jenis penyakit autoimun yang umum menyerang perempuan. Di antaranya, lupus eritematosus yang bisa menjangkit berbagai organ, juga reumatoid artritis yang menyebabkan nyeri dan bengkak pada sendi.

Penderita autoimun tetap bisa menjalani aktivitas normal, selama berkomitmen menjalani perawatan. Foto: Shutterstock

Sementara, autoimun sendiri diketahui sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan, layaknya hipertensi dan juga diabetes. Meski begitu, penderita penyakit ini tetap bisa menjalani aktivitas normal, selama berkomitmen menjalani perawatan. Misal, dengan mengonsumsi obat secara teratur, menjaga pola makan, dan berolahraga secara cukup.

"Penyakit ini dapat dikontrol dengan baik, sehingga penderita autoimun tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari, layaknya orang normal yang sehat," ungkap dr. Iris.

Dokter yang membuka praktik di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan ini juga menjelaskan bahwa penyakit autoimun sebenarnya tidak berbahaya, bila dikontrol dengan baik. Namun, penderita autoimun tetap harus waspada, agar penyakit itu tidak kambuh maupun menimbulkan komplikasi. Salah satu contoh komplikasi autoimun, misalnya pada lupus, adalah kerusakan otak, kejang, hingga penurunan kesadaran. Sementara, bila menyerang jantung, autoimun dapat menyebabkan gangguan pada fungsi pompa jantung.

Sehingga, penderita harus benar-benar berhati-hati dalam menjaga pola hidup dan menjalani perawatannya.

Artikel Asli